Processed with VSCOcam with g3 preset

Beberapa hari yang lalu, negara menyelamatkan saya dari perilaku korup. Menyenangkan di akhir cerita karena ada pelajaran manis yang bisa dicatat sekaligus dibagi ke orang yang lebih banyak. Kasusnya: Bayar pajak kendaraan dan bikin paspor baru.

Saya mungkin tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan dalam hal berperilaku dalam urusan dengan kantor pemerintahan; masih percaya bahwa selalu perlu jalan belakang untuk membuat sejumlah urusan birokrasi cepat kelar. Kebutuhan untuk cepat kelar muncul karena memang kesibukan tidak memberi ruang untuk banyak berurusan dengan sistem birokrasi Indonesia yang lelet dan terlalu banyak pintu.

Birokrasi Indonesia, berdasarkan pengalaman, membuat kita cenderung jadi orang yang defensif. Saya masih ingat betapa naik pitamnya saya ketika tidak diperkenankan untuk mengambil gambar untuk E-KTP karena hanya menggunakan kaos. Padahal, di surat undangan hanya ditulis “Menggunakan pakaian rapi”.

Kaos ternyata bukan pakaian rapi menurut pemerintah. Kenapa tidak ditulis saja “Dilarang menggunakan kaos”. Jelas. Tidak menimbulkan persepsi bersayap. Tidak bertele-tele.

Karena traumatis, saya cenderung pasang kuda-kuda darah tinggi kalau berurusan dengan pemerintahan. Tapi, di sisi lain ingin cepat beres. Harus diakui, bahwa itu perilaku yang salah. Saya mengakuinya.

Ada banyak wajah yang telah diubah oleh pemerintah beberapa tahun terakhir. Ada hal mendasar yang diganti pola pikirnya; kalau ingin memberikan uang ke pemerintah, maka dimudahkan jalannya.

Mereka mencoba mengubah paradigma. Ala pebisnis. Karena memang harusnya seperti itu. Urusan pajak harusnya dibuat mudah. Masa mau memberikan uang masih harus dipersulit lagi?

Saya harus mengurus pajak mobil. Karena tidak tahu prosedur, saya bertanya kiri-kanan. Orang di sekitar mengenalkan pada sejumlah calo yang pernah mereka gunakan. Katanya, uang jasanya tidak mahal. Ganjarannya tidak perlu menunggu lama.

Setelah berkomunikasi, saya janjian dengan salah seorang calo. Celakanya, lokasinya ada di Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur. Membuat saya harus berangkat lebih awal. Singkat cerita, saya bertemu muka dengan seorang calo yang mau membantu.

“Pak, bapak coba cek fisik dulu. Saya tunggu di sini ya,” ujarnya. Jadilah saya meluncur ke sisi cek fisik di bagian lain kantor itu. Setelah memindahkan kendaraan, ternyata antriannya hanya dua mobil. Tidak banyak. Total menunggu hanya dua menit. Mengerjakannya lumayan lama, sekitar lima menit. Karena petugasnya harus menggesek nomor rangka mesin saya yang terlalu kotor karena mobilnya sudah lama tidak dicuci.

Tiba-tiba ponsel berdering. “Pak, saya nggak bisa bantu hari ini. Ada razia. Maaf ya, barusan dikasih tahu. Jadinya saya pulang lagi nih. Kalau mau siangan saja, pak,” ujar si calo. Oh, lupa bilang, calo yang saya gunakan penampakannya sama sekali tidak stereotip; ibu-ibu berjilbab, tampang ibu rumah tangga yang bisa masak sayur asem enak dan tampak sangat santun.

Saya mendadak bingung. Refleks, saya langsung bertanya proses selanjutnya pada petugas cek fisik. Dia bilang, prosesnya mudah kalau dijalankan sendiri. Ikuti petunjuk darinya dan beres. Tapi, dia meminta tip, “Ya Rp.10.000,00, pak,” ujarnya sembari menyerahkan hasil cek fisik saya. Padahal di seberang ditulis besar-besar bahwa pemeriksaan ini tidak kena biaya tambahan dan sudah termasuk di dalam biaya yang dibayarkan di dalam nanti.

Petugas itu benar. Selanjutnya langkah-langkahnya jadi seperti buku teks; mudah ditebak. Setelah cek fisik, saya masuk ke loket di dalam gedung untuk menyelesaikan tahapan-tahapan berikutnya. Cek fisik harus dilakukan karena kebetulan saya mengganti plat nomor tahun ini. Kalau tidak ganti plat nomor, ya tidak perlu cek fisik.

IMG_6554

Pemerintah, dalam hal ini Dispenda, masih menyimpan sedikit romantika masa lalu. Mereka masih bodoh untuk urusan menyusun informasi urutan proses yang harus dilakukan. Atau pura-pura bodoh? Entahlah. Yang jelas, alurnya tergambar dengan rumit di papan informasi yang mereka punya di lobi gedung pelayanan satu atap itu.

Tapi saya buat mudah dengan pointers di sini. Ini tahapan standar bayar pajak mobil:
1. Cek fisik (hanya kalau ganti plat, antrian maksimal tiga mobil di depan)
2. Ke lobi pendaftaran, seluruh persyaratan harus dibawa, siapkan juga kopinya
3. Tunggu dipanggil di lobi pendaftaran untuk klarifikasi dokumen
4. Tunggu dipanggil lagi untuk diberikan kuitansi pajak yang harus dibayar
5. Antri di loket pembayaran
6. Tunggu bukti bayar
7. Kalau ganti plat, bawa bukti bayar ke tempat ambil plat
8. Tunggu plat jadi

Seluruh proses ini totalnya makan waktu sekitar satu jam. Tidak lebih. Itu juga kalau ada poin nomor delapan. Kalau tidak perlu ganti plat, bisa lebih cepat. Anda tidak perlu calo, bukan?

Tapi, namanya berurusan dengan pegawai negeri, mereka agak saklek untuk urusan jam kerja. Usahakan datang di waktu normal di mana jam istirahatnya tidak panjang. Kalau ketemu Jumat yang jam istirahatnya kelewatan lama atau Sabtu yang jam kerjanya pendek, lebih baik datang sepagi mungkin. Pelayanan dimulai pukul delapan pagi. Tepat.

Oh ya, semua kebutuhan juga tersedia di sana. Kalau perlu fotokopi, ada kedainya. Harganya terjangkau. Kalau mobil bukan atas nama sendiri dan perlu surat kuasa, ada yang menjual blangko kosong bermaterai yang tinggal kita isi dengan nama dan berbagai macam keterangan lainnya.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Pengalaman kedua adalah mengurus paspor. Waktu itu, saya harus pergi ke Singapura menyaksikan salah satu band favorit saya, Belle and Sebastian, bermain. Paspor saya habis halamannya semenjak perjalanan terakhir bulan November 2014 yang lalu. Jadi, mau tidak mau harus membuat paspor baru.

Saya punya kecenderungan buruk menunda-nunda sebuah pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan lebih awal. Karena punya pengalaman buruk sewaktu mengurus paspor di Depok tahun 2010 lalu, saya juga cenderung agak malas mengurusnya. Sampai waktunya tiba, mau tidak mau, dokumen itu harus saya urus.

“Coba online saja, Lix,” kata seorang kawan di kantor yang merespon kebingungan saya akan harga paspor di calo yang bisa tiga kali libat dari seharusnya. Memang, bisa selesai cepat. Tapi akhirnya saya mencoba sistem online.

IMG_6822

Lewat sejumlah penelusuran, sistem online ini praktis. Tapi sayang, halaman situsnya butut. Jadi, kadang error. Itu yang membuat saya harus mencoba beberapa kali untuk melakukan pendaftaran. Untung saja, ujung-ujungnya bisa.

Caranya mudah, tapi sekali lagi, masih agak ribet. Saya kasih pointers lagi ya?

Cara urus paspor online:
1. Daftar di web Imigrasi Indonesia
2. Isi seluruh kolom dan tentukan mau buat paspor di kantor mana
3. Setelah daftar, akan dikirimin kuitansi ke email
4. Kuitansi harus dicetak, pembayaran harus dilakukan di teller di kantor BNI
5. Kuitansi dari BNI harus disubmit sebagai verifikasi web imigrasi
6. Lalu kita bisa menentukan hari apa datang ke kantor imigrasi untuk foto
7. Di hari yang sudah ditentukan, silakan antri di loket khusus
8. Tunggu dipanggil, sementara siapkan seluruh berkas yang diperlukan
9. Ambil foto dan wawancara singkat, kalau beruntung fotonya bisa diulang
10. Dapat tanda terima untuk mengambil paspor tiga hari kerja setelahnya
11. Selepas tiga hari kerja, paspor siap diambil dan bisa langsung digunakan

Kalau dibandingkan dengan bayar pajak mobil, ini lumayan banyak dedikasi waktunya. Apalagi kalau tidak ada kantor BNI di dekat tempat kita beraktivitas. Biasalah, inginnya punya layanan online saja, tapi tidak berpikir panjang untuk mempermudah orang yang notabene adalah pelanggan. Bikin paspor itu langganan kok. Plus, sekarang kan pembayaran online juga sudah bejibun. Tapi, yah, namanya juga pemerintah. Ada sistem online saja kita sudah harusnya bersyukur minta ampun.

Total, paspor online bisa selesai dalam waktu lima hari kerja. Tergantung kantor mana yang dipilih. Karena, beberapa cabang kantor imigrasi punya kepadatan yang lumayan banyak. Sebenarnya, tidak perlu datang pagi-pagi. Mereka melayani pendaftaran dan foto sampai dengan pukul 14.00. Take it easy aja. Datang pukul sembilan juga ok kok.

Dua kasus ini membuat saya berhutang pada negara. Mereka menyelamatkan saya dari sebuah lingkaran setan korupsi. Saya berusaha keras untuk setidaknya, ada hanya di satu sisi; pemberi, bukan penerima sogokan. Saya sadar bahwa satu hari nanti, semuanya harus hilang tanpa bekas. Kita sedang berproses dan mari menikmatinya.

Kalau ada teman mau buat dua dokumen ini, saya jelas langsung menganjurkan mereka untuk membuat langsung ketimbang menggunakan jasa calo. Sudah enak kok. Dan tidak perlu waktu lama kan? Yang bayar pajak mobil malah bisa dilakukan di banyak gerai pop-up yang dimiliki oleh Dispenda.

