Dead Poet's Society 3

Robin Williams pergi. Semua orang pasti pergi. Yang penting, apa yang ia tinggalkan untuk orang banyak, bukan? Salah satu warisannya berbunyi begini, “I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way.”

Saya berhutang padanya. Dan Dead Poet’s Society. Film itu serta permainan jenius Robin Williams membentuk saya yang hidup pada hari ini.

Secara kolektif cerita John Keating memperkuat karakter saya yang memang dibangun dari sejumlah inspirasi semodel yang seliweran dan menempel seiring waktu berjalan. Disclaimer: Buat saya inspirasi itu dipilih dan ditindaklanjuti dalam ranah personal. Oh ya, satu lagi, Dead Poet’s Society diangkat dari novel karya NH. Kleinbaum.

John Keating dan Dead Poet’s Society menggambarkan interaksi murid dan guru yang membebaskan. Guru dan murid berpadu-padan menjadi partner dan tidak punya hierarki yang lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Di sistem pendidikan Indonesia, hal model begini, bukanlah sebuah kejadian yang lazim ditemui. Yang biasa terjadi, guru hadir untuk ditakuti. Padahal seharusnya tidak begitu. Mungkin lebih ke saling menghargai kali ya?

Membebaskan dalam kisah mereka adalah kemerdekaan untuk mengejar sesuatu yang diminati dan disukai; puisi, seni akting dan teman-temannya yang tidak biasa untuk orang banyak di masa itu. Lingkungan sekolah tempat cerita ini terjadi sangat konvensional. Tingkat kecerdasan dinilai dari angka dan hal-hal monumental yang bisa dijadikan rekor. Persis seperti kondisi pendidikan Indonesia di mana menjadi anak IPS atau Bahasa itu merupakan sebuah cacat nista yang harus ditutupi. Padahal, orang-orang dengan minat murni ke sana layak mendapat tempat yang sama.

LE CERCLE DES POETES DISPARUS

Sosok John Keating adalah antitesis dari sisi konvensional pendidikan yang menurut saya sangat membosankan dan cenderung menciptakan manusia yang tidak terbuka pada ruang perbedaan yang jelas-jelas terbentang lebar di kehidupan sebenarnya. Untuk proses pembukaan mata inilah saya berhutang pada film ini.

Kesetaraan dan pembebasan adalah kunci. Dead Poet’s Society seolah menjadi salah satu pendorong saya untuk berani menerapkan kredo paling tebal dari film itu; “Carpe diem, seize the day, make your lives extraordinary.”

Filmnya sendiri berakhir anti klimaks. Melawan harapan dan selera orang banyak. Tapi, itu memberi sinyal yang tidak kalah kuat, bahwa life is a journey, not a destination.

Dead Poet’s Society dan (dan Kolese Gonzaga pada fragmen cerita yang lain) mengajarkan saya untuk bisa jujur dengan diri sendiri di dalam sebuah perjalanan panjang pencarian jati diri. Termasuk untuk bisa keras pada diri sendiri dengan memaksanya berkata tidak pada hal-hal yang tidak disukai. Berpikir merdeka dan melakukan hal yang disukai dengan tanggung jawab besar adalah warisan yang diberikan oleh hidup pada saya, salah satunya, lewat Dead Poet’s Society.

Romantisme itu, tidak akan hilang dan akan saya ulang di masa yang akan datang dengan membaginya kepada orang-orang baru yang mungkin akan dikenal sepanjang perjalanan. Robin Williams dan John Keating akan selalu hidup dan bersuara di dalam kisah saya.

5.0.2

Semoga sosok itu di manapun ia berada, bisa melihat saya satu hari nanti kembali ke Kolese Gonzaga dan mengajar beberapa jam reguler per minggu. Topiknya tentang profesi menulis yang bisa dikejar dengan konsekuensi berat sekalipun; pergi meninggalkan bangku sekolah yang dianggap tidak memberi guna. Terima kasih, Robin Williams. Have a safe trip. (pelukislangit)

12 Agustus 2014
11.52
Buat Robin Williams.
Gambar dicuri dari internet.

Setelah enam bulan absen, saya mulai berlari lagi. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa saya sudah berhenti berolahraga berbulan-bulan. Padahal, di dalam sejarah hidup saya, ini merupakan sebuah kebutuhan.

Di bangku sekolah, olahraga membuat saya ketagihan. Tapi, jadi manusia dewasa itu selalu sulit, ada banyak kepentingan yang beradu dan membuat segala sesuatu yang sifatnya sekunder cenderung terlupakan. Termasuk olahraga.

Nah, libur lebaran kali ini, saya tidak pergi kemana-mana dengan berbagai alasan. Ini kejadian pertama dalam tujuh tahun terakhir. Biasanya, saya sudah punya rencana banyak; mau ke sana, mau ke situ. Tapi kali ini tidak. Jadi, agendanya memang menikmati Jakarta.

Saya sedang punya sebuah proyek menyenangkan yang harus diselesaikan. Dan pilihan lokasi untuk menyelesaikannya ada di Jakarta; lebih tenang, hemat ongkos dan karena kotanya sedang sepi, maka unsur kesunyian bisa didapatkan dengan mudah.

Jadi, selama libur panjang ini, agenda saya tetap lumayan terstruktur; bangun pagi, mengerjakan proyek dan menyudahinya di sore hari. Rasanya tetap mirip dengan agenda kantoran tapi kali ini untuk proyek pribadi. Kedisplinan untuk mengerjakan proyek ini tetap terjaga.

Nah, di tengah proses mengerjakannya, saya tiba-tiba mendapatkan link untuk menyaksikan video brengsek ini:

Video ini lumayan bikin mikir dan memprovokasi. Jadilah, coba diterapkan. Hitung-hitung mencoba hal baru yang lucu juga kalau dipraktekan. Intinya adalah membangun interaksi dengan banyak orang.

Hari Minggu kemarin, atau pas malam takbiran, saya makan malam dengan Lucia Nancy, seorang teman yang karakternya lumayan unik; dia merupakan seorang guru renang, aktivis social media dan perempuan yang mau menukar tatapan mata ketika berbicara panjang lebar. Unik karena punya dua jendela kehidupan; satu di social media dan satu di dunia nyata.

Perempuan ini sangat energik. Salah satu bagian yang menyenangkan adalah ketika kami berbicara tentang olahraga. Saya bilang betapa merindu akan kehadiran olahraga di dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga cerita bahwa olahraga sendiri di gym kantor, rasanya kurang ok. Pernah dicoba lalu kemudian kehilangan selera.

Dia lalu, menceritakan interaksi dengan sejumlah murid kecil yang ia asuh sehari-hari. Membagi kisah tentang cara mereka berlatih renang, ribetnya mengasuh anak yang tiba-tiba grumpy karena urusan rumah dan beberapa hal lain.

Dan tiba-tiba tercetuslah sebuah kalimat penting, “Apa besok kita lari aja, Cy?”

Kami tertawa. Tidak menganggap kalimat itu serius. Kami kebetulan tidak merayakan Idul Fitri, tapi kebagian libur panjangnya. Oleh karena itu, tidak ada agenda silaturahmi ke rumah saudara atau berkunjung ke rumah teman-teman. Dengan sendirinya, ada banyak waktu harus dihabiskan.

Malam berakhir dan kami pulang. Kalimat tadi masih tidak dianggap serius sampai kemudian keesokan harinya ia meninggalkan pesan di ponsel saya.

“Lix, jadi kepikiran. Apa kita lari aja sore ini?” begitu ucapnya.

Karena membacanya sebangun tidur, saya perlu waktu untuk sedikit mencernanya. Beberapa waktu kemudian, saya membalasnya, “Ayok. Sore aja ya. GBK?”

Akhirnya kami sepakat berjanji untuk bertemu sore harinya. Dengan catatan, ia tidak boleh menggunakan standar atletnya. Harus mengikuti cara saya berlari dan santai. “Supaya tidak terintimidasi,” pikir saya dalam hati.

Perempuan ini sudah pernah ikut lari yang serius berkilo-kilometer itu. Plus, pekerjaannya di bidang olahraga. Jadi, sudah pasti kondisi fisiknya jauh lebih baik ketimbang saya. Saya harus memastikan bahwa ia tidak akan mengintimidasi saya dengan target pribadinya. Haha. Dan ia menyanggupi.

“Udah lama nggak lari gini sih. Ada kali sebulan,” ujarnya. Buset! Sebulan dibilang lama. Apa kabar dengan saya yang sudah lebih dari enam bulan?

Akhirnya, kami siap berdiri di salah satu pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Menu pertamanya jalan santai keliling di perimeter luar. Sembari jalan, kami ngobrol ngalor-ngidul.

Tiba-tiba, saya menemukan sebuah adegan yang seru. Adegan di mana pembicaraan dengan seseorang sama menariknya dengan jalan santai yang dilakukan. Ketika kami berlari pun, kami masih sembari ngobrol. Memang, lebih menguras energi, tapi kok larinya jadi menyenangkan ya?

Tanpa terasa, saya mencatat sebuah pencapaian penting: Lari satu kilometer tanpa berhenti. Gila! Ini belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir kayaknya. Biasanya paling hanya beberapa ratus meter lalu break. Lalu kemudian lari lagi. Begitu seterusnya berulang.

Poin pentingnya terekam: Ngobrol jadi menu utama. Namanya, ngobrol sambil lari. Bukan lari sambil ngobrol.

Lari sama Sesa

Ini sebenarnya bergantung pada obyektifnya apa. Kalau saya kan hanya cari napas panjang dan gerak, harusnya tidak menjadi masalah. Tapi beda obyektifnya kalau misalnya mau mencatat rekor personal tentang kecepatan dan jarak tempuh. Cara ini tentunya tidak obyektif. Jadi, harus tanya sama diri sendiri dulu, mau yang mana? Toh, olahraga efeknya selalu personal. Sudah tidak lagi untuk dibanding-bandingkan untuk saya.