Senang jadi orang Indonesia. Senang, karena diselamatkan oleh negara. Indonesia, sedang berjalan ke arah yang lebih baik. Selamat mengambil bagian. (pelukislangit)

Kantor Cengkareng – 9 Februari 2015
Rumah Benhil – 21 Februari 2015
Untuk Indonesia

IMG_6692

Salah perhitungan, efeknya bisa panjang.
Ini terjadi kemarin, 9 Februari 2015.
Terjebak di Daan Mogot.
Jalanan tidak bergerak.
Total.
Bensin tinggal satu setrip.
Saya memilih untuk menepi.
Lalu, jalan-jalan melihat kondisi sekarang.
Ngobrol dengan sejumlah pemuda setempat yang menjaga gang mereka yang tergenang.
Atau duduk di lantai pom bensin karena letih jalan-jalan.
Ujungnya, tertidur satu jam di dalam mobil.
Jakarta, bisa jahat.
Semuanya, gara-gara salah belok.
Akhirnya, pulang dengan jalur melawan arah yang direstui oleh polisi.
Empat jam setengah.
Dua puluh sembilan kilometer.
Semuanya, gara-gara salah belok.
(pelukislangit)

Kantor Cengkareng
10 Februari 2015
16.16

IMG_6698

IMG_6699

IMG_6700

IMG_6703

IMG_6704

IMG_6705

IMG_6706

IMG_6714

IMG_6715

IMG_6719

Menjelang akhir pekan kemarin, saya menemukan sebuah harta karun lama. Tidak spesial secara fisik, karena bukan barang langka, tapi yang ini punya arti mendalam.

Delapan belas tahun yang lalu, saya berkenalan dengan album ini. Sebuah album rock self titled milik band bernama Koil. Album itu, berkontribusi membentuk selera musik saya yang sekarang ini ada. Ekstase yang dihasilkannya sungguhlah besar.

Koil - Satria Ramadhan
Koil 2015, dari kiri searah jarum jam; Donnijantoro – Leo Ray Legoh – JA Verdijantoro – Vladvamp.

Di kemudian hari, Koil dikenal sebagai salah satu eksponen paling depan rock Indonesia. Dalam interval waktu yang delapan belas tahun itu, mereka kemudian merilis dua album penuh lainnya, Megaloblast dan Black Light Shines On.

Saya juga di sepanjang perjalanan waktu, menulis banyak artikel tentang Koil.

Beberapa di antaranya ada di bawah ini:

http://thejakartapost.com/news/2012/10/28/rough-cut-koil-goes-acoustic.html

http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/23/two-diehard-fans-make-a-loving-tribute039.html

http://terbakarjuga.blogspot.com/2012/09/koil-pelajaran-pemberontakan-norma.html

http://lorongzine.blogspot.com/2013/11/belajar-lagi-dari-koil.html

Hubungan saya dengan musik mereka terbukti selaras seiring perjalanan tersebut. Koneksi itulah yang kemudian memanggil saya untuk mendengarkan lagi debut album penuh itu. Diawali dengan lagu favorit sepanjang masa berjudul Lagu Hujan yang romantis itu.

Dari proses mencari di internet, saya menemukan halaman Soundcloud milik JA Verdijantoro, frontman Koil. Ia mengunggah seluruh materi debut album Koil di halaman itu.

Bisa dicek di sini:

Tentu saja, bisa dicuri lagu-lagunya. Silakan gunakan Google untuk mencari situs yang bisa menyedot konten dari internet. Setelah disedot, segera dipindahkan ke ponsel untuk selalu didengarkan di mana-mana.

Saya tahu, untuk diri saya sendiri, album ini benar-benar punya pengaruh. Efek yang ditimbulkannya masih sama seperti ketika saya mendengarnya pertama kali di tahun 1996 itu. Padahal, usia sudah merambat naik dan berbagai kondisi sudah berbeda. Rupanya, memang benar kata-kata yang bilang bahwa beberapa hal baik tinggal di dalam diri kita sepanjang hayat. Album Koil ini salah satunya di dalam kasus saya.

Mendengarkan Lorong yang mengawang, teriakan di lagu Burung Hantu atau Dengekeun Aing serta penutup manis berjudul Karam masih menyisakan kesenangan yang sama.

Halaman ini ditulis untuk merekam kesenangan itu. Kalau ada waktu, silakan coba untuk menyedot album ini di link di atas. Lalu, bisalah kita sedikit berbagi. (pelukislangit)

Rumah Benhil
8 Februari 2015 – 19.27
Foto di halaman ini diambil tahun 2012 oleh Satria Ramadhan

*) Ini bonus, single paling kini Koil bersama /rif. Judulnya Party, Party, Party. Sekedar menambah gambaran bagaimana kondisi mereka belakangan ini.

Bonita & the HUSband - Be Nice to Each Other Tour 2015

Menyenangkan mengetahui bahwa sebuah upaya untuk menikmati kembali kultur tur muncul lagi di scene musik independen lokal. Pelakunya adalah Bonita & the HUSband. Mereka baru merilis debut album penuh beberapa bulan yang lalu. Judulnya Small Miracles.

Tanpa banyak ba-bi-bu, hari ini mulai seliweran e-flyers rangkaian tur mereka keliling Jakarta. Tempat-tempat kecil yang akan mereka kunjungi menjanjikan rangkaian pertunjukan yang hangat, khas tempat kecil tapi berenergi besar. Dan, itu akan dilakukan berkali-kali.

Berikut tour datesnya:
04/2 – Kedai Tjikini, Cikini, Jakarta Pusat
06/2 – Tapas de Espana, Central Park, Jakarta Barat
12/2 – Earhouse, Pamulang, Tangerang Selatan
20/2 – Ruangrupa, Tebet, Jakarta Selatan
22/2 – Teras Kota, Bumi Serpong Damai, Tangerang
27/2 – Substore, Pasar Santa, Jakarta Selatan
28/2 – Carburator Springs, Bintaro, Jakarta Selatan

Kultur tur, adalah sesuatu yang sudah lama absen dari kebudayaan bermusik kita. Terakhir, yang bisa melakukan ini adalah Begundal Lowokwaru yang keliling secara sporadis ke sejumlah kota mempromosikan album baru mereka.

Memainkan pertunjukan dengan spartan dalam satu balutan konsep yang sama, selalu menarik untuk diikuti. Di luar sana, yang model begini berserakan di mana-mana, baik dalam skala kecil seperti ini atau yang level stadion sekalian.

Semoga ini mengawali bola untuk bergulir dengan lebih spartan. Ini jelas bukan yang pertama, tapi ini bisa menginspirasi orang lebih banyak untuk membuat konsep tur sesering mungkin. Tidak perlu jauh-jauh bermimpi, bisa dimulai dengan keliling kota sendiri. Toh, Jakarta itu luasnya minta ampun.

Selamat menjalani turnya, Bonita & the HUSband! Tuhan berkati. Sampai jumpa di beberapa panggung. Semoga di tengah-tengah rangkaian ini bisa mencuri waktu untuk sebuah wawancara baru di udara. (pelukislangit)

2 Februari 2015
Kota Tangerang

IMG_0667

*) Tulisan ini ditulis tahun 2006. Dipost ulang untuk mengingat sebuah memori lama tentang perpisahan yang pernah singgah di tubuh Pure Saturday. Iyo, pada kenyataannya tidak pernah meninggalkan band ini. Sekarang, pada saat tulisan ini dipost kembali, Udhi dan Adhi menyatakan berpisah dengan Pure Saturday. Patah hati. Selamat membaca.

Sembilan belas lagu, aura sedih, performa yang begitu menyenangkan, dua vokalis bermain bersama entah untuk kali keberapa, dan sang legenda menutup satu era musikal mereka.

Belakangan ini, Bandung punya hujan yang tidak pernah mau memberikan kompromi. Hari itu, Sabtu, 23 Desember 2006, salah satu legenda scene independen Indonesia, Pure Saturday, memainkan set terakhir mereka bersama dengan Satria Nur Bambang, vokalis mereka. Satria Nur Bambang, biasa dipanggil Iyo, mengundurkan diri dari Pure Saturday.

Ketika dirilis untuk orang banyak, berita ini memang sangat mengejutkan. Dari segi luaran, band ini hampir tidak punya konflik berarti yang bisa dicium oleh orang luar. Seolah mereka adem ayem saja. Frekuensi bermain pun tidak kurang. Semuanya normal. Tapi, band itu merilis sebuah berita mengejutkan: Iyo mengundurkan diri dari band itu. Mereka membuka pintu seluasnya untuk mengaudisi vokalis baru untuk mengantikannya.

Umur Iyo, sebagai vokalis, bersama band ini tidak panjang. Kurang lebih hanya dua tahun. Dan ia menggarap album terakhir Pure Saturday, Elora, sebagai album pertama sekaligus terakhirnya bersama dengan band ini.

Pada awal kemunculannya, Iyo memang menuai banyak cercaan. Karena sebenarnya, secara obyektif, ia tidak punya modal yang cukup secara skill untuk menjadi personil Pure Saturday. Ia tidak bisa bernyanyi dengan mantap dan ia tidak bisa bermain gitar. Ditambah lagi personanya yang lebih dulu dikenal sebagai pemain bas kelompok rock ugal-ugalan Teenage Death Star. Modalnya hanya cinta tulus akan band ini. Pure Saturday pada waktu itu sedang dilanda kebingungan mencari vokalis setelah vokalis lama, Suar Nasution, mengundurkan diri.

Itu tercermin dari beberapa pertunjukan awal Pure Saturday bersama Iyo. Beberapa set berakhir dengan kekecewaan. Karena Iyo tidak bisa menggantikan Suar Nasution dengan maksimal. Tapi, kontroversi pasti selalu menemukan akhir. Cinta orang akan Pure Saturday ternyata lebih besar. Tekanan pun berlalu begitu saja. Orang mulai menerima bahwa Pure Saturday yang hari ini memasukan Iyo di dalam, sebagai vokalis.