Sesi kami malam itu dibubarkan oleh hujan deras yang tiba-tiba muncul. Hanya dapat tiga putaran –dua jalan santai, satu lari santai—. Ada suatu yang tinggal di dalam diri saya dan menanti untuk diseriusi lebih dalam lagi di hari-hari berikutnya: Lari itu ternyata lebih penting ‘dengan siapanya’ ketimbang ‘bisa semananya’.

Eksperimen berlanjut. Selang sehari setelah recovery, saya mengontak dua orang teman saya yang lain, Berry Muchtar dan Kurniawan Bambang.

“Eh, lari yuks sore-sore. GBK aja,” ajak saya kepada mereka.

Setelah beberapa jam, bertemulah kami di rumah saya sekitar pukul enam sore lalu kemudian bertolak ke GBK lagi. Nah, geng ini obyektifnya agak beda. Wawan sedang menyiapkan diri untuk ikut maraton beberapa bulan lagi. Jadi, dia agak ambisius karena punya target sendiri.

Sementara Berry, mirip sama saya, yang penting gerak. Dia tapi lebih reguler ketimbang saya dalam hal frekuensi berlari. Akhirnya, kami memulai skenario yang sama dengan jalan kaki santai dulu sembari membiarkan Wawan berlari lebih kencang mengejar targetnya.

Lagi, saya dan Berry malah lebih asyik mengobrol. Semacam catch up tentang hidup masing-masing dan bercerita tentang banyak hal yang kalau diingat-ingat jadi susah untuk diceritakan kembali –maklum, tipe pembicaraan dengan teman-teman baik yang selalu berakhir dengan keadaan seperti ini—.

Setelah lari satu kilometer, saya berhenti. Sementara Berry lanjut. Wawan, entah sudah ada di mana. Anyway, saya lebih suka berlari melawan arah. Jadi, akan berpapasan dengan banyak orang.

Tanpa sengaja, saya bertemu dengan Mya Santosa. Ia juga merupakan seorang teman lama yang kalau ngobrol seru. Saya sedikit memaksanya untuk balik arah dan jalan mengikuti pola saya. Kami kemudian ngobrol ngalor-ngidul tentang kebutuhan untuk olahraga dan berlari. Tidak berapa lama, teman berolahraganya –yang memilih untuk bersepeda— datang dan kami malah sempat ngobrol lagi. Sayang, mereka harus segera beranjak pergi. Maklum, sudah cukup dan mungkin punya agenda lain. Saya jalan lagi.

Tidak berapa lama di depan, Berry dan Wawan sudah menepi sambil jalan santai. Saya menghampiri mereka. Dan kami bertiga jalan santai lagi.

Ngobrol lagi. Kali ini lumayan lucu karena ada Wawan, salah satu teman kami yang paling humoris. Di putaran kedua, kami menghajar lagi satu kilometer lari santai dan kemudian berjalan. Total, kalau mau dihitung, kami jalan lebih dari tujuh kilometer hari itu.

Dua sesi lari yang saya jalani, mirip tapi sedikit beda. Yang menjadi pembeda adalah orang yang ditemui di dalam sesi itu. Rasanya seperti ngobrol paralel dengan beberapa orang. Kali ini sama si situ, besok sama si itu, lusanya sama si itu. Benang merahnya adalah ngobrol dan berinteraksi dengan orang.

Dulu, ketika masih aktif berolahraga dengan dosis yang tinggi, saya selalu melakukan olahraga tim. Main sepakbola, basket, pingpong atau apalah yang sifatnya permainan. Itu perlu teman untuk berbagi. Dan setelah dipikir-pikir, itu yang dirindukan.

Kota besar, dalam suatu masa, bisa membuat saya tersesat. Interaksi langsung dengan orang, seperti yang disajikan dalam video yang saya sebut di atas sebenarnya menjadi inti dari kegiatan itu. Sembari mendayung, dua tiga pulau tercapai. Akhirnya jadi seperti itu.

Saya paham, apa yang ternyata hilang; saya memutuskan untuk malas lari sendiri. Padahal, dulu waktu kerja di SCBD, agenda lari lumayan rutin. Bahkan sempat beberapa kali lari sendiri bertemankan musik. Angle olahraga dan obyektif yang ingin dicapai itu yang selalu harus dipertanyakan. Setelah mendapatkan ide dan diseriusi, barulah ketahuan enaknya gimana.

Dan saya memasuki fase baru yang bernama ketagihan ketika saya mengajak seorang teman lain, Sesarina Puspita, untuk berlari sore-sore di Taman Suropati. Lokasinya beda dengan dua sesi sebelumnya.

Sesa ini karakternya berbeda dengan Ucy, Berry, Wawan dan Mya. Jadi, obrolan dengannya juga punya variasi yang lain. Yang satu ini, lumayan kompetitif. Jadi, ketika saya memulai lari dengan kecepatan yang sangat rendah, dia terprovokasi untuk melebihinya.

“Ah, elo tuh kalau lari gigi satu, Lix. Naik kek ke gigi dua,” katanya. Padahal trek yang kami pilih lebih kecil ketimbang GBK. Jauh lebih kecil. Jadi, kalau di Taman Suropati, setidaknya saya bisa dua-tiga putaran nonstop. Sementara, kalau di GBK, baru bisa sekali putar nonstop.

Lari di Taman Suropati juga lumayan seru untuk people watching. Sesa ini, orangnya lumayan seru kalau diajak untuk menjudge orang yang kita temui di sepanjang perjalanan. Hanya untuk sekedar bergunjing lalu tertawa. Jadi, lumayan menyegarkan.

Tiga sesi pengalaman lari saya kok jadinya menyenangkan ya? Semacam menimbulkan sebuah efek baru dari olahraga yang sudah lama tidak saya rasakan.

Benar-benar satu-dua-tiga pulau terlampaui kalau gitu; ketemu dengan teman, catch up dan berolahraga. Karena waktu, tidak pernah bisa diulang dan mungkin kita bisa kelewatan banyak hal kalau hanya menunggu sesuatu datang.

Yang juga seru kalau lari malam, seselesainya pasti letih. Jadi, sampai rumah tinggal mandi dan tidur. Besoknya bisa bangun pagi. Ritme hidup juga bisa lebih menarik. Ada alternatif cara menjalaninya. Dan itu menyegarkan.

Misi berikutnya untuk saya pribadi, adalah mempertahankan kebiasaan ini di hari kerja. Sudah ada beberapa ide, misalnya saja lari malam sepulang kerja dengan orang-orang berbeda atau lari pagi-pagi untuk mengejar fitness diri sendiri. Kita lihat, saya kalah sama kota besar atau tidak. Seperti yang sudah pernah saya bilang, Jakarta ada untuk ditaklukan, bukan untuk dikeluhkan.

Jadi, yang mau lari sambil ngobrol-ngobrol sepulang kerja, kabari saja ya. (pelukislangit)

1 Agustus 2014
Rumah Benhil

Apa yang membuat potret seorang pemimpin layak dipajang di dinding rumah?

Foto Foto Tanda Tangan

Dua orang penting dalam hidup saya di masa lampau, kakek kandung dan seorang nenek sepupu, memasang potret Soekarno di rumah mereka. Ketika ditanya kenapa, jawabannya relatif sama; Soekarno, menurut mereka, memberikan inspirasi dan layak diabadikan. Sumbangsihnya kepada bangsa ini luar biasa besar dan ia ada di dinding-dingding mereka karena sosoknya bersemayam di hati.

Dari alasan sederhana itu saya jadi paham, kenapa potret seorang pemimpin harus terpajang di dinding di rumah orang-orang berstatus rakyat biasa.

Keluarga saya bukanlah teman dekat pemerintah. Alkisah yang sedang saya raba dengan samar, mungkin membawa kami secara turun-temurun ada di posisi yang berseberangan dengan penguasa. Lebih dari sepuluh tahun setelah kedua sosok di atas meninggal dunia, saya terjebak dalam sebuah pemikiran baru untuk memasang potret seorang pemimpin di dinding rumah saya.

Fotografer Poriaman Sitanggang mungkin bisa dimintai pertanggung jawaban akan ide ini. Sebuah malam larut di FX beberapa tahun yang lalu, menjadi awalan, saya datang ke sebuah galeri dan menemukan sebuah sisa undangan pameran yang sudah selesai. Pameran berjudul Magnet of Jokowi-Ahok itu menampilkan foto-foto yang diambil Sitanggang ketika mengikuti Joko Widodo dan Ahok berkampanye untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Foto-foto Sitanggang menggambarkan sebuah sosok yang intim dengan konstituennya. Imaji akan politisi yang luar biasa tidak menarik –karena penuh dengan kebohongan dan omong kosong—, seolah bisa diubah oleh gambar-gambar yang saya lihat di ruang pamernya itu. Walau tidak lengkap, karena hanya tinggal sisa-sisa, serangkaian gambar itu menempel. Joko Widodo memulai sebuah karir politik di pentas yang lebih besar dengan kemasan sederhana; bisa diterima oleh orang banyak lewat sebuah kesederhanaan itu sendiri.

Cerita selanjutnya, tentang Joko Widodo, rasanya sudah kita ketahui semua. Basi jadinya kalau diulang lagi.

Tapi, cerita selanjutnya yang kita ketahui bersama itulah yang membuat saya memutuskan untuk memburu tanda tangan Joko Widodo untuk dibubuhi di gambar undangan itu. Posenya luar biasa hebat. Gambarnya bisa bicara dan mengajak orang membayangkan ada di dalamnya. Seperti ini kurang lebih:

Jokowi Felix Yaw (8)

Saya pernah bekerja dengan beliau dari dekat di Kuala Lumpur dalam sebuah kerja sama bisnis. Tapi, saya gagal untuk menyetopnya ketika ia sedang bekerja melakukan studi banding pengelolaan air dan kereta monorail. Tujuannya kerja dan saya tidak punya nyali untuk mencuri waktunya.

Undangan itu masih terpajang rapi di rumah saya. Bentuknya tidak besar, mungkin hanya seukuran A4 dibagi empat. Tapi, saya sudah mengulangi apa yang dilakukan oleh dua pendahulu di atas; menyimpan potret pemimpin di rumah.

Hari Jumat, 25 Juli 2014 yang lalu, kesempatan datang lagi. Saya tiba lebih pagi di kantor karena memang punya janji dengan sejumlah kolega pada pukul sembilan pagi. Belum lengkap kaki melangkah memasuki gedung kantor, telepon bordering. Karena fotografer kantor yang sekarang sering beraksi sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, saya diminta untuk mengambil gambar sebuah peristiwa penting: Joko Widodo beserta rombongannya akan menggunakan jasa perusahaan tempat saya bekerja.

Jokowi Felix Yaw (1)

Tentu saja saya tidak menolak. Begitu mengetahui jadwal dan mengurus segala tetek bengek untuk bisa masuk ke dalam rombongan yang bekerja melayani penerbangan hari itu, saya langsung bersiap. Ide paling dasarnya sudah ketebak: Mencetak fotonya yang saya jepret di Gelora Bung Karno (GBK) beberapa hari sebelum pemilihan umum awal bulan ini.

Karena tidak ada mesin cetak berwarna di sekitar saya, sebuah kertas A4 kosong jadi pilihan. Foto dibikin hitam putih dan langsung dicetak. Skenario yang dibangun adalah meminta tanda tangan Joko Widodo untuk kemudian dibingkai dan dipajang di rumah.

Foto yang saya hasilkan di GBK beberapa minggu yang lalu itu merupakan salah satu foto favorit pribadi. Saya berhasil merekam ekspresi tenang yang jadi salah satu benang merah paling tebal dari sosok Joko Widodo.

Ok, amunisi sudah disiapkan. Tapi, fokus utama adalah mendokumentasikan momen berharga ini. Karena memang tugas yang diberikan oleh orang kantor adalah itu. Sekitar pukul satu siang, rombongan bertolak dari kantor menuju Bandara Soekarno-Hatta. Saya turut serta sejak positioning flight dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdanakusuma.

Jokowi Felix Yaw (3)

Rombongan Joko Widodo merapat beberapa jam kemudian. Sekitar dua puluh menit sebelumnya, Iriana Widodo tiba di ruang tunggu. Pembawaannya begitu sederhana, terlepas dari tas dan sepatu mahal yang ia kenakan. Ia tampak sangat apa adanya; dandan tidak berlebihan dan jadi dirinya sendiri.

Ada satu kejadian lucu, ketika melangkah masuk ke dalam ruangan, Joko Widodo langsung disambut oleh orang banyak yang ingin bersalaman dengannya. Jangan bayangkan sebuah scene lapangan di mana ia dikerubuti orang banyak. Ini hanya sederhana karena memang ruang tunggu itu tidak terlalu besar. Setelah meladeni semua orang yang ingin bersalaman dengannya –Joko Widodo yang bergerak, bukan orang yang ingin bersalaman dengannya yang bergerak— ia tiba-tiba sudah melewati posisi Iriana Widodo menunggu.

Jokowi Felix Yaw (2)

Seorang ajudan menyadarkannya. “Pak, itu ibu ada di belakang,” ujar ajudan itu. Sontak, ia langsung berbalik badan dan sedikit menggerutu lucu kepada si ibu. Scene ini menarik sekali, bagaimana seorang suami seperti menemukan istrinya yang ketelisut. Hubungannya nampak sangat cair dan tidak diselimuti protokoler yang ribet.

Sekedar informasi, rombongan Joko Widodo ini punya standar pengamanan yang lumayan ok. Setidaknya ada lebih dari sepuluh pengawal yang ditugasi oleh negara –bukan swasta, tapi mereka merupakan anggota TNI/ Polri— di sekitarnya. Bentuknya kesaru. Begitu juga senjata pengamanan yang dibawa. Standarisasi pengamanannya sangat bisa diterima, tapi yang lebih bikin kagum adalah sifat mereka mengamankan si presiden terpilih. Tidak tampak cara pengamanan super kaku yang biasanya didapati menempel di sosok seorang pejabat publik. Dari awal sampai akhir, rasanya si Joko Widodo ini memang benar-benar menjalankan prinsip yang sering ia gembar-gemborkan; ingin dekat dengan rakyat dan memosisikan diri sebagai pelayan publik yang bisa dijangkau oleh masyarakatnya. Ia pelayan, bukan pemerintah.

Anyway, setelah diperhatikan baik-baik, ia nampak lelah. Raut wajahnya seperti ada di dalam indikator energi yang rendah. Setelah acara seremonial foto bersama dan salaman yang tidak henti, akhirnya ia tiba di tangga pesawat yang telah menunggu. Adegannya standar, termasuk ditunggu wartawan yang sudah dipersilakan masuk lebih dulu untuk selfie sejenak di depan tangga pesawat. Itu juga masih dilayani.

Jokowi Felix Yaw (4)

Ini level selebritinya bukan main. Semua nampak ingin bersalaman dengan Joko Widodo, menunjukkan bahwa ia memang dicintai orang.

Semua prosedur keselamatan dijalankan, tapi si orang yang jadi pusat perhatian ini langsung terlelap. Mungkin, saat-saat di dalam perjalanan seperti ini benar-benar harus dimanfaatkan. Maklum, waktu jadinya terbatas kalau harus melayani perhatian banyak orang.

Di sisi lain, seluruh kebutuhan pekerjaan saya sudah selesai dilakukan. Tugas profesional saya bisa dipinggirkan berarti. Setidaknya dua kali saya mondar-mandir ke toilet depan untuk memastikan apakah Joko Widodo sudah terbangun dari tidurnya atau belum. Saya mulai resah.

Resah karena tahu dengan pasti bahwa waktu untuk meminta tanda tangan itu semakin sempit. Ada di dalam pesawat dan duduk dekatnya adalah kesempatan paling baik untuk menunaikan niat ini. Di sebelah saya, salah seorang pengawalnya duduk, ia juga ingin istirahat.

Jokowi Felix Yaw (5)

Saya menyempatkan diri untuk menyolong waktunya mencuri trik bagaimana agar bisa meminta tanda tangan si bapak.

“Pak, ini saya mau minta tanda tangan di atas foto saya ke bapak. Enaknya kapan ya?” tanya saya sembari menunjukkan hasil foto saya yang sudah dicetak sebelumnya.

“Ah, kalau dia bangun, samperin aja, mas. Orangnya enak kok buat gini-gini. Nggak masalah dia pasti,” jawabnya santai seolah hal-hal seperti ini memang sudah biasa terjadi.

“Bener, pak?” saya mencoba memastikan walaupun sudah yakin bahwa si bapak pasti tidak akan menolak permintaan saya.

“Iya, dia kayak gitu emang, bisa stop kapan aja buat ngobrol sama orang. Kita juga harus lihai mengawalnya. Tapi nggak masalah kok kalau gitu, silakan aja,” jawabnya lagi mengulang hal yang sama.

Akhirnya, setelah menunggu lumayan lama, pesawat menunjukkan tanda-tanda akan mendarat. Ia terbangun. Teman saya yang bertugas menjadi flight attendant di penerbangan itu memberi kode bahwa ia sudah bangun. “Ok, begitu landing, langsung saya buru,” pikir saya dalam hati.

Benar saja, begitu pesawat sudah stabil dan makin memelan mendekati terminal, saya bangkit berdiri dari kursi saya. Langsung menyambangi kursi tempat ia duduk.

Tanpa basa-basi, saya langsung menodongnya.

“Selamat sore, pak. Saya mau minta tolong, kemarin saya ambil gambar bapak di GBK. Boleh ditandatangani nggak, pak? Buat dipajang di rumah. Itu bersejarah sekali konsernya,” cerocos saya padanya. Ia menyimak kata-kata saya.

“Iya,” balasnya singkat kemudian.

Iriana Widodo yang duduk di sebelahnya ikut berbicara, “Fotonya bagus.”

Saya tersenyum ke arah mereka sambil melihat Joko Widodo yang nampak kebingungan meletakkan tanda tangannya di mana.

“Buat Felix ya, pak. Bisa di mana saja tekennya. Bebas. Tulisan Felixnya kayak gini ya,” kata saya sembari menunjukkan ID Card yang memuat nama lengkap saya.

Ia membalas singkat lagi, “Iya.”

Saat ia membubuhkan tanda tangannya, saya menjepret beberapa foto. Buat saya, itu lebih penting ketimbang bisa berfoto bersama.

Jokowi Felix Yaw (7)

Adegan itu berlangsung cepat. Yang paling gila, adalah ketika selesai dan menyerahkan kertas itu kepada saya.

Sambil menjabat tangan saya, ia berbicara singkat, jelas dan padat, “Terima kasih ya, mas.”

Saya mendadak gila. Seorang presiden terpilih bilang terima kasih kepada kamu? Apakah ini nyata? Atau tidak nyata? Saya tidak percaya kalimat itu mengalir darinya. Catat: Inisiatifnya datang dari dia!

Gestur itu luar biasa keren dan mungkin tidak akan saya lupakan sepanjang usia. Itu semakin menunjukkan kalau ia memang orang biasa yang kebetulan perannya memimpin Indonesia. Tidak lebih. Saya tidak sedang bertemu dengan seorang pejabat, tapi saya sedang bertemu dengan seorang rakyat Indonesia yang posisinya sama tinggi dengan saya.

Makin sah bahwa tanda tangan itu harus dipajang di rumah saya. Hal-hal kecil model begini yang buat ia bisa diterima orang banyak. Sekaligus secara instan membuat saya paham, kenapa harus memasang potret seorang presiden di rumah.