Satu tahun terakhir, band ini melenggang mulus dengan figur baru Iyo sebagai vokalis. Ditambah lagi, dalam beberapa penampilan spesial, Suar Nasution ikut naik panggung. Dan Pure Saturday, tetap menyandang status mereka sebagai legenda hidup dengan selalu memainkan set panjang ketika bermain di acara komunitas mereka. Harus disadari dengan besar hati bahwa set panjang itu memerlukan ketahanan fisik yang luar biasa hebat. Dan seorang vokalis band yang berani memainkan set panjang, adalah seorang vokalis band yang luar biasa hebat. Kalau dikorelasikan dengan status Iyo, berarti ia punya pemahaman maksimal tentang posisinya sebagai vokalis baru Pure Saturday yang dicerca orang karena tidak dapat menggantikan kharisma Suar Nasution yang begitu besar.

Memang adalah sebuah kesalahan membandingkan vokalis lama dengan vokalis baru. Bagaimanapun juga, itu sebuah era yang lain. Iyo memulai sebuah era baru bersama dengan Pure Saturday. Dengan pemahaman dasar bahwa band ini harus terus bermain dan tidak boleh mati begitu saja kendati vokalis aslinya mengundurkan diri.

Itu yang banyak tidak disadari orang yang berebut meletakan cercaan mereka pada Iyo dan Pure Saturday. Itu kesalahan mereka.

Sampai akhirnya Iyo mengundurkan diri, band ini terus harus berjalan. Adalah tidak bijak menahan kepergiannya. Toh, ia juga punya cerita lain yang harus dilanjutkan. Iyo pergi meninggalkan singgasananya. Apapun sebabnya, itu adalah masa lalu, Pure Saturday menutup satu lagi bagian kisah panjang mereka.
***

Tiket pertunjukan sudah habis terjual pukul 19.00. Banyak yang hanya bisa duduk terdiam mendapati mereka tidak bisa masuk ke Auditorium CCF, Bandung. Tempat pertunjukan diselenggarakan. Sebenarnya ini bukan acara khusus untuk Pure Saturday.

Mengenai tiket pertunjukan, sebenarnya ini sudah merupakan budaya yang harus dirubah. Penonton yang punya niat untuk datang ke sebuah pertunjukan sudah saatnya punya rencana sejak jauh-jauh hari dengan membeli tiket pre-sale. Jadi, ketika datang ke venue, sudah tidak perlu mencari tiket lagi. Hanya tinggal punya tugas untuk mengantri masuk. Jika tidak mempersiapkan, ya siap-siap untuk kecewa.

Tajuk acaranya sendiri adalah Les Voila: Final Edition. Line up bandnya: Rock N’ Roll Mafia, Homogenic, Zeke and the Popo, The Milo, dan Pure Saturday. Cherry Bombshell batal bermain karena vokalis mereka harus bersiap untuk melakukan persalinan. Mendadak memang. Tapi, mau bagaimana lagi.

Bisa ditebak, Pure Saturday akan menutup acara ini. Sebelumnya, Pure Saturday sempat bermain dengan Suar Nasution sebagai vokalis utama mereka di launching film 6:30 beberapa waktu yang lalu. Syukur, mereka menjadikan panggung Les Voila ini sebagai panggung terakhir mereka bersama Iyo. Pertunjukan dimulai. Beberapa orang anggota rombongan Pure Saturday sudah datang ke venue. Tapi tidak tampak batang hidup Iyo.

“Mungkin ia datang belakangan,”ujar saya dalam hati. Jujur saja, pertunjukan terakhir Pure Saturday bersama dengan Iyo tidak pantas untuk dilewatkan. Karena ini sejarah.

Bagaimanapun juga Iyo sudah mewarnai perjalanan Pure Saturday. Ia yang memberikan darah segar ketika band ini hampir berhenti. Satu demi satu penampil unjuk gigi. Diawali dengan Rock N’ Roll Mafia yang akan merilis album kedua mereka dalam waktu dekat. Lalu Homogenic yang membawa dua orang penari. Zeke and the Popo dengan set bising mereka. Serta terakhir The Milo yang membawa naik Widi bekas vokalis Cherry Bombshell, sekarang ada di sebuah band bernama Lass- untuk bernyanyi di sebuah lagu baru. Mereka juga memainkan banyak materi dari album kedua mereka yang tidak kunjung dirilis. Sisanya, ya Pure Saturday.

“Semoga mereka main set panjang malam ini,” ujar saya lagi, berharap. Perlu diketahui, selama dua tahun penyelenggaraannya, Les Voila hampir selalu selesai tepat waktu, pukul 23.00. Ini karena kebijakan CCF yang memang ikut serta memfasilitasi acara ini.

Pada saat itu, waktu menujukan pukul 22.30. Saya berharap terus di dalam hati, jangan sampai Pure Saturday hanya memainkan set sepanjang tiga puluh menit atau maksimal empat puluh lima menit. Karena malam ini seharusnya spesial.

Satu demi satu kru panggung mereka naik ke atas panggung. Menyetel satu demi satu alat yang akan dimainkan. Begitu MC menyebutkan nama band ini, penonton merapat. Saya ada di bibir panggung bersama sejumlah teman.

Satu demi satu personil band ini naik ke panggung. Termasuk Iyo.

“Halo. Selamat malam. Malam ini ini kita akan main banyak lagu,” Iyo membuka pembicaraan. Di depan mata saya, ada sebuah kardus yang dijadikan setlist mereka malam itu. Saya mengintipnya. Benar, banyak sekali deretan lagu di setlist itu. Berarti saya tidak akan kecewa. Mereka akan memainkan banyak lagu malam itu. Semoga saja tidak dihentikan karena keterbatasan waktu. Semoga pula orang CCF mengerti bahwa salah satu band besar dari scene independen lokal sedang mengakhiri satu era musikal mereka dengan elegan.
***

Iyo seperti memainkan set biasa malam itu. Tidak ada guratan emosi kehilangan yang ketara di wajahnya. Begitu juga personil lainnya. Mereka memainkan sebuah pertunjukan spesial yang tidak terlalu spesial, sepertinya.

Beberapa kali ia bicara bahwa kepergiannya dari band ini bukan merupakan sebuah perpisahan, karena ia sudah menjadi keluarga besar band ini. Sama seperti penggemar-penggemar mereka.

Dari pinggir panggung, terlihat lebih spesial lagi. Rami, anak Iyo duduk di pangkuan Adan, kepala kru panggung Pure Saturday. Sepertinya ia ingin menikmati pertunjukan terakhir ayahnya bersama band ini. Tapi ia tidak lama duduk di sana.

Pada lagu keempat, Iyo mempersembahkan lagu itu kepada anaknya. “Ini lagu Pure Saturday kesukaan anak gue, Tutur Gelap,” ujarnya sembari menengok ke arah kanan panggung tempat anaknya duduk. Sayang Rami sudah tidak ada di sana. Entah kemana.
Testimoni pun meluncur deras dari mulut Iyo malam itu.

“Di kanan gue, yang main gitar, namanya Arief. Ini orang paling lucu yang ada di Pure Saturday. Dia selalu keluar dengan lelucon bagus ketika kita lagi di jalan,” sembari melihat Arief yang lalu ditingkahi dengan sikap menolak plus tawa yang membuncah dengan deras.

“Di belakang gue ada Ade yang main bas. Dia nih anak gunung banget. Makanya penampilannya paling anak gunung di Pure Saturday. Suka pake kupluk. Orang ini adalah easy going man di band ini. Mau diajak apa aja, hayuk,” tatap mata Iyo kuat menyorot Ade yang tegap berdiri persis di belakangnya.

“Di ujung sana, ada Udhi. Dia merupakan orang yang paling suka punya konflik sama yang lain untuk urusan musikal. Setiap yang lain bilang apa, dia pasti selalu keluar dengan pandangan yang lain. Tapi, kadang itu yang bikin band ini keluar dengan output yang bagus,” pujinya pada Udhi yang bersembunyi di belakang set drum.

“Di kiri gue, ada Adhi, main gitar. Dia ini otak di balik hampir semua lagu bagus Pure Saturday. Biasanya, dia selalu keluar dengan kord-kord aneh yang bahkan sampai sekarang gue nggak tau namanya apa. Dia juga yang ngajarin gue main gitar,” kali ini sorot matanya bergerak pada sosok Adhi yang berdiri tenang di sayap kanan panggung, sebelah kiri Iyo.

“Terima kasih juga untuk semua orang yang sudah bantuin Pure Saturday pas manggung,” ujarnya menutup testimoni itu.

Highlight malam itu adalah ketika masing-masing penonton ikut bernyanyi bersama Iyo. Mulai dari anthem Coklat yang diletakan di awal set. Elora yang begitu mendayu. Pulang, lagu yang jarang dimainkan di atas panggung menurut pengakuan mereka. Hingga pujian untuk Platon yang mengawali video pertama Iyo bersama Pure Saturday, Awan.

Bagian yang juga tidak bisa dilewatkan adalah ketika mereka memainkan Gala dan Labirin. Dua lagu berat yang ternyata punya hati di banyak penggemar Pure Saturday.

Puncaknya ketika Iyo mengundang vokalis lama mereka, Suar Nasution, untuk naik ke atas panggung dan berbagi panggung.

“Yang ini jantungnya Pure Saturday, dia selalu ada,” sambutnya mengundang Suar naik ke atas panggung.

Mereka menyelesaikan enam lagu terakhir malam itu dengan Desire untuk mengawalinya. Suar tidak memainkan gitar dan terlihat sangat kikuk di atas panggung. Untung ada tamborin yang sedikit menyelamatkan malamnya.

Sewaktu melantunkan Kosong, Suar yang mengambil alih vokal utama, juga melakukan kesalahan melafalkan lirik. Membuat beberapa penonton yang bernyanyi bersama terkecoh. Silence juga begitu emosional. Setidaknya menurut saya. Lagu itu begitu keras untuk dilantunkan bersama.

Ketika Buka dimainkan, Iyo menceburkan dirinya ke lautan penonton. Moshing yang hampir tidak pernah didapatkan di dalam set Pure Saturday di Bandung. Kejutan tidak juga dihentikan oleh band ini. Penonton, termasuk saya tidak pernah berpikir mereka akan bermain sepanjang ini. Pada bagian akhir set mereka, saya sudah menduga bahwa Enough akan dimainkan. Ternyata saya salah.

Mereka mengkover Vapour Trailnya Ride. Perilaku lama yang tidak pernah dilakukan dalam beberapa tahun, sepertinya. Itu lagu yang mengejutkan. Sekaligus elegan untuk menutup era mereka bersama Iyo.