Terima kasih, Joko Widodo. Selamat memimpin Indonesia. Tuhan berkati. (pelukislangit)

27 Juli 2014 – Rumah Benhil
29 Juli 2014 – Rumah Benhil

Jokowi Felix Yaw (6)

Buat Kenangan

 

21 Juli 2014

*) Untuk Joko Widodo dan fenomena Jokowi adalah kita

Processed with VSCOcam with f2 preset

Jakarta di malam hari, selalu bercahaya. Seperti biasa, lampu-lampu menjadi teman setia yang mengawal perjalanan pulang ke rumah. Kota ini bisa diakali, dengan memilih jam-jam tertentu untuk berkendara atau menggunakan rute yang tidak populer untuk mencapai rumah. Ia bisa ramah.

Dan langit Jakarta malam ini jadi terlalu personal untuk saya. Di balik riuh rendah degup jantung mengejar waktu, melintasi jarak lebih dari 40km selepas makan enak bersama teman-teman di kantor dan niat super besar untuk datang ke kawasan padat Tebet, saya menemukan sebuah fakta politis yang luar biasa bagus untuk dikenang.

Saya mengulangi kalimat yang sama berulang-ulang, kepada sejumlah orang berbeda yang saya temui di Ruang Rupa, sebuah ruang publik yang malam ini bersolek untuk sebuah kepentingan politik praktis berlatar masa depan Indonesia.

Processed with VSCOcam with m3 preset

Kalimatnya berbunyi seperti ini:

“Mungkin, ini perang terhebat yang kita hadapi setelah 1998.”

Saya memilih kata “kita” dengan sadar. Kata itu dalam pengertian dasar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bisa dilihat di http://www.kbbi.web.id punya arti seperti ini:

pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara; 2 cak saya; — orang cak kita

Saya dan orang yang diajak bicara. Saya dan yang diajak bicara, sedang terlibat dalam sebuah perang besar setelah periode jatuhnya Soeharto 1998. Pemilu presiden tahun 2014 ini mungkin merupakan sebuah fenomena politik yang layak direkam oleh sejarah Indonesia, terlepas dari siapa pemenangnya nanti.

Yang menarik adalah latar belakang saya dan orang-orang yang diajak berbicara malam ini. Saya dan mereka, hidup di tengah dunia kreatif, dunia yang menjadikan kreativitas dan kebebasan sebagai panglima tertinggi.

Kita bisa bicara panjang lebar tentang sisi pemahaman konsep itu, tapi rasanya tempatnya bukan di sini. Simpan saja itu untuk obrolan bertemankan kopi lain kali. Susah menggunakan bahasa teks, karena semuanya pasti meyakini bahwa proses masing-masing ke titik di mana kami berdiri saat ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang perlu dedikasi dan keberanian tinggi.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Saya merupakan seorang penulis. Kebanyakan yang saya tulis adalah perkara musik. Orang-orang yang saya ajak bicara tadi, punya latar belakang masing-masing: Ada yang anggota band independen yang kerjanya keluar negeri terus, seniman lepas tapi penyiar radio kesohor di Jakarta, pekerja agensi iklan yang sedang menegosiasikan kepentingan idealismenya, manajer band, fotografer lepas, bekas anggota lembaga kesenian kota, pekerja NGO yang super peduli sama urusan people empowerment, pembuat film, produser radio yang juga MC kondang bermulut sampah yang mirip dengan timer di Terminal Kampung Rambutan dan bahkan seorang perempuan super menarik yang tanpa rencana bertemu di tempat tadi.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Orang-orang yang tadi saya ajak bicara adalah mereka yang punya karakter mirip seperti saya; perlu melakukan sesuatu yang disukai sebagai sebuah upaya untuk menerapkan konsepsi manusia bebas, yang perlu berkarya untuk mengisi perjalanan hidup. Kami berlatar belakang kepercayaan pada seni –apapun disiplinnya— yang membuat manusia punya nilai penting yang harus direkam dan dirayakan.

Persoalan berkarya, seringkali hanya pada level kepuasan pribadi yang paling banter menghasilkan senyum dan obrolan menarik dengan orang-orang yang tertarik. Atau, ada beberapa dari mereka yang memang bisa memenuhi ongkos hidup sehari-hari dari profesi berkeseniannya. Mungkin juga, ada yang seperti saya yang memang memilih untuk tidak menjadikan dunia seni sebagai sandaran hidup utama karena alasan ingin terus menerus merdeka berkarya tanpa dibebani argo pemasukkan yang harus dipenuhi setiap bulannya.

JKW Ruang Rupa (4)

Sehari-hari, saya adalah seorang buruh korporat yang sedang mengawal sebuah start up di dalam perusahaan. Saya sudah memasuki tahun kelima bekerja di sini, telah melihat banyak hal dimainkan dan diracik dengan gaya pribadi. Ada ruang yang besar untuk berekspresi, makanya saya betah. Paling gampang untuk memahami kondisi hubungan saya dengan korporasi yang mempekerjakan saya adalah pakaian sehari-hari yang dikenakan ke kantor, gaya rambut, tato dan sepatu warna-warni yang melekat di kaki. Pekerjaan buat saya adalah sebuah proses berkarya yang menghidupi; baik dari segi finansial atau kepuasan batin pribadi.

Untuk menjaga ‘kewarasan’, saya tetap menulis. Fungsi menulis untuk saya adalah sebuah sarana bersenang-senang mengekspresikan diri. Uang selalu jadi bonus. Kadang-kadang kalau suka, bisalah uang-uangan dipinggirkan. Saya ada dalam kondisi aman; hidup tidak berkekurangan, apa yang diinginkan bisa kejadian dengan kerja keras dan punya garansi sosial.

Keseimbangan antara hal-hal yang memerdekakan ini, adalah sebuah kondisi yang tidak dialami oleh saya sendiri. Orang-orang yang saya ajak bicara tadi, kebanyakan punya kondisi yang setipe. Kami sedang tidak dalam kondisi terancam kehidupannya. Ada banyak orang yang mirip dengan saya di luar sana. Satu yang pasti: Sulit untuk kami kaya raya dari segi materi.

Apapun peristiwa publik yang terjadi di sekitar kami dalam satu-dua bulan ini, tidak akan membuat hidup personal berubah banyak. Kenapa? Karena kami terbiasa jadi manusia-manusia yang independen, yang percaya bahwa hidup selalu harus diisi dengan kerja keras. Kalau tidak mau kerja, ya jangan harap yang diinginkan bisa jadi kenyataan. Kalau mau punya keinginan atau mimpi yang besar, ya harus mengisinya dengan harapan dan daya upaya.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Kami tidak tergantung pada pemerintah yang kebanyakan omong kosongnya. Kami tidak tergantung pada saluran-saluran arus utama yang punya sekian banyak syarat dan ketentuan. Dan kami masih punya waktu untuk menenggak sebotol bir di akhiran hari sambil bersenda gurau dengan kawan-kawan terdekat. Kami bahagia dengan karya yang kami jalani dan isi. Kami bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Tapi, satu-dua bulan ini ternyata merupakan sebuah periode ‘perang’ yang sangat melelahkan. Sikap politis yang tadinya bisa dipinggirkan dan disimpan secara personal, mendadak minta dikeluarkan dan diperhatikan. Politik praktis menjadi sebuah adegan kecil yang harus dimainkan di tahun 2014 ini.

Saya sedang mendokumentasikan sebuah peristiwa penting di masa hidup saya di mana pandangan politis pribadi harus dikolektifkan dan dijadikan sebuah bola salju yang siap berperang menebas lawan yang berseberangan.

Tentu saja, kamu tolol bukan main kalau mengartikan kalimat terakhir di paragraf sebelum ini sebagai tebasan fisik, ancaman intelektualitas atau bahkan menginjak-injak ideologi orang. Tidak, kami bukan orang yang seperti itu. Jadi berbeda itu biasa saja, sangat bisa dihormati. Tapi punya hasrat untuk didengar dan direnungkan itu adalah kebutuhan dasar manusia, itu yang sedang diperjuangkan saat ini.

Orang-orang yang hadir di Ruang Rupa malam ini kebanyakan merupakan pendukung Joko Widodo, calon presiden nomor urut 2 yang sedang adu kencang dengan Prabowo Subianto, calon presiden nomor urut 1. Bisa dipahami, karena memang acaranya adalah sebuah pertunjukkan politik yang digelar dengan elegan, kreatif dan sesuai dengan gaya si empunya tempat.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Menunya adalah sebuah pameran kreatif yang menjadikan sosok Joko Widodo sebagai obyek ekspresi. Ada beberapa karya yang memang didedikasikan untuk mendukung Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia lewat pemilu nanti. Dan itu merupakan sebuah teriakkan politis yang luar biasa hebat.

Teman-teman bicara saya tadi, sepanjang perkenalan saya dengan mereka, jarang sekali berbicara politik. Apalagi politik praktis. Mungkin paham “Well, we don’t belong to politics” dianut dengan azas penerapan yang keras. Tapi memang begitu adanya sebelum pencalonan Joko Widodo.

Joko Widodolah yang akhirnya membuat kami bersuara. Ada banyak penyebab kenapa itu terjadi secara kolektif. Sebagiannya adalah sebagai berikut:

Pertama, mungkin karena orang yang kami dukung etos kerjanya jelas. Orang-orang seperti kami, percaya bahwa kerja keras adalah kunci dari keberhasilan. Kerja dulu, baru menghasilkan. Bukan menghasilkan berapa, lalu harus kerja gimana. Cara berpikir memandang output inilah yang jadi pembeda.

Kedua, ia paham industri kreatif, yang ternyata memberikan penghidupan yang lumayan ok untuk orang-orang yang berkarya di dalamnya. Kami akrab benar dengan cerita Joko Widodo yang datang tiba-tiba ke Festival Rock In Solo atau nonton Metallica. Beberapa dari kami, melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bahkan Slank pun turun gunung dan jadi begitu politis. Siapa yang bisa membeli Slank dan Iwan Fals di negeri ini untuk sebuah aksi politik? Tidak ada, bukan?

Processed with VSCOcam with g3 preset

Kami tidak bergantung pada tangsi-tangsi pemerintah untuk berkarya. Paham “Pasar bisa diciptakan” milik Efek Rumah Kaca, benar-benar terjadi di sini. Kondisi dunia seni yang ada di sekitar saya, sebenarnya baik-baik saja. Pasarnya sudah lumayan jadi dan bisa menghasilkan efek ekonomi yang mendukung keberlangsungan jangka panjang aktivitas-aktivitas di sini.

Otorita yang baik, seharusnya bisa mengendus bahwa sektor ini bisa menjadi sebuah alternatif yang bisa menghidupi anak muda. Lihat band yang bisa hidup dari sistem merchandise yang baik, berapa untungnya per kaos? Atau lihat desainer grafis yang ternyata bisa menjadi vendor tetap klub bola kelas dunia dan hanya berhubungan secara ekonomis lewat kiriman saldo di rekening bank tanpa pernah bertemu. Hebat, bukan? Apakah pemerintah pernah campur tangan sebelumnya? Nyaris tidak.

Tapi ketika itu bisa dibuktikan sebagai sebuah profesi yang padat karya dan guna, kenapa tidak didorong untuk maju? Itulah esensi dari pengembangan ekonomi kreatif dan peletakkannya dalam kondisi riil ekonomi negara.

Processed with VSCOcam with m3 preset

Kondisinya sendiri menurut saya seru; bagus kalau otorita mau ikut campur, tapi kalau tidak ya tidak mengapa. Toh kami bisa jalan sendiri. Kami tetap mengacungkan jari tengah kepada elemen otorita yang tidak becus. Karena esensi otorita itu adalah pelayan masyarakat.

We still fuck you big time if you’re screwing with us!

Ok. Cukup dengan termin “Kami” dan mari kembali ke ruang personal.

Jujur saja, ketika tulisan ini ditulis, saya sudah muak dengan kampanye yang dilakukan oleh kedua kubu calon presiden. Waktu kampanye terlalu lama dan level kesehatannya sudah menurun jauh. Segala cara nampak sudah dihalalkan.

Processed with VSCOcam with f2 preset

“Mungkin kleniknya juga sudah main ya,” kelakar saya pada seorang teman tadi.

Waktu kampanyenya terlalu lama. Itu membuat 9 Juli 2014 yang tinggal enam hari lagi, terasa begitu lama. Saya memilih untuk tidak menyalakan televisi atau membaca laporan berita yang isinya kampanye yang mungkin menjatuhkan kubu yang berseberangan.

Sudah keterlaluan. Tapi di saat yang bersamaan senang sekaligus bangga bahwa calon presiden yang saya dukung punya gaya yang luar biasa menarik.

Ruang Rupa malam ini menyajikan sebuah orkestra terbuka yang memberikan ruang kolaborasi kepada orang-orang yang datang untuk menyuarakan harapan mereka. Berharap, adalah pijakan yang baik untuk sebuah perjalanan maju ke masa depan. Saya sudah menerapkan prinsip ini lebih dari dua puluh tahun dan kebanyakan berhasil di level personal.

Itu yang membuat saya merasa dekat dan tidak punya jarak dengan pilihan politis saya tahun ini. Harapan itu ada di sana. Saya selalu percaya bahwa ia bukan orang yang akan menyelesaikan masalah dengan instan. Tapi ia adalah orang yang akan memimpin kita untuk mau menyelesaikan masalah. Dan memutus hubungan lama dengan masa lalu yang kadang membuat kita enggan untuk menyelesaikan masalah itu.

Harapan adalah sebuah hal intangible yang mahal sekali harganya. Keberanian untuk punya mimpi kolektif dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing orang itulah yang ada di dalam sosok Joko Widodo.

Orang-orang di Ruang Rupa malam ini semacam punya banyak harapan yang digantungkan untuk masa depan bangsa ini. Karena memang, yang perlu kita ukir bersama adalah masa depan, bukan masa lalu yang sudah tidak bisa diubah. Mau sampai lebaran kuda pun, kasarnya, masa lalu akan tetap seperti itu. Ia tertulis manis di buku sejarah dan tidak bisa diganti.

JKW Ruang Rupa (1)

Harapan itu perlu diperjuangkan dan dipertahankan ketika goncangan semakin kencang. Bisa kalah, dan punya peluang besar menang. Tapi yang penting, mari membantunya bertarung tanggal 9 Juli 2014 nanti. Itu kenapa saya menyebut kondisi ini sebagai perang terhebat yang harus dijalani setelah 1998 yang traumatis itu.

Jeleknya, segala cara cenderung dihalalkan. Hari ini kita sudah mulai mendengar drama-drama yang sudah masuk ke babak lanjutan. Dan itu, tidak pernah membuat saya merasa nyaman sebagai orang Indonesia.

Well anyway, Tuhan tidak tidur. Begitupun dengan alam raya. Manusia hanya bisa berupaya dan punya harapan, tapi kita tidak pernah tahu besok apa yang terjadi. Ada banyak resiko yang bisa dikalkulasikan, tapi tentu saja ada kejutan mengintai.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Tugas saya dan kamu yang membaca tulisan ini adalah memilih. Apapun pilihannya, semua punya hak dan alasan untuk menunaikannya. Yang jelas, berusahalah untuk menggunakan hak pilihmu. Kalau memang mau tidak memilih, datanglah ke bilik suara dan coblos keduanya atau bikin suara kamu tidak sah.

Ucapkan selamat datang pada 9 Juli 2014. Senang bisa akhirnya memilih dan ambil bagian dalam salah satu pemilihan paling dramatis negara ini. Dan puji syukur masa kampanye yang noraknya bukan main ini akan segera berakhir.

Terakhir, yakinlah bahwa kodrat seni sebenar-benarnya adalah memfasilitasi keresahan. Jadi, jangan pernah bergantung pada otorita. Kata Yang Mulia Iwan Fals, “Jalan masih teramat panjang, mustahil berlabuh jika dayung tak terkayuh.” (pelukislangit)

3 Juli 2014
Mendokumentasikan fenomena politik yang seru sekaligus menjijikan.
Malam ini, saya membawa pulang kaos kampanye politik berlabel Gildan.
Bisa dipakai semoga sampai lima tahun ke depan.
Rumah Benhil, 02.23.

Puppen - Satria NB

Setiap orang punya memori manis tentang masa remaja yang konon katanya merupakan masa paling indah di dalam perjalanan hidup seorang manusia. Kita bisa berjalan beriringan ke masa lalu dengan mentiriskan seluruh partikel ingatan tentang masa remaja. Bisa berjam-jam, bertahun-tahun menceritakan hal yang sama, atau bahkan sebuah lirikan manis ke tumpukan kardus usang yang belum disentuh bertahun-tahun di gedung rumah orang tua.

Itu yang terjadi pada saya hari ini. Saya menghabiskan hari Minggu di rumah ibu di Depok. Ketika bangun agak siang tadi, langsung ada ide untuk melihat ke gudang dan mengaduk sejumlah kardus sisa pindahan saya dari Bandung ke Jakarta tahun 2008 yang lalu. Motifnya mencari sejumlah buku lama yang kadang-kadang menarik untuk dibaca kembali.

Kebetulan si ibu baru saja mengubah tata letak gudang kami, jadi agak kaget menemukan kardus-kardus saya berpindah tempat. Kardus paling atas tulisannya “Gonzaga Stuff”. Menarik untuk dibongkar.

Saya adalah tipe orang yang suka menyimpan masa lalu. Sejumlah orang dekat, lumayan kenal dengan sifat ini. Di sekitar hidup saya, sampai hari ini, ada sejumlah perintilan tidak penting yang masih tersimpan. Itu membuat jumlah barang saya terlampau banyak. Tidak semuanya punya arti padahal, tapi ya perasaan untuk tetap menyimpan itu masih tinggal.

Di kardus yang mengindikasikan barang-barang dari masa SMA saya itu, tersimpan banyak dokumen yang sekarang kurang penting lagi. Paling banyak adalah catatan pelajaran jaman SMA dan era awal-awal kuliah di Bandung dulu. Lalu kejutan datang ketika saya membuka file catatan saya.

Salah satu pembatasnya adalah bertempelkan setlist Puppen ketika mereka memainkan salah satu pertunjukannya di Jakarta tahun 2000 yang lalu. Saya waktu itu duduk di kelas 2 SMA.

Puppen - 2000

Kertas itu berusia 14 tahun. Diambil dari tahun-tahun terakhir Puppen berkarya. Yang menulis adalah Arian13. Bentuk tulisan yang sama masih bertahan di sejumlah setlist Seringai, bandnya saat ini.

Ketika menemukan setlist itu, saya langsung membayangkan Arian 13 dan Robin Malau, dua orang personil Puppen yang di kemudian hari menjadi teman baik saya. Keduanya, punya jasa penting di dalam pembentukan hidup saya lewat Puppen.

Saya mungkin hanya seorang dari ribuan yang terpengaruh oleh musik mereka di masa itu. Di dalam beberapa kesempatan, saya sering bilang bahwa Puppen mendefinisikan masa remaja saya. Untuk urusan cinta sama karya mereka, saya masih orang yang sama. Di kendaraan yang saya gunakan sehari-hari, saya masih menyimpan dua album Puppen dan sesekali memutarnya sembari berteriak kencang di perjalanan. Mayoritas liriknya masih nempel di kepala dan seolah sigap keluar tanpa diminta ketika musiknya bermain.

Guratan yang ditimbulkan begitu dalam sehingga saya memilih untuk tidak melupakannya. Musik mereka seperti teman baik yang sudah berhubungan sejak lama dan tidak ingin dibuang sepanjang perjalanan hidup.

Oh, untuk urusan profesional pun, saya pernah menulis ini:

http://www.thejakartapost.com/news/2011/02/06/puppen-lessons-a-pioneering-indie-band.html

Senang menemukan setlist itu. Saya langsung mengirim pesan ke Arian13 dan bilang sama dia kalau setlist itu harus ditandatangani olehnya dari Robin untuk kemudian dibingkai dan dipajang di dinding rumah. Puppen, tidak boleh pergi dari hidup saya. (pelukislangit)

Rumah Benhil, 29 Juni 2014
22.50
Ketika nonton debat cawapres jadi begitu membosankan.
Foto Puppen diambil oleh Satria NB pada saat farewell concert mereka di 2002.