Sembilan belas mengalun malam itu. Lebih dari cukup. Set mereka selesai sekitar pukul 00.30. Dua jam setelah mereka mengawalinya. Begitu selesai, tidak pernah ada Enough di dalam set mereka malam itu.

Satu era Pure Saturday berakhir. Selanjutnya, mereka akan merilis kompilasi lagu-lagu mereka yang direkam ulang. Selanjutnya juga, mereka akan mencari vokalis baru lewat sebuah audisi. Cerita band ini akan selalu berjalan. Belum waktunya untuk diakhiri.
Selamat jalan, Satria Nur Bambang, apapun itu, engkau sudah memberi tanda manis untuk Pure Saturday. Terima kasih sudah pernah menjadi bagian Pure Saturday. Kalau kata Vapour Trail, “”We never have enough time to show our love.” (pelukislangit)

*) Felix Dass: Seorang penggemar yang kehilangan.
*) Foto oleh Donny Pandega, yang dipinjamkan ke saya untuk kepentingan pemuatan artikel Pure Saturday di The Jakarta Post.
*) Artikelnya bisa dicek di sini: http://www.thejakartapost.com/news/2013/07/28/pure-saturday-defying-pop-levity.html

*) Catatan menyaksikan dua konser Belle and Sebastian
*) Pada akhirnya tulisan ini dipost setelah mangkrak nyaris lima tahun

B&S 7

Semenjak kedatangannya ke Asia Tenggara diumumkan, entah kenapa saya sudah punya feeling yang sangat kuat untuk pergi menonton pertunjukan Belle and Sebastian di Singapura. Padahal mereka juga main di Jakarta. Tapi, berhubung ini namanya tur reuni setelah vakum lama dan memang kesempatannya jarang-jarang, ya sudahlah dikejar saja.

Teman saya kali ini adalah Annisa Amalia, seorang gadis yang (bakalan hebat dan) sedang mengadu peruntungan bersekolah di Singapura. Abazh, panggilan akrab si Annisa, merasa menyesal tidak bisa pulang menyaksikan Belle and Sebastian di Jakarta. Jadi, dia rasanya cukup senang bisa menyaksikannya di Singapura bertemankan teman dari Jakarta.

Saya bertugas membeli tiket. Abazh menunggu saja. Awalnya, sempat susah mencari tiket. Karena memang berebutan. Pertunjukan di Singapura menggunakan sistem nomor tempat duduk. Siapa cepat, dia dapat. Nah, misi saya adalah duduk sedepan mungkin. Biar berasa dekat dan puas menyaksikan konsernya.

Setelah berburu, saya mendapatkan tiket untuk kami berdua di baris H, nomor tujuh dari depan panggung. Bolehlah, setidaknya ini lebih depan ketimbang waktu saya menyaksikan Elvis Costello beberapa bulan yang lalu.

Jadi, ketika hari H datang, kami berdua mencoba setenang mungkin untuk menghadapi hari yang menyenangkan itu. Saya sudah merekam bekal lebih awal, menyaksikan konser mereka di Jakarta beberapa hari sebelumnya. Jadilah, saya banyak membagi spoiler untuk si Abazh. Haha.

Konser di Jakarta sendiri berlangsung dalam kadar yang ‘biasa’ dari segi kualitas. Tentu saja menjadi tidak biasa karena yang bermain adalah Belle and Sebastian. Lagipula, venuenya Bengkel Night Park. Jadi, ekspektasi yang saya bangun di kepala adalah bagaimana bisa secara personal merekam memori bersama Belle and Sebastian di tanah sendiri dan mendapatkan kenyamanan luar biasa menyaksikan mereka di Singapura yang memang sudah dikenal punya standar kualitas papan atas untuk produksi konser. Cukup adil lah itu.

Beatfest

Hari di Jakarta berkesan untuk saya karena kesabaran saya membawa hasil. Saya bisa mengoleksi tandatangan tujuh orang personil band ini di sebuah kaos lama Belle and Sebastian yang memang sudah sedikit sempit. Habis konser, baju tersebut langsung saya bingkai. Tapi, perjuangan untuk mendapatkan memorabilia agak keras. Saya tidak berhasil mendapatkan setlist, kendati bisa membawa pulang sejumlah merchandise dari konser tersebut dengan harga yang masuk akal. Masih jauh lebih murah ketimbang harus memesan online, kendati kaos Belle and Sebastian yang sedang saya incar tidak dibawa serta malam itu.

Saya juga beruntung sudah mengenal Stevie MacDougall, road manager Belle and Sebastian yang meninggalkan kesan angker untuk banyak orang. Saya dan Stevie bekerja sama ketika Camera Obscura main di Bandung dan Jogjakarta beberapa bulan yang lalu.

Ketika bertemu di belakang panggung, Stevie langsung memeluk saya. “Hey! Kamu ada di sini juga. Apa kabar?” tanyanya. Saya menjawab, “Tidak pernah lebih baik dari hari ini. Karena akhirnya Belle and Sebastian ada di kota saya. Oh ya, saya tidak kebagian setlist malam ini. Boleh minta nanti di Singapura? Saya akan ada di antrian signing session dan kamu pasti akan lewat situ, kan?”

Kami tertawa. Kebiasaan Esplanade, tempat Belle and Sebastian manggung di Singapura, memang seperti itu. Mereka –dengan persetujuan artis— selalu menggelar sesi meet and greet untuk si artis yang baru saja main. Tujuannya memang membuat si artis bisa dengan mudah bertegur sapa dengan penggemarnya. Buat penggemar? Jangan ditanya lagi deh.

Malam di Jakarta sejujurnya berlangsung begitu saja. Saya hanya menyimpan senyum karena berhasil dengan misi saya malam itu. Tapi, selebihnya, harapan saya sudah liar berkelana ke malam di Singapura.

Terbukti, itu benar. Harapan saya dijawab oleh penguasa alam raya. Pertama, saya menyaksikannya dengan teman baik saya. Abazh tersayang ini, sedari awal sudah sok akrab. Dia mendoakan saya untuk selamat sampai di tujuan. Bukan sayanya yang penting, tapi tiket konsernya yang penting. Karena dibeli dengan menggunakan kartu kredit saya, jadi dia membutuhkan kartu kredit saya untuk menebus tiket aslinya di venue pertunjukan. Dasar!

Kami tiba di area konser pukul tujuh malam, lebih awal tiga puluh menit dari jadwal. Sengaja, karena memang harus mengecek gerai merchandise. Senang mendapatkan harga merchandise di sini lebih murah ketimbang di Jakarta. Haha. Cuma murah ribuan rupiah sih. Tidak signifikan. Tapi bolehlah, sekali-kali setara.

Percaya atau tidak, awalan temuan merchandise yang harganya sebanding itu rasanya membawa saya punya feeling semakin kuat bahwa pertunjukan ini beda. Kursi kami ternyata hanya sekitar sepuluh meter dari panggung. Berasa kayak Belle and Sebastian main di pesta ulang tahun pribadi. Beberapa orang di baris paling depan sudah mulai berdiri. Wah, ini makin tidak biasa.

Benar saja, ketika menjelang konser dimainkan, beberapa baris di depan sudah mulai berdiri. Abazh bertanya, “Eh, kita nggak mau ke depan?” Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Akhirnya dalam sekelebat waktu, kami bisa berdiri di bibir panggung. Persis di depan tempat yang diplot untuk Mick Cooke dan Bobby Kildea, di sayap kanan panggung.

Mengamankan tempat di bibir panggung, rasanya adalah sebuah kemenangan tersendiri. Konser di Jakarta memiliki sejumlah barikade yang menjembatani panggung yang tinggi itu dengan penonton. Jadi pasti tidak akan bisa enak jika memutuskan untuk ada di garda depan. Lagipula, Bengkel Night Park tidak punya kualitas tata suara yang mumpuni, jadi nonton di tengah adalah pilihan paling baik.

Kembali ke konser di Singapura, karena posisi yang enak tersebut, di depan saya tersembut setlist lagu yang akan mereka mainkan malam itu. Saya tidak ingin melihatnya, toh kurang lebih akan sama saja dengan penampilan mereka di Jakarta.

I Didn’t See It Coming membuka penampilan mereka. Lagu ini selalu dipilih sebagai pembuka di tur comeback kali ini. Ini lagu baru dan sejujurnya, sebelum konser di Jakarta, saya tidak tahu bentuknya seperti apa. Tapi, tanpa perlu waktu lama, saya sudah merekam melodinya dengan baik. Sarah Martin mengambil porsi vokal utama di lagu ini. Lumayan unik juga, mengingat dia sebenarnya tidak banyak bernyanyi.

Yang agak sedikit berbeda, lagu kedua yang dipilih adalah Expectations, yang menjadi banyak dikenal orang karena termasuk di dalam OST Juno yang lumayan populer dari satu komputer ke komputer lainnya di Indonesia.

Sisanya kurang lebih sama. Tapi, orang yang di sebelah kiri saya sama sekali tidak sama. Saking terlalu antusias, setiap memulai lagu, saya selalu menceritakan padanya tentang apa yang terjadi di Jakarta. Semacam spoiler yang datang terus menerus begitu. Dia sih cukup sabar. Untungnya, saya buru-buru sadar dan menghentikan aksi tersebut. Menikmati konser adalah tujuan utama, jadi saya menghentikan racauan dan membuat si Abazh menonton dengan tenang. Haha.

Di luar dugaan, konser berjalan dengan begitu semarak. Entah kenapa, masing-masing personil Belle and Sebastian di atas panggung, tampak lebih semangat. Mereka dengan sabar menyapa dan mengisi jeda antar lagu dengan komunikasi yang lumayan intens dengan penonton; ini satu hal yang tidak terjadi di Jakarta.

Komunikasi antar personil juga tampak begitu hangat. Kalau ini sih, saya sudah bisa merasakannya via arus informasi yang saya baca di internet.

Baru di lagu keempat, Stuart Murdoch sudah berulah. Di tengah-tengah lagu, dia menaruh gitar listriknya dan langsung berlari ke sayap kiri panggung. Sempat terjadi beberapa kontak mata antara personil lainnya. Penonton juga teriak. Standar, euforia melihat sesuatu yang tidak terduga. Ternyata, Stuart berlari menghampiri seorang penonton yang sedari tadi melambaikan bendera Skotlandia, negara asal Belle and Sebastian.