SPM (1)

Ini lagi-lagi tentang Jakarta. Saya belum kehabisan energi untuk menuliskan cinta yang begitu besar untuk kota ini.

Saya baru saja menyaksikan Selamat Pagi, Malam, film Indonesia yang mendekati jenius. Ia memotret Jakarta dengan sangat elegan, lengkap dengan drama-drama kecil yang justru jadi kekuatan utamanya.

Di beberapa pemahaman, mungkin Selamat Pagi, Malam bisa menjadi perkenalan yang baik dengan hidup beraneka ragam wajah yang dimiliki oleh Jakarta.

SPM (10)

Film ini mengajak saya, kamu yang membaca tulisan ini dan Jakarta secara keseluruhan untuk berkaca pada kenyataan dan menjawab pertanyaan, “Apa sih yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup ini?” Dan jika sudah punya jawaban samar-samar, pertanyaan itu akan dilanjutkan dengan, “Apakah kamu menjalani kehidupan ini dengan kejujuran dan jadi diri sendiri?”

Ada begitu banyak serangan frontal pada Jakarta di film ini. Entah apa motifnya, tapi ia mengajak kita semua yang menyaksikannya untuk tertawa satir dan melakukan pengecekkan instan ke dalam sendiri tepat beberapa detik setelah film berakhir.

Ok, sekarang bahas sedikit tentang filmnya. Sebagai permulaan, silakan lihat trailernya di sini:

Ada tiga kisah utama di film ini, semuanya tentang perempuan. Dimensi konfliknya pun seru; gay, tante girang dan social climber. Titik awalnya sudah sangat menarik buat saya.

Benang merah film ini sangat-sangat tegas; apapun bisa terjadi di Jakarta dan pilihan selalu ada di tangan pemeran utama, apakah ingin ikut arus atau menentukan sikap dan tetap jadi diri sendiri.

Jakarta, adalah kota kelas dunia. Akan mudah memberikan persetujuan apabila kamu menyaksikannya dari dekat. Saya, kebetulan, hidup di udaranya sejak usia belasan awal dan terlalu banyak pergerakan ke masa depan yang terjadi sepanjang perjalanan itu. Kadang-kadang, saya bisa dibuat kaget olehnya.

Jakarta, bisa membuat orang dan menghirup udaranya berbeda 180 derajat dalam hitungan waktu yang singkat. Kamu, perlu karakter yang sangat kuat untuk bisa bertahan menjadi diri sendiri dan menjawab dua pertanyaan penting di atas itu.

Selamat Pagi, Malam membantu memberikan refleksi awal tentang bagaimana daya hisap Jakarta yang mungkin punya efek jelek untuk orang-orang yang tidak berkarakter kuat. Penggambaran sejumlah detail di film ini mewakili judgement sepihak saya tadi.

Tanpa bermaksud memberikan beberapa spoiler, tapi silakan lihat sekali lagi trailer itu. Senang rasanya bisa tertawa satir menyaksikan Naomi yang begitu independen di dalam kisah ini, sewaktu hidup di New York, lalu berubah menjadi perempuan kelas menengah Jakarta yang tipikal; hidup dengan gaya hidup konsumtif, punya ponsel dua, takut makan pecel ayam dan anti jalan kaki.

Ia juga tampak kikuk menggunakan kata panggilan “Gue-Elo” dan “Aku-Kamu” kepada Gia, mantan kekasihnya yang kembali dari perantauan dan pulang ke langit Jakarta. Sementara Gia dengan lebih aman menggunakan “I-You” untuk berbicara pada Naomi walau sesekali masih menggunakan “Aku-Kamu”.

SPM (2)

Perkara kata panggilan ini lumayan esensial. Gaya bahasa dan cara orang Indonesia, termasuk Jakarta, memperlakukan kata demi kata terkadang membuat maknanya hilang. Mungkin penggambarannya seperti ini: Kalau romansa hilang, maka kata panggilan “Aku-Kamu” sudah tidak lagi bisa diterapkan. Sementara kalau romansa berperan aktif, maka panggilan itu harus diimplementasikan dengan segera. Ini beda dengan Bahasa Inggris yang cenderung aman dari sisi makna dengan “I-You”-nya.

SPM (4)

SPM (5)

Naomi dan Gia dulunya merupakan pasangan. Mereka gay. Tapi semenjak pindah ke Jakarta, Naomi terpaksa tunduk pada keadaan dan kemudian menjadi anak muda tipikal yang harus menikah di range usia tertentu. Ia memilih untuk kalah.

Kisah selanjutnya yang juga menarik adalah Indri, seorang pemudi di pertengahan dua puluh yang ingin mencoba memperbaiki nasibnya. Ia ingin ada di liga utama kehidupan kelas menengah Jakarta yang biasa ia saksikan di tempatnya bekerja: sebuah pusat kebugaran.

SPM (2)

Ia akrab dengan teman gaynya yang mendadak jadi heteroseksual hanya demi mendapatkan uang lebih dari tante girang yang bentuknya amit-amit. Ia juga fasih menceritakan ulang mimpi menggunakan barang bermerk yang terlalu hampa makna. Ia, memaksa untuk menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirinya.

SPM (9)

Indri lupa bahwa konsekuensi dasar ketika tidak terbiasa menggunakan sepatu berhak tinggi adalah lecet dan itu mengubah level keanggunan seseorang berjalan dengan seketika.

Mulut manis laki-laki juga mampir dalam kisahnya. Diawali dengan Lumpia yang diberi nama asing sehingga membuat makanan itu seolah naik kelas dan bisa dijual mahal, perkenalannya dengan laki-laki yang ternyata brengsek sangatlah menarik.

Bagian ini membuktikan bahwa seks dan singgah sekejap di hotel jam-jaman bukanlah hanya milik mereka yang berduit. Yang cekak, dengan segala cara, pun bisa bertukar cairan dengan level kesepahaman dan kesepakatan yang sifatnya mutual. Seks, dalam kacamata Indri, adalah milik semua level sosial.

SPM (1)

Penggambaran seorang social climber lewat kisah Indri ini menurut saya merupakan cerita terbaik di film ini. Ia punya kebaruan dan memberi informasi mencengangkan yang mungkin saja terlewatkan dari keseharian saya.

Kisah terakhir adalah Ci Surya yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya yang ternyata main gila dengan seorang penyanyi kafe. Bermodalkan sebuah nomor telepon yang tertinggal di dompet suaminya, ia menelusuri jejak si penyanyi kafe.

SPM (3)

Sampai akhir film, motifnya masih mengambang; apakah ia ingin memahami kenapa suaminya main gila atau mencoba untuk merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya dulu.

Di dalam pencarian itu, ia tersesat. Di kemapanan, ia terjebak antara hal baik dan buruk yang relativismenya begitu besar. Ia melakukan hal-hal yang asing dan kehilangan kendali dalam perjalanan itu. Yang ini, nuansanya muram dari depan sampai akhir.

SPM (6)

Film ini mungkin akan kadaluarsa satu hari nanti dari segi detail adegannya, tapi muatannya akan bertahan lama. Detail-detail kekinian seperti Rainbow Cake, manusia berponsel dua (satu kemungkinan smart phone berbasis iOS atau Android, satunya sudah nyaris pasti Blackberry), tongsis atau sepatu lari, bertebaran di mana-mana sebagai penanda jaman.

Ia juga dilengkapi dengan sebuah lagu tema yang luar biasa bagus berjudul sama, dinyanyikan oleh Agustin Oendari. Ia juga menulis lagu ini.

Videonya bisa dilihat di link ini:

Saya merasa harus menajamkan tinta untuk single ini. Ia sederhana, bertemankan denting gitar dan berkekuatan kata-kata yang luar biasa besar. Dua kalimat liriknya merupakan kesimpulan penting tentang hubungan manusia dengan Jakarta:

“Karena ku tak ingin apa-apa
Dan tak dimiliki siapa-siapa…”

Kalau dipikir, Jakarta di dalam film ini bisa disimpulkan dengan sederhana oleh dua kalimat itu. Jakarta menyediakan ruang tapi sebenarnya ia bukan milik eksklusif siapa-siapa. Semua orang bisa punya hak untuk mengukir kisahnya masing-masing di tanahnya.

Tapi balik lagi ke pertanyaan di atas, “Apakah kamu menjalani kehidupan dengan jujur dan jadi diri sendiri?”

SPM (7)

Di Jakarta, semua bisa terjadi. Kamu, yang membaca tulisan ini, adalah pemeran utamanya. Film ini sangat direkomendasikan. Sayang sejumlah cutting sensor untuk adegan bernuansa seksnya tampak terlalu kasar. Tapi, itu bukan salah si empunya film. Itu salah lembaga negara. Walau sedikit cacat ini gagal membuatnya menjadi sebuah karya yang jenius. Saya suka luar-biasa-banget-sekali sama film ini. (pelukislangit)

Kedai Tjikini
23 Juni 2014
20.17

*) Seluruh gambar diambil dari situs resmi film ini. Copyright fotografer bisa dicek langsung di sana.

*)Tidak percaya saya bisa mengalahkan kesukaan pribadi saya pada Marissa Anita dengan tidak menuliskan secara spesifik peranan dan cara ia bermain di film ini. The film speaks louder than the casts. Umm.. tapi tidak salah menutup tulisan dengan gambar di bawah ini, kan?

SPM (8)

Processed with VSCOcam with g3 preset

Perasaan itu datang lagi. Tepat di momen perkenalan saya dengan dua orang personil Rabu, duo asal Jogjakarta yang baru saja memulai rangkaian tur beberapa kotanya untuk merayakan dirilisnya versi cd debut album Renjana. Perasaan itu datang ketika Gufi Asu, teman lama saya, mengucapkan kata “Rembol” yang begitu familiar dengan sebuah bagian masa lalu.