Ia langsung mengambil bendera tersebut dan memajangnya di depan amplifiernya. Momen menarik berikutnya terjadi ketika I’m Not Living in the Real World dimainkan. Lagu ini, juga merupakan lagu baru. Stevie Jackson mengambil porsi vokal utama. Yang seru, adalah bagian vokal latar yang diperankan dengan sangat baik oleh Bobby dan Sarah. Ini merupakan satu-satunya di mana Bobby bernyanyi. Suaranya tinggi dan terlihat begitu misterius. Sampai sekarang, rasanya dia belum pernah mengambil porsi vokal utama di band ini.

Kedua lagu ini, merupakan garansi untuk membuat album baru Belle and Sebastian menjadi sangat menarik untuk dinanti.

Saya jadi ingat ketika menyaksikan Camera Obscura bermain di tempat yang sama tahun 2008 yang lalu. Waktu itu, My Maudlin Carreer belum dirilis. Tapi Camera Obscura memainkan Swan dan You Told a Lie. Dan, dua lagu itu benar-benar terngiang di kepala sampai saat album My Maudlin Carreer dirilis. You Told a Lie, selain James, adalah lagu favorit saya di album tersebut.

Jodoh saya rasanya dengan Esplanade nih.

Kembali ke Belle and Sebastian –aduh, kebanyakan loncat-loncat ceritanya nih—, senyum si Abazh terus-terusan mengembang. Sementara di panggung, suasana semakin panas. Belle and Sebastian –seperti layaknya apa yang terjadi di Jakarta— menunjukkan bahwa mereka memang sebuah band panggung yang menarik. Kendati Stuart masih juga beberapa kali fals mengambil nada.

Di suatu momen, ia naik ke balkon –yang memang tidak begitu tinggi— dan berkeliling ke seluruh penjuru gedung. Padahal, hal yang seperti ini adalah sebuah ketabuan di Singapura. Orang di sana cenderung kaku, dan rasanya mendapatkan pengalaman yang seperti ini merupakan sebuah kelangkaan yang belum tentu bisa diperankan dengan baik oleh semua artis yang bermain di gedung pertunjukan itu.

Tempat Stuart berjalan adalah balkon yang biasanya diletakkan sebagai sandaran tangan. Tentu saja, melihat idolanya berlaku gila seperti itu, penonton menjadi semakin punya hak untuk berteriak liar. Puncaknya adalah ketika ia menyalami semua penonton yang ia lewati.

Ketika sudah sampai di ujung, dengan semena-mena, ia keluar via pintu yang ada di situ. Secara logika, pintu itu memang seharusnya nyambung dengan tempat mixer monitor berada. Tapi ternyata tidak. Dan hebatnya, Stuart tidak mengambil jalan balik. Ia, entah pergi ke mana.

Orang-orang di atas panggung kebingungan. Termasuk pemain lainnya. Beberapa kru mereka mencari ke belakang, berharap Stuart segera muncul. Tapi, ia benar-benar menghilang.

Stevie yang juga beberapa kali kebagian peran untuk berbicara, mengambil alih panggung ketika semua orang sudah tersadar bahwa Stuart memang tersesat. “Hey, Stevie, kamu ada di mana?” tanyanya.

Akhirnya, untuk membunuh waktu, ia mulai memainkan sebuah komposisi asal-asalan. Sekali lagi, Belle and Sebastian membuktikan kelas mereka ada di mana. Komposisi asal-asalan itu menjadi sebuah lagu utuh tanpa vokal yang bisa mengantar mereka melewati kekosongan.

Stuart muncul di ujung lagu. Dengan tergopoh-gopoh, ia masuk dengan membawa bendera Singapura. Bagian ini sudah barang tentu dirancang dengan baik. Tapi, kalau disambungkan dengan dia yang tergopoh-gopoh dan menghilang selama kurang lebih lima menit, rasanya tidak diatur.

Melihat benderanya dibawa oleh sang bintang, tentu saja publik Singapura kembali berteriak kegirangan. Konser diadakan tanggal 7 Agustus 2010, dua hari sebelum hari kemerdekaan Singapura yang dikenal luas dengan nama National Day.

Menurut seorang teman saya yang orang Singapura, orang Singapura memang luar biasa antusias menyambut hal-hal seperti ini. “Orang sini paling suka sama kembang api, Felix,” katanya beberapa waktu yang lalu ketika kebetulan saya juga berkunjung ke sana. Jadi, ketika Stuart menyinggung National Day mereka, orang Singapura sudah barang tentu senang.

Inilah yang saya senang dari Singapura. Kendati hidupnya luar biasa membosankan karena semuanya serba teratur, mereka masih menyimpan kebanggaan kebangsaan yang luar biasa tinggi. Lihat bangsa saya, bangsa kebanyakan kamu yang membaca tulisan ini.

Kalau ada ribut-ribut, baru deh semangatnya terbakar. Haha. Ngelantur. Jadinya, nanti malah kami tidak takut lagi. Sudah ah, mari balik lagi ke konser.

Konser berlalu dengan sempurna. Tata suara terjaga dengan baik sampai selesai. Bahkan atraksi pergantian alat yang terjadi di sepanjang konser; setiap pergantian lagu, semua personil seperti melakukan aksi tersendiri dengan berganti alat musik. Hanya Chris Geddes dan Richard Colburn yang tidak berganti posisi.

Menjelang encore, saya sudah memberi kode kepada Abazh untuk mengambil setlist yang ada di depan mata kami. Setelah konser selesai akan ada meet and greet untuk 100 orang yang beruntung dan telah membeli merchandise. Saya tentu saja akan mengantri untuk itu.

Saya dan Abazh adalah tim yang bagus, rasanya. Saya sudah mengamati posisi sekitar dan memblok tubuh manapun yang ingin mengambil setlist tersebut. Sementara, Abazh bertugas untuk mencopot pelan-pelan setlistnya.

Tapi, tiba-tiba sebuah teriakan menegur kami, “Oi!” Itu berasal dari kru panggung Richard yang melihat kami melakukan perbuatan itu. Dia memberi kode bahwa kami tidak boleh mencabut setlist itu. Sangat masuk akal, karena memang konser belum akan berakhir. Masih akan ada encore.

Setelah diperhatikan dengan seksama, orang yang menegur saya itu adalah orang yang menimpuk Satria, teman baik saya, di Jakarta. Satria ditimpuk sebotol air mineral ketika ingin mengambil setlist yang tertempel di area tempat Richard berkuasa. Haha. Hampir kena juga saya.

Sat 2

Encore dimainkan dan tepat begitu lagu terakhir dimainkan, tanpa panjang lebar saya meminta Abazh untuk mengambil setlistnya. Lagu terakhirnya sama dengan yang di Jakarta, Legal Man. Jadi sudah ketebak. Inilah untungnya nonton dua kali. Haha.

PR selanjutnya adalah bagaimana bisa keluar tepat waktu untuk mengantri di antrian meet and greet. Kami ada di urutan paling belakang yang bisa keluar dari gedung itu, sementara pasti antrian sudah berlangsung panjang di luar.

Setelah mendesak-desak ala rebutan masuk ke dalam busway, saya dan Abazh berhasil keluar dari ruang konser. Antrian sudah panjang. Abazh saya suruh mengantri dengan manis di belakang, sementara saya mencari kejelasan tinggal berapa pass yang tersisa.

Ada dua orang yang membagikan pass untuk meet and greet. Yang satu sedang sibuk dengan sejumlah orang yang bersikeras untuk masuk walaupun sudah diberitahu harus membeli merchandise terlebih dahulu. Saya menyerobot dan mendapatkan sebuah pass.

Setelah mendapatkan posisi cukup enak di antrian, saya memohon kepada si ibu-ibu pemberi pass tadi untuk memanggil teman saya yang ada di belakang. “Maaf, saya bisa tukaran dengan teman saya? Dia lebih penting untuk mendapatkan pass ini,” ujar saya.

Dia mempersilakan saya. Saya memanggil Abazh. Ketika lagi-lagi dia lengah, saya memasukkan Abazh ke dalam antrian. Haha. Saya luar biasa licik, kalau dipikir-pikir.

Pikirannya, “Ah, kalau misalnya ketahuan, ya sudahlah tidak apa. Toh, saya sudah bertemu dengan mereka di Jakarta. Jadi, ini lebih penting untuk si Abazh.”

Setelah beberapa saat, benar saja, antrian sudah ditutup. Sepertinya tidak lebih dari sepuluh orang di belakang kami. Ketika pass meet and greet habis, antrian langsung ditutup oleh sebuah marka. Si ibu baik hati yang saya zalimi tadi pun melengos pergi. “Aman,” pikir saya.

Abazh nampaknya masih shock dengan kelihaian saya itu. Tinggal beberapa bulan di Singapura rasanya sudah membuat dia berlaku seperti orang Singapura yang kaku. Haha. Padahal, untuk hal-hal seperti ini, aturan rasanya memang ada untuk dilanggar.

Coba pikir saja, kapan lagi bisa bertemu Belle and Sebastian?

Di atas, saya menulis tentang Stevie MacDougall yang saya minta tolong. Nah, dia benar-benar memegang janjinya. Ketika sedang duduk manis mengantri, tiba-tiba ia lewat. Ia seolah sedang mencari seseorang. Langsung saja saya teriak, “Stevie!”

Ia menoleh dan langsung menghampiri saya, “Hey! Look, I’m looking for your setlist ya,” ujarnya. Dia sepertinya memang mencari saya dan memastikan bahwa saya mendapatkan apa yang saya minta. “Wah, oke juga orang ini,” pikir saya.

Stevie adalah sosok yang luar biasa kaku. Satria bercerita bahwa kendati sudah kenal duluan sebelumnya, ketika di Jakarta ia begitu kaku menerangkan bahwa tidak ada agenda band di luar manggung yang boleh difoto. Alhasil, Satria yang memang khusus dipekerjakan oleh si promotor semacam makan gaji buta karena larangan tersebut.

Tapi, perlakuannya itu benar-benar spesial untuk saya. Tidak beberapa lama, ia datang membawakan setlist yang sudah ia janjikan sejak ada di Jakarta.

Karena tadi sebenarnya saya sudah mendapatkan setlist, jadi setlist pemberian Stevie saya berikan kepada Abazh. Tentu saja dia senang luar biasa. Bertambahlah memorabilia yang bisa kami bawa pulang dan kenang atas malam luar biasa ini.

Kembali ke antrian. Kami semakin dekat dengan meja tempat personil Belle and Sebastian membubuhkan tanda tangan. Ternyata ada seorang petugas lagi, dia bertugas mengambil pass yang sudah diberikan kepada pengantri ini.

“Mati saya,” ujar saya dalam hati. Pass hanya satu sementara kami berdua ada di sini. Langsung saja sekelebat ide gila keluar. Pokoknya, yang saya pegang hanya, “Kalau ketahuan, biarlah Abazh yang tetap meminta tanda tangan.”

Saya punya trik manjur untuk mengalihkan perhatian orang. Biasanya trik ini saya pakai di bandara ketika menjadi penyeludup beberapa item bisnis yang saya jual kembali di tanah air. Menjelang keluar bandara di Jakarta, pasti kamu akan distop oleh petugas custom. Petugas tersebut biasanya akan memilah barang mana yang harus masuk pemindai xray ulang. Kalau bawaan yang diletakan di bagasi pesawat biasanya memang malas dicek oleh yang bersangkutan. Tapi, ada baiknya mengalihkan perhatian orang yang bersangkutan.

Biasanya, sebelum dia yang ngomong, saya duluan yang ngomong. Pilih saja topik basa-basi yang kira-kira bisa membuat dia menjawab pertanyaan saya dan beralih ke muka, ketimbang ke barang. Topik ini biasanya berakhir di kalimat, “Mana yang harus dimasukkan xray, pak?”

Jadi, bukan dia yang meminta, tapi saya yang menawarkan. Sejauh ini (dan semoga di masa yang akan datang, seterusnya) trik ini selalu berhasil. Maklum, yang saya seludupkan kan bukan barang terlarang. Tapi ini justru membantu banyak anak bangsa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Haha.

Nah, si bapak tua yang bertugas mengambil pass itu menjadi obyek trik ini malam itu. Saya memberi kode dulu kepada Abazh untuk terus melengos tanpa melihat dia dan berlagak bodoh. Sementara, saya yang mengajak dia ngomong.

Obrolannya kurang lebih seperti ini, “Halo, malam yang sibuk ya?” tanya saya.

“Tidak, pak. Biasalah ini. Kalau konsernya anak muda, selalu ada sesi ini. Anda sepertinya bukan orang sini,” tanyanya. Dia memang ramah sekali.

“Saya dari Jakarta, Indonesia, pak,” jawab saya. “Teman kamu? Juga dari Jakarta?” tanyanya balik.

“Ah, tidak, saya sekolah di sini,” Abazh menimpali. “Oh, bagus,” ujarnya. Tidak berapa lama, antriannya tiba pada kami.

“Boleh minta tiket kamu?” tanyanya.

“Tentu saja,” balas saya.

“Tunggu, kok hanya satu?” tanyanya lagi.

“Wah, saya nggak tahu, pak. Tadi dikasih sama ibu-ibu yang memberikan pass di belakang sana hanya satu. Kami pikir tidak masalah. Bapak bisa lihat kan bahwa saya tidak menerobos masuk ke sini,” ujar saya mencoba menyakin dia.

Dengan senyumnya yang ramah dia membalas, “Ah, okelah. Silakan.”

Sejujurnya, tadi saya deg-degan ketika mempraktekkan trik itu. Bukan apa, rasanya jahat sekali mengkadali orang yang begitu ramah. Tapi, sekali lagi, untuk beradu kencang dengan nasib, memang segala cara –selama itu tidak menghancurkan orang lain— rasanya sah-sah saja untuk dipraktekkan.

Saya dan Abazh hanya beradu senyum, akhirnya kami bisa bertemu idola kami bersama-sama. Yang ada di urutan pertama adalah Chris Geddes.

“Hey, terima kasih atas konser yang seru. Tidak percuma saya datang dua kali,” ucap saya. Tentu saja, saya ingin mereka mengetahui dengan pasti bahwa saya terbang ke Singapura untuk menyaksikan mereka. Padahal, mereka juga bermain di tempat saya berasal.

“Oh, terima kasih. Kamu terbang khusus dari Jakarta? Wow. Terima kasih,” balasnya.

Saya meminta tanda tangan di atas setlist yang saya dapatkan dan tiket konser saya. Sebelumnya, di Jakarta, saya sudah meminta tanda tangan di atas sebuah kaos Belle and Sebastian saya yang sudah sedikit sesak dan di atas buku Just Another Modern Rock Band, biografi resmi Belle and Sebastian.

Yang kedua giliran Sarah Martin. Saya terpesona pada matanya. Rasanya teduh sekali. “Hey, saya orang yang di Jakarta, yang meminta tanda tangan di atas kaos yang sudah kesempitan,” saya berusaha kembali menarik perhatiannya.

Dia membalas, “Ah, ya, saya ingat. Kamu terbang ke sini khusus?” tanyanya, sama seperti Beans. “Iya,” jawab saya.

Abazh, merasa perlu untuk mengambil gambar dengan Sarah. Mungkin karena bentuknya mirip. Haha. Alasannya kurang lebih seperti ini, “Friend, gue pengen foto sama si Sarah. Kayaknya dia damai gitu orangnya, enak ngeliatnya.”

Haha. Di antrian berikut adalah Stevie Jackson. Saya sengaja meminta ia yang menulis tulisan, “TO: FELIX” di setlist saya. Buat saya, selain Stuart, dia merupakan sosok yang spesial; flamboyan, bersuara emas, dan gitaris yang kaya ide. Jadi, tidak boleh dilewatkan.

Richard Colburn yang hangat ada di posisi nomor empat. Dia menyambut, “Hi, saya Richard, senang berjumpa dengan anda.” Luar biasa. Di balik sosoknya yang hangat, dia rasanya begitu rendah hati untuk mau menyapa satu demi satu penggemarnya.

Mick Cooke yang luar biasa datar ada berikutnya. Tidak banyak kesan yang saya rekam bersama dia. Haha. Maklum, dia datar banget sih. Jadi bingung juga mau membuka pembicaraan seperti apa.

Bobby Kildea adalah yang paling berkesan. “Halo. Kita bertemu lagi. Saya ingat kamu, yang di Jakarta kan? Ah, kamu benar-benar datang ke sini,” ujarnya dengan penuh senyum.

Sewaktu di Jakarta, saya berkesempatan meminta tanda tangan di ruang ganti Belle and Sebastian. Bobby dan Richard sedang santai ngobrol, saya menyelinap masuk dan meminta ijin untuk meminta tanda tangan.

Bobby mengajak saya ngobrol ketika waktu itu saya bilang bahwa saya akan pergi ke Singapura, menyaksikan mereka untuk kali kedua. “Oh, Singapura itu seperti apa?” tanyanya.

Saya menjawab sekaligus menerangkan bahwa Singapura punya infrastruktur pertunjukan yang jauh lebih bagus. Ketimbang dari segi penonton, di Asia Tenggara, Indonesia dan Thailand seolah jauh lebih baik. Rupanya, itu diingat dengan baik olehnya.

“Benar kan yang saya bilang waktu itu? Bagaimana rasanya main di sini dan dapat sambutan yang seperti ini. Kami, orang Asia, selalu melakukan ini terhadap band favorit kami” ucap saya.

“Wah, ini adalah kali pertama kami melakukan ini, sepanjang saya bergabung di Belle and Sebastian. Sebelumnya, kalau ada yang minta tanda tangan, itu biasa. Tapi kalau dibuatkan meja dan antrian seperti ini, baru kali ini. Gila!” ceritanya.

Yang terakhir adalah Stuart! Haha. Sepertinya, semua orang inginnya bercengkerama dengan dirinya. Saya sendiri memilih untuk tidak terlalu antusias. Tapi Abazh, rasanya antusias sekali. Akhirnya, kami mengambil gambar berdua dengan dia.

B&S 2

Stevie MacDougall menunggu di ujung antrian. Dia mengawasi jalannya meet and greet ini dan sekaligus mengambil kesempatan untuk mengucap selamat tinggal, saya juga begitu.

“Terima kasih banyak, Stevie. Sampai jumpa, di mana pun kita akan bersua,” ujar saya.

“Oke, Felix. Have a safe trip. Take care,” jawabnya hangat.

Saya dan Abazh meninggalkan lokasi meet and greet. Sontak dia berkata, “Duduk dulu ya, friend. Lemes nih gue.”

Saya juga lemas sebenarnya. Karena rasanya semua perjuangan mulai mencari tiket sampai dengan menulis dengan giat untuk menutup biaya perjalanan menemui hasil akhir yang saya inginkan.

Malam kami masih cukup panjang saat itu. Masih harus bertemu Boit dan Trie, dua orang teman baik saya yang juga sedang ada di Singapura.

Sebagai penggemar, tidak ada lagi yang bisa kami minta selain apa yang sudah digariskan untuk kami peroleh.

Yang lebih mencengangkan adalah perkataan Abazh setelah konser, “Eh, friend, inget nggak kalau kita pernah bertukar komen bahwa kita akan nonton Belle and Sebastian bareng?”

Lihat gambar ini, diposting satu setengah tahun yang lalu.

B&S

Semakin lemas saya dibuatnya. Haha. Emang udah suratan takdir ini sih namanya! (pelukislangit)

09 Agustus 2010 – Rumah Cipete
13 Agustus 2010 – Di udara, ketika bertolak menuju Bangkok

*) Dan sekarang kami akan menyaksikan Belle and Sebastian sekali lagi:

Screen Shot 2015-01-30 at 4.31.26 PM

Processed with VSCOcam with c1 preset

Rosa Panggabean, seorang fotografer muda, memulai sebuah upaya mulia untuk meretas satu sisi sejarah yang terlupakan; mendokumentasikan kehidupan sejumlah eksil yang kini bermukim di Amsterdam, Negeri Belanda.

Dalam sebuah perjalanan singkatnya, ia menguak tabir kisah di masa lalu yang penuh misteri dan lika-liku.

Negeri Belanda, seperti yang ditemukan oleh Rosa Panggabean di dalam perjalanannya, kini menjadi salah satu kantong eksil Indonesia yang menjadi korban pergolakan politik di tahun 1965.