Kejadiannya terjadi di Coffeewar, sebuah kedai kopi super menyenangkan di bilangan Kemang Utara, Jakarta Selatan. Sebuah tempat kecil yang mungkin hanya berkapasitas 50 orang, tidak lebih.

“Ini kenalin, Judha sama Wednes,” katanya.

“Saya Felix. Oh, iki tho asune?” jawab saya sambil setengah bercanda kepada Gufi, juga dengan Judha dan Wednes.

Judha dan Wednes adalah dua otak brilian di balik nama Rabu, duo yang hanya berisikan perkawinan dua gitar listrik dan vokal ajaib milik Wednes. Debut album mereka, Renjana baru diperbanyak dalam bentuk cd. Sebelumnya, album ini hanya tersedia dalam versi download gratis dari Yesnowave Music dan versi kaset yang kurang bisa diakses oleh orang banyak.

Malam tadi, Kamis, 19 Juni 2014, mereka baru memulai sebuah langkah besar untuk mengawali karir musikal di luar Jogjakarta; sebuah mini tur yang singgah di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Solo dan ditutup dengan sebuah pertunjukkan di kampung halaman Jogjakarta.

Tidak banyak band baru yang punya nyali untuk menyelenggarakan tur kecil dengan hanya menyertakan tiga orang di dalam rombongan perjalanannya itu; Judha, Wednes dan Gufi.

“Mereka harus ngerti ‘Rembol’, Su. Sudah lama kan nggak ada yang kayak gini?” kisah Gufi. Ia benar, sudah cukup lama rasanya tidak ada band independen pemula yang bekerja keras untuk album mereka dengan memainkan pertunjukkan kecil di sejumlah kota untuk berkenalan dengan orang-orang setempat dan mempromosikan sesuatu yang baru saja mereka rilis itu.

‘Rembol’ adalah termin yang biasa dilakukan oleh teman-teman di Jogjakarta untuk menggambarkan sebuah perjalanan nirlaba ke kota lain guna mempromosikan sebuah karya. Dulu, sewaktu masih bersama Ballads of the Cliché, saya beberapa kali melakukan perjalanan model begini. Di mana setiap merchandise yang kami jual di jalanan menjadi amunisi untuk perjalanan ke kota berikutnya. Atau sesederhana untuk ongkos mabuk dengan sejumlah teman baru yang kami temui di sebuah kota.

Spiritnya ada di level yang sama, dengan skala yang lebih kecil, dengan apa yang dilakukan oleh Begundal Lowokwaru, band punk senior asal Malang, yang sedang bekerja keras mempromosikan album baru mereka dengan melakukan tur sporadis ke banyak kota di Indonesia.

Poster Tour

Rabu sedang melakukan perjalanan menyenangkan ini. Seminggu ini, hidup mereka pasti akan penuh cerita.

“Mana kaos tur saya?” tanya saya kemudian kepada Gufi. Rabu mencetak kaos tur terbatas untuk merayakan tur ini. Jumlahnya hanya 20, semuanya sudah dipesan habis jauh sebelum mereka memulai tur ini.

“Ini kaos kamu. Lumayan, Su, buat modalin naik travel ke Bandung,” kelakar Gufi. Kaos tur ini disumbang oleh sebuah produsen lokal, sebagai bentuk kontribusi mereka untuk mendukung tur ini. Lalu, uang penjualannya digunakan untuk memodali perjalanan pindah kota yang harus dilakukan oleh mereka bertiga.

Tadi malam, yang hadir di Coffeewar adalah mereka yang benar-benar punya niat untuk datang menyaksikan Rabu bermain. Sebelum malam tadi, mereka juga sudah pernah bermain di Jakarta, di rangkaian RRREC Fest 2013.

Pertunjukkannya sendiri memang menyenangkan. Rasanya musik Rabu memang cocok untuk dimainkan di tempat-tempat kecil nan hangat seperti itu. Termasuk juga bumbu bau kemenyan yang memang sengaja dibakar.

photo 2

Judha dan Wednes tidak terlalu komunikatif. Entah tidak atau memang belum. Tapi, apa yang mereka sajikan bisa menembus kekakuan komunikasi yang terjadi. Ini semua didukung oleh materi album yang memang bagus. Cara Wednes menulis lirik terlihat begitu menarik, begitu pula kekuatan vokalnya; kalau melihatnya berdiri, pasti tidak akan menyangkan bahwa ia punya vokal yang begitu gelap dan powerful. Judha pun punya peran yang sama besar lewat isian-isian gitarnya yang nampak begitu pas.

Oh ya, di gambar di atas, yang sebelah kiri adalah Judha dan sebelah kanan adalah Wednes.

Rabu rasa Kamis semalam menyenangkan. Sukses untuk turnya. Dan selamat mengukir cerita yang lebih baik di masa yang akan datang. Kalau membaca tulisan ini sebelum 26 Juni 2014, semoga bisa melihat mereka bermain di kota kamu.

Album Renjana sudah beredar. Tapi, itu bahasan lain kali saja. (pelukislangit)

Kantor Tangerang
20 Juni 2014
15.40

“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih ‘hidup’ dan lebih jujur memberikan saksi.” – Leila S. Chudori dalam Pulang.

Processed with VSCOcam with p5 preset

Dua gelas kopi menjadi teman hari ini. Yang satu kecil, yang satu besar. Yang satu panas, yang satu dingin. Yang satu hanya percobaan, yang satu menyelamatkan akhiran, karena ia merupakan yang terfavorit. Dan tempat ini, tempat ini selalu menjawab keresahan yang muncul dari sekian banyak ide-ide liar yang ada di dalam kepala.

Kedai Tjikini, 15 Juni 2014. Awalnya, saya hanya ingin mengejar sejumlah pekerjaan kantor yang memang harus diselesaikan. Jangan bertanya apalagi menggugat kenapa saya harus mengerjakan pekerjaan kantor di akhir pekan. Maaf defensif, tapi memang karakter pekerjaannya seperti itu; tidak mengenal ruang dan waktu untuk menantang diselesaikan. Pekerjaannya adalah pekerjaan menulis yang tidak pernah bisa saya tolak karena memang itu merupakan salah satu hal yang paling saya sukai di dalam hidup.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Processed with VSCOcam with g3 preset

Tapi kemudian, kunjungan ke Kedai Tjikini tidak pernah bisa lewat begitu saja. Ruang berusia lanjut ini semacam punya energi besar yang mendorong ide-ide di dalam diri saya untuk keluar. Obrolan-obrolan dengan bermacam-macam ekspektasi mampir untuk kemudian bisa dipilah untuk berkelanjutan atau tidak. Itu kenapa saya beberapa kali bilang bahwa ini merupakan salah satu tempat terfavorit di Jakarta.

Dalam delapan hari belakangan ini saja, misalnya. Saya tiga kali datang ke sini. Hari Sabtu lalu bersama adik saya Dylan, di tengah minggu bersama adik saya yang lain, Stephanie dan sekarang ini, sendiri. Masing-masing kunjungan punya cerita, seperti biasanya.

Perbincangan dengan dua adik saya, meninggalkan kisah tersendiri. Di situ saya menemukan bahwa adik saya Dylan, punya ketertarikan pada kopi yang lumayan dalam. Lalu, pertemuan sepulang kerja dengan Stephanie, memberikan kisah seru tentang bagaimana membuka pikiran ia dan teman-temannya untuk mencoba hal baru yang mungkin belum berani dicoba sebelumnya.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Dan hari ini, saya ngobrol banyak dengan Dharmawan Handonowarih, salah satu pemilik Kedai Tjikini. Kami berbicara tanpa rencana, tanpa janji. Jadi memang obrolan teman lama yang berjalan tanpa skenario. Topiknya mengemas sebuah pertunjukan yang intim di mana semua orang senang dan bisa pulang dengan puas.

Idenya masih lumayan utopis, tapi obrolan tadi mendorong ide lama yang sudah main-main di kepala untuk bisa dibawa ke ranah kenyataan.

Processed with VSCOcam with p5 preset

Obrolan itu terjadi tanpa antisipasi apa-apa. Tempat ini, jadinya lumayan magis. Percaya atau tidak, sudah banyak hal baik terjadi di ruangan ini untuk saya. Jadinya, saya mengundang masuk quote dari Pulang yang saya pilih di awal tulisan ini.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Tempat ini punya nyawa dan energi yang besar. Ia memberi napas untuk ide-ide yang dikandung kepala. Makanya saya tidak pernah bosan untuk datang ke sini. Ini pemanasan, mendokumentasikan bahwa sebuah proses sedang bergulir. Semoga yang ini jadi kenyataan. Sekaligus peneguh bahwa musik tidak akan mati. Ia selalu bisa dikemas dan disajikan dengan bungkus yang manis.

Kalau kamu belum pernah ke sini, silakan dicoba. Letaknya ada di Jalan Cikini Raya nomor 17, tepat di sebelah kiri jalan beberapa puluh meter dari Kantor Pos Kalipasir. Kalau bertemu Dharmawan, pastikan juga mengajaknya ngobrol. Pasti seru. (pelukislangit)

Kedai Tjikini, 15 Juni 2014
19.09
Menjelang menyusun bahan diskusi bersama SR
Terima kasih pada DHW untuk obrolannya sore ini

WSATCC (1)

Udara Jakarta Pusat dini hari ini mengajarkan saya untuk bersyukur atas kondisi yang ada di dalam genggaman. Saya baru saja mandi di tengah malam, menghilangkan bau rokok dan menetralisir sedikit pengaruh alkohol di dalam diri. Rambut panjang yang basah dibalut buntelan handuk membantu saya untuk lebih khusyuk menulis. Maklum, harus menunggu kering untuk bisa tidur sedikit lebih nyenyak.

Saya tahu bahwa kondisi saya di kantor Senin ini akan sedikit lemas karena kurang tidur. Tapi, hidup buat saya selalu merupakan benturan berbagai macam kepentingan. Negosiasi dengan keadaan senantiasa hadir dan perlu dengan apik dimainkan, supaya seluruh kepentingan bisa diakali dan dijalani.

Ok. Sebelum rambut panjang ini bau rokok dan saya terlalu banyak minum bir malam tadi, ada Superbad edisi ke-60. Perjalanan yang sangat panjang untuk seri musik paling ciamik milik Jakarta ini. Ada 3 band yang main tadi: Stars and Rabbit, White Shoes and the Couples Company dan Empat Lima, band asal Australia yang statusnya sebelum main adalah band antah berantah.

Mereka kebetulan baru memulai turnya di Indonesia dan dikabarkan sangat terpengaruh oleh Dara Puspita yang namanya kesohor tapi musiknya misterius itu untuk generasi sekarang. Tapi, saya enggan membahas Empat Lima. Musik mereka bagus, menarik kemasannya dan tidak punya isu jelek. Tidak ada masalah, mereka bagus. Kalau kamu punya waktu menyaksikan mereka main di kota kamu, silakan datang.

Yang tidak bisa dilupakan malam ini adalah penampilan salah satu anak kandung Jakarta yang paling manis: White Shoes and the Couples Company.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Sepanjang berlangsungnya seri Superbad, sudah 60 malam menyenangkan bergulir. Banyak sekali band yang berkali-kali main di seri ini. Karena memang suasananya luar biasa hebat, kebanyakan dari mereka ketagihan dan mengukir banyak kenangan.

Di level personal, masing-masing orang di White Shoes and the Couples Company seringkali terlihat seliweran di seri ini. Manajer flamboyan mereka, Indra Ameng, adalah salah satu dari 2 orang di belakang seri ini. Satu yang lainnya adalah Keke Tumbuan yang juga beberapa kali terlibat dalam dokumentasi visual White Shoes and the Couples Company. Tapi sebagai band yang main?

Mereka, tentu saja, sudah beberapa kali main. Masing-masing punya kenangan, tapi yang baru terjadi beberapa jam yang lalu benar-benar luar biasa.

“Kayaknya kita terakhir kali main pas baru rilis Album Vakansi deh, Lix,” kenang Saleh Husein yang kebetulan ada di dekat saya beberapa saat sebelum naik panggung.

Suasana The Jaya Pub malam itu sedikit berbeda. Saya tiba sekitar pukul 21.05 WIB, Berry Muchtar, teman baik saya yang khusus ingin menyaksikan White Shoes and the Couples Company mengabarkan langsung ketika dikontak, “Gila, sudah penuh nih. Tumben bener.” Biasanya, kalau datang pukul segitu, suasana belum ramai. Pertunjukan normalnya akan dimulai pukul 21.30 WIB.

Benar saja, begitu menuju pintu masuk untuk membayar cover charge, antrian sudah dimulai. “Ini aneh,” pikir saya dalam hati. Tidak biasanya Superbad punya crowd sebanyak ini. Hampir bisa dipastikan, nama White Shoes and the Couples Company yang tertera di pengisi acara jadi alasan utama.

“Parah, ini penuh banget,” kata Rio Farabi yang kemudian menyusul Saleh Husein masuk ke pinggir panggung tempat saya berdiri dan mengamankan spot untuk malam tadi.

Teman saya yang lain, Rudolf Dethu, juga mengaku kaget melihat antrian yang lumayan panjang di pintu masuk. “Gila, nggak nyangka bisa panjang gitu antrian,” ujarnya singkat.

“Gue harus nyetop orang masuk, Lix,” kata Keke Tumbuan, si tuan rumah. Kalimat itu seolah menjadi konfirmasi bahwa lalu lintas orang yang datang di luar kebiasaan. Pencapaian baru, rasanya.

Stars and Rabbit membuka malam. Mereka juga sudah punya pengikut loyal yang fasih bernyanyi di beberapa komposisi karangan sendiri. Menyenangkan rasanya menyaksikan band yang model begini; belum punya rekaman penuh, tapi sudah bisa menarik perhatian orang secara konstan.

Ketika band ini bermain, masing-masing personil White Shoes and the Couples Company merapat ke tempat saya dan Berry Muchtar duduk. Kemudian, Dimas Ario, teman baik saya yang lain juga datang. Posisi kami lumayan enak, ada di samping panggung dan di belakang speaker aktif yang bikin kuping pengang.

Saya dan Dimas sempat ngobrol dengan Sari Sartje yang malam tadi mengenakan atasan biru yang membuatnya semakin manis. “Iya, ini buatan ibu gue, Lix. Kayaknya motifnya ada India sama Padang gitu,” jelasnya kepada saya dan Dimas ketika ditanya tentang baju biru yang ia kenakan.

Orang-orang di White Shoes and the Couples Company selalu bisa memberikan kehangatan dalam obrolan-obrolan kecil. Itu adalah salah satu kelebihan mereka ketimbang banyak band lain. Keenam personilnya punya kemampuan yang setara untuk hal yang satu ini, termasuk John Navid dan Aprimela yang cenderung terkesan pendiam. Padahal sama sekali tidak.

Saya kemudian mengintip setlist yang sudah mereka susun untuk pertunjukan tadi. Shekill, salah satu kru mereka menginformasikan bahwa mereka akan memainkan 8 lagu. “Nggak banyak kok, cuma 8,” katanya pada saya.

Setlistnya seperti ini:

WSATCC (2)

Kebanyakan lagunya berasal dari album White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu Daerah. Dan ada banyak lagu keren ditinggalkan. Serunya, crowd yang ada seolah tidak peduli melihat lagu-lagu yang dimainkan oleh band ini. Yang penting goyang dan bernyanyi bersama.

Untuk selera personal, setlist malam tadi tidak diisi lagu-lagu favorit. Tapi ya itu tadi, menyaksikan White Shoes and the Couples Company bermain bukanlah barang mewah. Tapi menyaksikan yang model di Superbad semalam itu yang mewahnya bukan main. Ini contohnya:

Saya dan semua orang yang datang malam tadi beruntung, bisa menyaksikan pertukaran energi yang hebat. Tempat kecil yang pengap seolah menambah bumbu.

Padahal, ada beberapa masalah muncul tanpa diundang. Gitar Rio, misalnya, ngadat ketika dimainkan dan itu membuatnya perlu meminjam gitar milik Stars and Rabbit sebagai bala bantuan. Atau waktu menyetting alat yang lumayan lama.

Semua hambatan remeh itu rasanya bisa hilang begitu saja melihat reaksi yang dimunculkan oleh semua orang di ruangan The Jaya Pub malam tadi. Rasanya belum pernah lebih ramai dari semalam. Ketika melihat sekitar dari sisi kanan panggung, saya menyaksikan level adrenalin semua orang nampak mendekati puncak.

Masing-masing pelayan The Jaya Pub tampak super sibuk dengan order minuman yang tidak berhenti. Belum lagi upaya keras untuk menembus kerumunan orang untuk mengantarkan pesanan itu. Beberapa bahkan terlihat melepas rompi hitam mereka. Mungkin karena panas.

Semua orang di sudut-sudut The Jaya Pub juga begitu. Ada yang sibuk bernyanyi sambil memelototi penampilan Sari Sartje, ada yang bergoyang seolah tidak ada hari esok atau ada juga yang berteriak-teriak kegirangan. Semuanya karena White Shoes and the Couples Company.

Uniknya, menurut pengakuan John Navid, White Shoes and the Couples Company pernah memainkan pertunjukan yang lebih intim dari yang terjadi malam tadi.

“Dulu waktu ke Malang pertama kali, kita main di tengah tempat kecil gitu. Asli nggak ada panggung dan kita di tengah-tengah. Yang barusan ok lah, tapi yang di Malang itu lebih gila sih,” katanya kepada saya beberapa puluh menit setelah turun panggung.

Merekam memori tentang malam tadi adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Senang bisa menjadi bagian dari pertunjukan luar biasa yang selalu bisa tercipta dengan baik di langit Jakarta.

Menjelang pulang, saya mendapati ada beberapa sisa poster Superbad yang memang dijual untuk orang. Saya membelinya. Untuk melengkapi malam yang indah, saya meminta tanda tangan Indra Ameng dan Keke Tumbuan di atas poster itu. Malam super indah seperti malam tadi, tidak bisa lewat begitu saja. Harus didokumentasikan!

Hari Senin saya berlangsung baik. Kenapa? Karena saya selalu punya alasan untuk melawan segala macam tipe sickness yang mendera. Ingat, kontrol selalu ada di tanganmu. Bukan orang lain. (pelukislangit)

WSATCC (4)

9 Juni 2014 – 02.28 di Rumah Benhil
9 Juni 2014 – 16.22 di Kantor Tangerang

Gambar lain dari Superbad #60 semalam:

http://www.deathrockstar.club/superbad-vol-60-agogo-empat-lima-white-shoes-and-the-couples-company-stars-and-rabbit/

Hello!

My name is Felix Dass. I'm building surprises on someone else's tales.

Pembagian Cerita

Felix Dass on Twitter

  • "There are ways to feel a sorrow, but I won't get that tomorrow." - There Goes. 18 hours ago
  • History in the making: New @SOREband single, There Goes, sit tight in #4 in iTunes chart on its first day. http://t.co/R7O7B7B6TA 18 hours ago
  • Plat Mocca-Friends mengajarkan pebisnis lokal; Ada cara untuk membuat konsumen terlindungi. Packagingnya keren! Mocca dan FFWD selalu juara! 3 days ago
  • Baru mendengar Iris-nya U2. Signature sound gitarnya The Edge ini emang khasnya level dewa. Tetep nggak ketinggalan jaman di era sekarang. 4 days ago
  • Ada @BARASUARA bermain malam ini di Kemang. Penasaran pengen lihat. Sampai jumpa! http://t.co/Opni9SK8pp 4 days ago
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 51 other followers