Eksil adalah sebuah terminologi yang padat bersayap. Bunyinya tidak enak. Ada banyak belokan kemungkinan di dalamnya. Cerita-cerita tidak masuk akal dalam peradaban manusia berseliweran tanpa pernah bisa diprediksi. Mereka yang terhalang pulang, dengan berbagai macam caranya bertahan hidup dan sekuat tenaga mencoba menerima kenyataan yang ada di genggaman.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Tentu saja, ada banyak ketidakadilan dan kemarahan yang berserakan. Dan di dalamnya juga bertebaran kisah perjuangan manusia menaklukan hidup dalam level yang sederhana dan jauh dari hingar bingar sorotan politis orang banyak; dari sekedar hanya bertahan sampai mencari secercah harapan yang lebih baik.

Mengurai cerita-cerita personal adalah sebuah perjalanan panjang yang perlu diselesaikan dengan energi banyak. Belum tentu bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Belum tentu pula punya guna untuk diurutkan. Sama sekali tidak mudah.

Rosa Panggabean, lewat gambar-gambar sederhananya, bisa memotret keseharian dengan cara bertutur yang mudah dipahami. Sesekali ada guratan emosi berdosis tinggi yang nampak tersirat dari raut wajah tokoh di dalam gambarnya. Dan itu menimbulkan pertanyaan lanjutan.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Ada banyak hal yang bisa dipertanyakan. Tapi mari disederhanakan; ia sedang memotret manusia. Sudah sepantasnya, paradigma kemanusiaanlah yang jadi corong untuk melihat luka yang ditinggalkan. Luka kolektif yang muncul akibat berbagai macam simpangan kisah yang justru tidak bisa dilihat dengan sederhana, sesederhana hitam dan putih yang bedanya begitu berjurang.

Ada banyak tembok besar yang harus ia hadapi. Kerasnya tekanan waktu produksi yang tidak punya durasi lama, juga menambah tantangan. Yang paling berarti adalah menguak kisah lama yang bisa jadi sudah dikubur dalam-dalam atau masih disajikan hangat di meja makan. Tembok-tembok itu membuat karya ini punya keterbatasan dan ‘tidak dalam’.

Dan karenanya, kita tidak perlu membuang tenaga untuk menyelam lebih jauh mencari tahu hal-hal yang lebih serius dari kemanusiaan itu sendiri. Toh, fakta menjelaskan bahwa memisahkan seseorang dari kebudayaan dasarnya tanpa persiapan dan waktu yang berarti itu lebih keji ketimbang pengeroyokan, adegan main hakim sendiri atau bahkan penusukan di tengah malam.

Seluruh kekerasan fisik, rasanya tidak ada apa-apanya ketimbang kekerasan mental yang dialami oleh banyak orang yang terhalang pulang ini. Itu juga mungkin menjelaskan kenapa tembok yang harus dihadapi Rosa Panggabean begitu tinggi.

Ide tentang Indonesia, yang sekaligus merangkap sebagai rumah, tetap dipegang sampai hari ini. Kendati secara fisik pula, sudah berjarak sedemikian jauh. Dan di situlah kue terbesar eksplorasi masa lalu harus dilakukan. Supaya bisa dihindari di masa yang akan datang.

Tiba-tiba pula saya teringat lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki yang punya lirik seperti ini:

“Tanah airku Indonesia, negeri elok yang amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa…”

Processed with VSCOcam with c1 preset

Indonesia, adalah negeri asal mereka yang terhalang pulang ini. Tempat mereka membentuk kisah sejak dini untuk menikmati setiap hembusan napas yang diberikan alam raya. Dan negara, karena alasan apapun, tidak berhak mengambil memori itu apalagi menghalangi warganya untuk pulang guna menjalankan hidup, beraktivitas dan menutup mata di negeri tempat mereka berasal.

Mari mengarungi perjalanan panjang ini dan terima kasih Rosa Panggabean, karena telah berkontribusi memulainya. (pelukislangit)

Rumah Benhil
20 Januari 2015 // 11.30
24 Januari 2015 // 10.56

Buat: SP dan NP

LG - Mitch Ikeda

Nama Oasis, sedang mati. Perselisihan antara Liam dan Noel Gallagher belum selesai. Padahal, keduanya butut ketika harus berkarya di luar tubuh agung Oasis. Semua fans menyadari itu. Beady Eye bubar setelah album keduanya berantakan di pasar. Noel Gallagher’s High Flying Birds sedang mempersiapkan album kedua yang akan dirilis bulan Maret mendatang.

Tapi, bagaimana dengan perjalanan ke masa lalu untuk mengenang sekaligus merayakan kehidupan agung Oasis? Ia selalu menyenangkan. Apalagi kalau dibagi beban perjalanannya dengan orang yang punya ketertarikan yang sama.

Oasis berjasa untuk orang banyak. Dan ketika ia dipergunjingkan lebih lanjut, efek keturunannya bisa melaju di luar kendali. Termasuk di dalamnya merancang sebuah ide iseng untuk bertukar pilihan dari sebuah kolam besar yang sudah diketahui isinya. Membatasi diri di angka lima belas dan kemudian menjadikannya sekumpulan lagu koleksi yang bisa diputar kapan saja.

Tidak ada urutan kronologis. Tidak ada aturan pasti. Semua, dipilih atas nama frekuensi yang sama. Sebuah kesepakatan untuk menyukai hal yang sama kendati berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Oasis, oh Oasis. Kompilasi ini merupakan pilihan personal di sebuah tengah malam. Keberhasilan menyelesaikan ceritanya, merupakan sebuah kenyataan pahit; angka lima belas menjadi patokan dan banyak fragmen cinta yang terpinggirkan karenanya.

Tracklist:

01. Slide Away
Lagu cinta. Yang terlupakan. Slide Away merupakan komposisi tersembunyi yang sedikit kalah pamor kalau dibandingkan beberapa single yang ada di Definitely Maybe. Ia mencuri perhatian lewat gerungan konstan harapan yang bersinggungan dengan devosi akut. Perjalanan luar kota yang sepi dan kendaraan berkecepatan 60 km/ jam adalah latar belakang yang ideal. Bolehlah sesekali diimbuhi singalong yang disuarakan dengan volume kencang.

02. Lord Don’t Slow Me Down
Ode buat alam raya yang selalu jadi pendukung. Sekaligus merupakan lagu perlawanan untuk pandangan sebelah mata yang seringkali dikirim tanpa pernah pernah diduga. Pengirimnya bisa siapa saja.

03. Don’t Look Back in Anger
Dua kali saya menyaksikan Yang Maha Mulia Noel Gallagher melakukan trik diam sebentar di bagian belakang lagu untuk kemudian menyusul koor massal penonton di konsernya. Ia mengundang tangan terbentang, mata terpejam dan penyerahan jiwa dan raga pada notasi nada yang durasinya hanya beberapa puluh detik saja. Dua kejadian ini mungkin terjadi di masa lalu, tapi masa begitu saja saya harus melupakannya? Tidak sudi. Mereka adalah salah dua momen terbaik menyaksikan konser Oasis dengan mata kepala sendiri.

04. I Hope, I Think, I Know
Dari sekumpulan nada terbuang, tersembulah lagu ini. Empat menit darinya mengajarkan sebuah petuah penting; bahwa hidup harus dijalani dengan kerja keras. Masa lalu tidak terlalu berarti, masa depanlah yang jadi hitungan. Hidup tidak akan menunggu. Dan persoalan yang menanti adalah bagaimana membuat ingatan orang akan dirimu bertahan lama. Kerja keras, membawa kita mengembara ke ranah yang mungkin tidak akan dilupakan orang.

05. Rockin’ Chair
Pernah dan sering dilakukan: Volume maksimal, duduk di bangku sebelah kiri, Stadion Menteng, lampu merah yang lama. Waktu: siang hari, sepulang sekolah. Sejak itulah Rockin’ Chair mematenkan posisinya dalam hidup saya.

06. Stay Young
Saya waktu itu duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jalan Sabang minta dikunjungi. Ada muka Liam Gallagher yang super songong di sebuah sampul hitam. Di sisi lain rekaman itu, ada lagu ini. Kemudian, ada bagiannya yang seketika menempel dan minta diulang terus menerus. Ia kemudian menjadi lagu tema. Sampai hari ini. Begini katanya: “Hey! Stay young and invicible. Because we know just what we are. And come what may, we’re unstoppable. Because we know just what we are.”

07. Let There Be Love
Kurang lebih seminggu pertama sejak versi bocorannya beredar di internet, saya memutarnya berulang di komputer kerja. Ia tanpa diminta lama, langsung menambah daftar instant classic Oasis di dalam hidup saya. Bagian Liam dan Noel Gallagher bergantian bernyanyi luar biasa bagus. Suatu masa, ketika harapan mengapung dengan tinggi, mendengarkan lagu ini dimainkan dari pengeras suara stadion saja senangnya bukan main.

08. Bonehead’s Bankholiday
Tidak adil rasanya membuat sebuah kompilasi Oasis tapi tidak memasukkan kisah Bonehead di dalamnya. Persis seperti karakternya, lagu ini merekam sosok penuh canda Bonehead yang bisa tergambar dengan jelas di sejumlah foto band di eranya. Visualisasinya sebagai badut, seolah diperkuat oleh lagu ini. Noel Gallagher bermain-main dengan vokalnya dan potongan lirik “Should’ve stayed in England” itu begitu khas.

09. Talk Tonight
Jakarta. Malam hari. Jalanan yang sibuk. Lampu-lampu yang berperang mencoba mencuri perhatian. Bising. Debu. Dua bangku kosong. Berbicara. Menatap mata. Angin ribut. Hujan deras. Jakarta. Malam hari. Waktu yang berjalan begitu cepat. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Empat jam. Empat setengah jam. Pulang.

10. Love’s Like a Bomb
Dari Don’t Believe the Truth. Kocokan gitar akustik yang sangat tebal di bagian depan lagu sangat menempel di kepala. Efeknya mirip seperti mendengarkan Some Might Say atau Cast No Shadow di masa lalu. Hanya saja, karena lebih catchy, lagu ini lebih menempel ketimbang dua lagu yang disebut lebih dulu tadi.

11. Sunday Morning Call
“You need more time. Because your thoughts and words won’t last forever more. And I’m not sure if it’ll ever work out right. But it’s ok, it’s alright.”

12. I’m Outta Time
Liam Gallagher menulis lagu ini. Ia pun menyanyikannya dengan sangat tulus. Masalahnya berat soalnya. Di album terakhir mereka, ini merupakan salah satu lagu yang nyangkut di saya. Penuh drama dari department lirik dan melodius di saat yang bersamaan.

13. To Be Where There’s Life
Juga dari Dig Out Your Soul. Ditulis oleh Gem Archer. Lagunya untuk Oasis yang paling saya sukai. Ada beat-beat puritan di dalamnya, sedikit tidak cocok dengan kerangka waktu ketika album ini dirilis. Dari sinilah kalimat Dig Out Your Soul berasal. Menunjukan sisi ngehe Oasis sebagai sebuah entitas bermusik, salah satu band terbaik di muka bumi.

14. Wonderwall
Hit terbesar. Penjelasan kalau kamu berani meninggalkan lagu ini: Kamu B-O-D-O-H.

15. Champagne Supernova
Selalu jadi penutup yang indah. Berapa orang spesial dalam hidup kamu yang akan tinggal dan tumbuh bersama melewati perjalanan usia? Berapa pula yang akan berganti cerita dan menikmati perubahan layaknya napas segar yang datang di pagi hari ketika terbangun oleh sambutan sinar matahari yang cerah?

(pelukislangit)

Rumah Benhil
24 Januari 2015
03.01
Buat UI

Gambar dicuri dari Mitch Ikeda.

MOCCA Home (normal)

Mocca membuktikan kalau mereka bukanlah mitos masa lalu. Album Home yang merupakan album penuh keempat mereka setelah My Diary, Friends dan Colours, memberi penegasan bahwa mereka belum mati dan masih jadi salah satu andalan scene musik independen Bandung yang perkembangannya tidak menarik.

Ada fakta masa lalu bahwa Bandung pernah menjadi pusat kehidupan scene musik independen Indonesia dengan banyak talentanya. Nama-nama besar berderet kalau mau menengok lembaran sejarah. Kita mengetahui bersama bahwa itu adalah potongan masa lalu yang paling banter hanya layak hidup di level kenangan. Dalam satu dekade terakhir, rasanya hanya tinggal Mocca –tentu saja—, The SIGIT, Sarasvati, Burgerkill dan Tulus yang bisa punya tempat reguler di panggung nasional. Selebihnya, bermain di sirkuit kecilpun tidak mudah.

Sejarah, adalah serangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Buat saya, Mocca sempat nyaris terjerembab ke lubang itu ketika mereka merilis mini album Dear Friends yang tidak punya nyawa beberapa tahun yang lalu. Untungnya, mereka punya banyak energi untuk menyadarkan diri sendiri bahwa mereka adalah salah satu fenomena terbesar scene Indonesia lokal sepanjang sejarah.

Album My Diary yang laku keras lebih dari tiga belas tahun yang lalu, Friends yang kelewat canggih untuk scene musik lokal di tahun 2004 dan Colours yang menunjukkan kematangan sekelompok orang yang bermain musik beberapa tahun kemudian, menjadi pemahat prasasti Mocca untuk punya cerita di hidup orang banyak. Home, kini mengikutinya. Menegaskan status legenda yang layak disandang Mocca.

Menyimak album ini, senada dengan perasaan senang yang muncul ketika menyambut teman lama yang datang membawa kabar baru.

Melihatnya berkembang melintasi waktu, menyaksikan keberaniannya mencoba berbagai macam hal yang belum pernah disentuh sebelumnya dan mendengarkan keluh kesah yang bergulung seiring usia yang bertambah, merupakan pengalaman yang walaupun bisa diprediksi sebelumnya, tetap menarik.

Mari bicara musik. Mocca mencoba sebuah pendekatan baru yang mau tidak mau harus mereka terapkan di album ini. Arina Ephiphania, vokalis, hijrah ke Amerika Serikat dan fakta ini membuat mereka melakukan rekaman jarak jauh.

Riko Prayitno masih punya taji sebagai penulis lagu bagus yang punya konsistensi papan atas. Dia mendominasi, seperti biasa, dan lagu-lagu di Home memanjangkan status itu.

Secara personal, saya suka lagu You’re the Man yang punya aura ceria. Persis seperti sebuah pertemuan dengan teman lama yang datang membawa kabar baru tadi. Keramaian yang muncul di You’re the Man seolah memprovokasi tubuh untuk bergoyang dan mengikuti irama semi dansa yang dikandungnya.

Lagu Bandung (Flower City) juga merupakan track yang mencuri perhatian, sebuah tribute manis untuk kota yang telah mengisi hari-hari masing-masing orang di band ini. Sekedar catatan, dari empat orang personil asli band ini, hanya Arina Ephiphania yang tumbuh besar di Bandung. Riko Prayitno, Indra Massad dan Toma Pratama adalah pendatang yang kemudian menemukan kecintaan mendalam pada Bandung dan berbagai macam isinya.

Ini videonya:

Kemampuan aransemen yang brilian membuat lagu ini layak diulang-ulang dan berputar terus.

Mocca diberkahi dengan talenta besar untuk bisa merangkai nada dengan kualitas yang sangat baik. Home merupakan contoh terbarunya. Saya sudah mencobanya sejak beberapa hari yang lalu; menjadikannya soundtrack pergi ke kantor. Itu berarti, sudah membiarkannya berputar secara reguler minimal dua ronde satu sesinya.

Ada beberapa lagu lain yang mencuri perhatian. Single andalan Changing Fate yang menampilkan Cil dari The Triangle –band Riko Prayitno yang lain— merupakan sebuah lagu balada yang nuansanya sedikit berbeda dengan single-single Mocca sebelumnya. Mungkin karena karakter vokal Cil yang sedikit gelap terdengar begitu kontras dengan Arina Ephiphania yang terlalu matang dan ceria.

Ini videonya:

Sebaran lagu bagus yang merata dimiliki oleh Home. Dan itu, menjadikannya punya pengalaman seru untuk didengarkan. Karena ia jadi tidak membosankan. Dan juga karenanya, Mocca tetap ada di tempat yang sama dengan berbagai macam ceritanya.

Jauh di lubuk hati paling dalam, saya punya harapan besar album ini dan kehebatannya bisa memprovokasi scene independen kota Bandung untuk lebih produktif memproduksi karya-karya bagus atau berusaha keras membuat banyak seri musik bagus untuk dihadiri. Sungguh menyiksa untuk terus hidup di dalam kenangan dan menyimpan pikiran –yang semoga tidak permanen— bahwa scene musik independen Bandung tidak menarik.

Mocca dan segala macam kerja kerasnya untuk Home, sedikit banyak memberikan harapan yang positif bahwa saya salah besar dengan pikiran itu. Ah, tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

Oh ya, satu lagi, Home dirilis dengan standar kualitas Mocca; kemasan cover yang ciamik dan di luar akal sehat.

Ini video tutorialnya:

Selamat mendengarkan Home! Saya menyukai album ini. (pelukislangit)

Kedai Tjikini – 17 Januari 2015 | 20.38
Rumah Benhil – 18 Januari 2015 | 11.33

Tambahan satu video lain dari Home, berjudul Imaginary Girlfriend:

Spontanitas bisa membawa kita berjalan jauh, melihat hal-hal yang tidak pernah bisa diprediksi sebelumnya. Kejutan yang jadi sepaket dengannya, menghadirkan cerita yang baru dan tetap sederhana.

Stasiun Gambir dan Jalan Sabang yang punya jarak 1.9 kilometer –menurut Google Maps— tadi malam menyadarkan (lagi) kalau Jakarta adalah kota yang indah untuk berjalan kaki. Pilihan jalan kaki, bukanlah sebuah keputusan yang populer. Ada negosiasi di dalam diri saya; antara mengeluarkan uang ekstra untuk naik kendaraan umum atau jalan kaki yang tidak keluar uang.

Pilihan jalan kaki menang, sekaligus membawa saya melihat beberapa hal menarik; waria lewat 30-an yang bergoyang sok seksi pada sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong di warung, petugas valet yang kesepian karena pelanggan nyaris tidak ada, mobil-mobil parkir dengan mesin dan pendingin udara menyala yang menjadi tempat berteduh penggunanya yang sedang makan nasi goreng kambing atau seorang pengendara mobil yang mencoba bernegosiasi tarif parkir dengan petugas di Jalan Sabang yang punya sistem perparkiran yang baru.

Masing-masing kisah dibiarkan hidup di permukaan, hanya berdasarkan penghilatan sekilas yang berbagi konsentrasi dengan lagu-lagu Komunal yang berputar kencang di telinga. Tapi, ada ruang kecil untuk mereka semua di Jakarta.

Walk

Kota ini rumah, tempat di mana seluruh jalinan emosi dirajut. Senang bisa melihatnya dari dekat secara reguler dengan berjalan kaki.

Kalau tidak bisa menemukan kenyataan ini, ya salah sendiri. Sejak di bangku sekolah menengah di usia belasan awal, Jakarta sudah menebarkan pesonanya. Perjalanan naik bus umum dari Sarinah Thamrin ke Depok Timur menjadi agenda dan ia hidup dengan kisah-kisah sederhana yang dibawa berbagai macam orang yang berseliweran setiap hari.

Infrastruktur yang tidak baik, kemacetan, amarah, kecurigaan pada sekitar dan segala tetek bengek peruntuh selera memang selalu ada. Toh, di sisi lainnya ada banyak bentangan pilihan yang selalu terbuka lebar.

Jakarta bisa dijelajahi dengan kegiatan jalan kaki yang menyenangkan. Sudah dicoba di Cikini, Pejompongan, Pasar Minggu, Kemang, Pondok Kelapa, Kuningan, Kalibata, Cawang, Tebet, Jakarta Kota, Gunung Sahari, Pasar Gembrong, Manggarai, Lenteng Agung, Jalan Panjang dan daftar daerahnya masih bisa dibuat lebih panjang kalau perlu.

Yang terjadi semalam, hanya penegasan saja. Di akhir cerita, semangkok Mie Roxy menyelamatkan keinginan dan lumayan mengenyangkan. Selebihnya, paham lama masih bertahan dengan kokoh; Jakarta ada untuk ditaklukan, bukan untuk dikeluhkan. Kalau tidak suka, ya jangan hidup di langitnya. Sederhana. (pelukislangit)

Kantor Cengkareng
12 Januari 2015
16:55

*) Ide dipikirkan sejak semalam ketika melintas di depan Nasi Goreng Kebon Sirih yang legendaris tapi biasa saja itu.

Hello!

My name is Felix Dass. I'm building surprises on someone else's tales.

Pembagian Cerita

Felix Dass on Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers