Jalanan 1

Jalanan adalah film yang sangat subversif menurut saya. Film dokumenter ini merekam bagaimana hidup di Jakarta harus disiasati dengan berjuta akal yang memang melengkapi fitrah manusia sejak kita semua dilahirkan dari rahim alam raya.

Hal-hal yang dianggap sebagai tolok ukur kemapanan atau kesejahteraan sudah tidak lagi menjadi penting ketika menyaksikan Jalanan.

Jakarta adalah milik semua orang. Dia seperti manusia dengan banyak standar yang terlalu sering mengirim mixed signals; kamu merasa kenal baik dengannya tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa tentangnya. Dan itu sangatlah menarik.

Film dokumenter ini bercerita tentang tiga orang pengamen jalanan yang karakternya sangat kuat: Ho, Boni dan Titi. Semuanya adalah orang yang tidak pernah mau menyerah pada kondisi yang ada dalam genggaman. Mereka adalah pekerja keras.

Ho adalah seorang yang sangat positif dan blak-blakan. Ia bisa ngomong seenaknya, tapi tetap mudah dimengerti. Karakternya keras dan sangat merdeka, bahkan ketika keadaan tidak berpihak pada dirinya.

Jalanan 2

Boni cenderung lebih santai. Ia menjalani hidup dengan membuat keadaan jadi lebih mudah. Sangat easy going dan penuh dengan petuah sederhana yang membuat banyak orang bisa mengernyitkan dahi seketika ketika mendengar perkataannya.

Jalanan 5

Sementara Titi adalah perempuan yang memilih untuk memperbaiki kondisi hidup secara konstan. Kendati masalah domestik mendera; punya suami brengsek yang kerjanya memelihara ayam dan menghabiskan uang untuk rokok, keluarga yang sempat malu akan pekerjaannya atau pilihan sulit untuk belajar membaca dan menulis demi ijasah Paket C produk Departemen Pendidikan Nasional.

Seperti sudah disinggung di atas, mereka semua dipersatukan oleh profesi yang sama; pengamen jalanan. Profesi ini, rasanya tidak bisa ditemukan di banyak negara dunia ketiga lain selain Indonesia.

Jalanan menampilkan kisah ketiga orang ini mensiasati sekaligus mengajak penonton melihat sisi sederhana Jakarta yang tidak bercerita tentang betapa megahnya kota ini berdiri. Jakarta di Jalanan digambarkan sebagai taman bermain yang tidak nyaman tapi tetap punya daya cengkeram yang terlalu kuat.

Film ini mengajak kita semua melihat hidup di akar rumput bukan dengan kemasan menjual kesedihan yang bisa dengan mudah menarik perhatian. Jalanan menyajikan kondisi sebenarnya yang seringkali terlewat; satu dari puluhan ribu kehidupan sederhana Jakarta.

Fragmen-fragmen sederhana tentang Tosari, Cipayung, Kampung Melayu, Blok M, Sudirman-Thamrin atau daerah pinggiran Jakarta Timur yang akrab dengan banjir –karena letaknya di bantaran kali— terpapar dengan baik di Jalanan.

Daerah-daerah itu sebenarnya bukanlah daerah terpencil, ia terpetakan dengan baik dalam kehidupan orang Jakarta. Hanya saja, ada banyak detail kecil yang mungkin sekali terlewat sehari-hari. Itu yang membuat orang bisa terhenyak dengan mudah. Ini semacam semuanya terpampang di depan mata, tapi kok tidak pernah terlihat dengan jelas ya?

Fakta-fakta tentang banyak orang yang berusaha untuk memperjuangkan hidup mereka adalah sebuah upaya subversif untuk menyerang penguasa yang memang lebih suka memperhatikan tatanan kehidupan penuh polesan yang bisa jadi tidak terlalu diperlukan orang-orang di Jakarta.

Jalanan 3

Ada banyak tamparan yang berhasil direkam oleh film dokumenter ini. Dan, ia disusun tanpa skrip, tanpa rekayasa adegan –hanya rekayasa penyuntingan yang memang harus dilakukan untuk membuat kisahnya bergulir dengan runutan yang baik— dan tanpa tendensi yang pretensius. Ini hidup yang apa adanya. Bukan hidup yang ada apanya.

Rangkaian gambar gerak di Jalanan menyadarkan saya kembali bahwa memang hidup di Jakarta itu belumlah ok. Baik-baik saja, iya. Tapi belum ok.

Dari sisi personal, Jalanan mengembalikan kesadaran lama yang pernah mengusik saya ketika perjalanan Thamrin-Depok dengan bus kota belum sesesak tahun-tahun belakangan ini. Waktu itu, saya yang masih duduk di bangku SMP, harus menempuh perjalanan pulang dari halte Sarinah menuju rumah di Depok dengan bus Mayasari Bakti. Itu terjadi antara tahun 1996-1998.

Kebiasaan untuk duduk di bus kota dengan rute dan waktu tempuh panjang membuat saya melihat pengamen naik turun. Dan itu menghadirkan beberapa sisi perasaan; ada yang seru karena mereka sangat politikal atau lucu atau perpaduan keduanya, ada yang menyeramkan karena mereka melakukan penyisiran pada penampakan visual saya serta ada yang seadanya karena memang tidak punya kemampuan untuk bermain musik tapi harus cari uang untuk makan.

Pengalaman model begitu, membuat saya bisa menghargai Jakarta apa adanya. Paham dasar bahwa kota ini bukanlah milik mereka yang punya duit saja, tapi milik semua orang yang mau cari duit, –penduduk atau pendatang sama saja— tetap berlaku sampai kapanpun.

Realita itu cukup jadi barang yang mahal. Seringkali kita-kita yang hidup di Jakarta ini merasa bahwa hidup adalah persaingan yang harus dimenangkan. Jalanan, lewat tokoh-tokohnya, mengingatkan sebuah perspektif yang seringkali juga terlupakan: Bahwa manusia dilahirkan merdeka dan bebas melakukan apa yang ingin mereka lakukan, selama bisa bertanggung jawab.

Jalanan 4

Proses mengingatkan itulah yang menurut saya sangat subversif. Kita seolah ditampar untuk kembali menyadari bahwa hidup punya banyak bingkai dan beberapa di antaranya begitu menarik untuk diikuti dan memberikan inspirasi besar.

Ada satu kata-kata Ho yang menurut saya jadi punch line penting sekaligus bagian terbaik film ini. Bunyinya begini:

“Namanya hidup ya harus dihidupkan.”

Pengalaman nonton Jalanan saya sangatlah menyenangkan. Tidak percuma menunggu kurang lebih setahun setelah menyaksikan spin offnya –yang bercerita tentang Titi seorang diri—, Street Ballad.

Jalanan akan beredar luas 10 April 2014, untuk tahap pertama akan dimainkan di XXI Plasa Senayan, 21 Blok M Square dan Blitz Megaplex Grand Indonesia. Karena film ini mungkin tidak akan bertahan lama di bioskop, pastikan kamu meluangkan waktu untuk nonton di tiga hari pertama pemutarannya. Supaya tidak kelewatan. (pelukislangit)

Rumah Benhil, 29 Maret 2014
12.47

*) Semua foto dicuri dari internet kecuali foto keempat.

Trailer Jalanan bisa dilihat di:

Tulus CD

Di pertengahan tahun 2012, nyaris dua tahun yang lalu, saya menyaksikan Tulus bermain di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung itu tua dan arogan, dikenal luas –meski sekarang sudah punya ruang sedikit— lumayan meradang dengan musik kontemporer yang tidak masuk kategori ‘seni’. Tidak semua orang berkesempatan untuk memainkan karya mereka di gedung itu.

Ketidakfamiliaran itu seolah memberikan kesan angker dan sudah pasti akan menimbulkan banyak elemen gugup kepada orang-orang yang menampilkan pertunjukkan mereka. Tulus waktu itu baru punya satu album –yang kebetulan brilian— dan masih jadi pendatang baru. Ia menaklukkan panggung penuh prestis itu dengan kesederhanaan. Saya masih mengingat dengan jelas pertunjukkan itu dan di dalam padamnya lampu gedung, saya menyimpan sebuah harapan besar untuknya.

Di artikel yang saya tulis untuk The Jakarta Post beberapa waktu kemudian, ada bagian ini:

“It was a night full of joy and the man’s showmanship really stole the limelight. For a newbie in the industry what he played that night could be interpreted as a sign that a star is born. Controlling a high profile stage in his sole hands was an ability he displayed that night. Tulus, with his backup band really made GKJ their temporary playground.”

Link lengkap tulisannya bisa dicek di sini:

http://www.thejakartapost.com/news/2012/06/10/big-stage-here-comes-tulus.html

Waktu itu, saya sudah percaya bahwa ia akan jadi seorang penyanyi yang makin hebat dari hari ke hari. Ada banyak pengalaman menyenangkan mampir dan terekam setelahnya; main di Java Jazz dan mencuri perhatian serta membuat hall pertunjukan sesak, main di Jazz Goes to Campus dan sejumlah panggung penting lainnya. Ia melaju kencang di karir musiknya.

Beberapa waktu lalu, di tahun 2014, ia merilis album kedua berjudul Gajah.

Gajah adalah album yang menyenangkan dari depan sampai belakang. Digarap dengan kematangan sekelompok musisi pendukung dan produser bernas bernama Ari Renaldi –salah satunya dikenal luas karena keterlibatannya di seluruh album Mocca—.

Karirnya lumayan sesuai prediksi; album perdana yang mencuri perhatian dengan single-single bagus serta kemudian diikuti album kedua yang membuatnya naik kelas dari segi kualitas. Ada banyak monumen perjalanan karir yang tersirat secara jelas dari hasil produksi Gajah. Pengalaman-pengalaman yang dikumpulkan berhasil menjadi tabungan kematangan yang tebal di album ini.

Kemampuan penulisan Tulus meningkat drastis, ia berhasil menajamkan kemampuannya memotret kisah sederhana dengan sudut pandang yang tidak sederhana. Itu membuatnya berbeda dan tetap punya lacakan jejak yang khas.

Tulus 2
Foto oleh Ardianto/ Fotokonser.com

Contohnya lagu berjudul Gajah yang merupakan lagu favorit saya di album ini. Liriknya begini:

Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit perangkat
Wajahmu tak akan pernah kulupa

Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu di situasi rela jadi tamengku

Lagu ini, menurut penafsiran saya, bercerita tentang devosi yang bisa muncul dalam sebuah kerangka persahabatan. Lihat caranya memotret kisah ini; terlihat sangat khas, bukan?

Atau lirik lagu lain berjudul Jangan Cintai Aku Apa Adanya yang seperti ini:

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan

Kata “cinta” di serangkaian kata ini sama sekali tidak terdengar murah, malah terasa begitu indah karena memang disampaikan sesuai dengan porsinya. Ini salah satu lagu cinta yang manis sekali di album Gajah.

Tulus menambah panjang daftar penulis lagu Bahasa Indonesia yang baik di dalam cerita hidup saya. Ia mulai menapaki tangga ke atas dan menjangkau tiga orang penulis lirik Bahasa Indonesia favorit saya; Arian Arifin dari Seringai, Julius Ardy Verdijantoro dari Koil dan Jimi Multazham dari The Upstairs/ Morfem.

Kumpulan lagu-lagu dengan lirik bagus itu berhasil dirangkai dengan hasil produksi yang bagus. Tulus, dengan bantuan beberapa orang dari band pendukungnya dan Ari Renaldi, berhasil memindahkan apa yang mereka punya sehari-hari di atas panggung ke rekaman. Termasuk keberadaan dua gitaris yang memberi warna variasi yang enak untuk didengar.

Anto Arief –terkenal luas sebagai front man band Funk 70s Orgasm Club— mulai bergabung ke formasi band pengiring Tulus sejak beberapa tahun terakhir dan ia menunjukkan pengaruhnya di lagu pembuka Baru. Gaya bermain gitarnya itu, tentu saja kontras sekali dengan Topan, gitaris satunya yang memang sudah bergabung lebih dulu dengan band pengiring Tulus.

Topan mengambil peran yang sama penting di lagu-lagu yang lebih melodius dan cenderung pelan. Dua karakter yang bertolak belakang ini, membuat sebuah konstruksi nada yang enak sekali dan tidak membiarkan ruang untuk kebosanan menyeruak masuk.

Perpaduan keduanya menjadi salah satu penopang penting untuk menghasilkan aransemen musik yang kaya, persis seperti kondisi panggung-panggung pertunjukkan yang biasa dimainkan Tulus bersama band pengiringnya.

Tulus 1

Memindahkan nuansa panggung dan membuat aransemen jadi lebih kaya adalah salah satu faktor penting yang membuat Gajah menarik sebagai sebuah album. Orang-orang yang terlibat di dalam sini memberikan kontribusi yang membuat produk akhirnya sangat bagus. Kalau didengarkan dari depan sampai belakang, ini adalah album yang utuh. Sesuatu yang memang dirancang untuk jadi satu kesatuan dengan kualitas yang sangat baik.

Saya masih ingat malam-malam pertama setelah album ini dirilis beberapa bulan yang lalu di mana cd ini menjadi teman setia dan siap diputar berulang seolah tidak ada hari esok. Kondisi ini adalah keadaan standar di mana saya menyukai sebuah album musik; putar terus sampai lecet.

Tulus selalu ada di radar saya dan album Gajah ini merupakan belokkan penguat sinyal yang meneguhkan keinginan itu. Album ini sangat direkomendasikan.

Masih sama: he’s getting bigger and bigger. (pelukislangit)

Tangerang, 26 Maret 2014
13.22

*) Tulisan lain saya tentang Tulus bisa dicek di:

http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/08/at-a-glimpse-the-world-tulus.html

http://www.thejakartapost.com/news/2012/06/10/big-stage-here-comes-tulus.html

*) Selain foto album, dicuri dari akun Instagram @tulusm

Tulus 3

Poster 1 (Large)

Malam tadi, Sabtu, 15 Maret 2014, saya menyaksikan The Raid 2: Berandal. Film ini menjadi pembuka section film ARTE Festival 2014. The film is so fucking awesome.

Ada banyak ekspektasi mengikuti film ini. Maklum, The Raid: Redemption, seri sebelumnya film ini meledak di mana-mana. Sudah jadi film kelas dunia dan mencuri banyak perhatian.

Kendati digarap oleh orang berkebangsaan Wales, Gareth Evans, tapi kebanyakan pekerjanya berkebangsaan Indonesia dan memang filmnya dibangun berdasarkan seni bela diri Indonesia, Pencak Silat. Jadi, bisalah film ini dibilang film Indonesia.

Menurut cerita yang beredar, The Raid: Redemption adalah upaya Evans untuk mengakali keterbatasan. Karena tidak punya budget yang cukup untuk memproduksi The Raid 2: Berandal –judul aslinya hanya Berandal— maka dibuatlah sebuah plot film yang lebih sederhana dan tidak menyedot budget produksi yang sangat besar. Tapi, hasilnya luar biasa.

Trailernya bisa dilihat di sini:

Kalau The Raid: Redemption menghadirkan sebuah film action yang napasnya sudah lama hilang dari muka industri film Indonesia. Film ini punya elemen tegas yang menyatakan bahwa perkelahian itu adalah seni sekaligus bisa jadi hiburan yang meninggalkan kesan. Mungkin memang manusia selalu suka kekerasan dengan kadar yang berbeda-beda. The Raid: Redemption menunjukkan itu.

Yang saya saksikan semalam, setidaknya 5x jauh lebih hebat. Sangat bisa dimengerti kenapa Evans memerlukan budget yang jauh lebih hebat. Selain karena kebutuhan fisik filmnya juga luas, ada faktor ekspektasi yang membengkak. Dan itu harus dijawab dengan sebuah karya yang baik.

Saya tidak akan bicara plot film secara mendetail, tapi mungkin hanya akan menganalisa sejumlah hal menarik yang tinggal di dalam memori semalam.

Pertama, simpan logika kamu di dalam rumah. Kunci yang rapat. Kalau kamu orang yang merasa segala sesuatunya harus dinilai menggunakan logika ketimbang rasa, maka sebaiknya kamu diam di rumah dan mendengarkan cerita penuh kekaguman orang-orang yang menonton film ini. Film ini sama sekali tidak cocok untuk kamu yang masih merasa bahwa logika itu jauh lebih penting. Haha. The Raid 2: Berandal, tidak mementingkan logika. Karena memang tidak diperlukan.

Poster 2 (Large)

Yang diberikan oleh film ini adalah hiburan dalam bentuk kekerasan. Agak ironis, tapi memang begitulah adanya. Jalinan ceritanya sangat sederhana.

Analoginya seperti ini: Ibu bangun pagi, exercise sedikit, lalu memasak air panas untuk seluruh anggota keluarganya. Setelah air setengah matang, ia membangunkan suami dan si anak. Suami akan mandi dulu, lalu si anak setengah malas akan beranjak dari tempat tidurnya. Setelah semuanya mandi, masakan sarapan sudah tersedia di meja makan dan semuanya bersantap sambil saling mengecek kehidupan yang akan dijalani hari itu. Ibu menyimak dengan seksama lalu menunggu mobil jemputan si anak yang akan mengantarkannya ke sekolah. Si suami duduk di depan televisi menyaksikan program tv pagi atau bahkan membaca koran. Segera setelah si anak pergi sekolah, si ibu akan ngobrol sedikit lagi dengan si suami hingga pukul 07.00. Begitu jam berdentang, si suami siap-siap untuk bergegas pergi kerja dan menjadi teman akrab macet. Sebuah kecupan di kening menyelesaikan pagi mereka dan perpisahan dimulai. Si suami pergi kerja dan si ibu duduk manis di depan tv, menyaksikan acara gosip sembari menyantap sarapannya.

Semuanya text book. Sudah kebaca sejak awal. Tapi detail-detail film itulah yang membuat 150 menit jadi tidak berasa. Durasi yang panjang bisa diimbangi dengan plot yang wajar dan tidak membosankan. Menurut video behind the scenenya yang sudah dirilis, total ada 19 scene perkelahian. Lumayan banyak, dan flownya makin menaik dari satu scene ke scene lainnya.

The Raid

Video behind the scenenya bisa dilihat di sini:

Film ini, kendati bagusnya luar biasa, tetap tidak sempurna. Ada satu adegan perkelahian yang menurut saya agak terlalu dipaksakan; bagian di mana Prakosa mengakhiri perannya di film ini. Setting yang sudah berhasil dibangun dengan baik di mana kita hanya tahu ini terjadi di Jakarta dan tidak mengetahui persis kota tempat tokoh-tokoh ini tinggal serta beraktivitas, berantakan. Kalau diceritakan jadi spoiler. Jadi, saya harus berhenti di sana.

Ketidaksempurnaan itu sangat bisa dimaafkan dengan menyaksikan berbagai macam adegan lain. Yang paling keren adalah efek skeptis yang muncul setelah adegan perkelahian kedua sebelum terakhir; adegan kejar-kejaran dengan mobil. Adegan itu sangatlah panjang dan membuat koreografer The Fast and Furious 6 harus berpikir 200x untuk mengakui secara terbuka bahwa kekolosalan yang ia buat –kendati makan durasi yang sama sekali tidak masuk akal— adalah omong kosong. Evans berhasil membuat penonton penasaran; adegan itu sebenarnya sudah sangat layak menjadi adegan perkelahian terakhir karena memang kerennya bukan main. Lantas, penonton sudah pasti bertanya, “Ada yang akan lebih keren dari ini?”.

The Raid 2

Wajar. Tapi ternyata, ada yang lebih keren dari adegan itu. Adegan perkelahian terakhir adalah puncak film ini. Dan lebih hebat dari adegan mobil. Benar-benar brutal dan khas film action tanpa logika. Darah ada di mana-mana dan itu membuat saya harus menutup muka beberapa kali dan merasa dengan hanya mendengar suara saja sudah lebih dari cukup.

Oh ya, sepanjang pemutaran film semalam itu, penonton –termasuk saya— beberapa kali bertepuk tangan untuk ketegangan yang tersaji lewat adegan-adegan perkelahian yang benar-benar penuh ketegangan.

Yang harus juga dicatat adalah adegan perkelahian di penjara yang penuh lumpur. Dan pilihan untuk membuat tokoh utama kalah di adegan itu sangatlah cerdas. Sebuah proses tarik-ulur yang berhasil.

Sekarang, kita bicara penokohan. The Raid 2: Berandal seperti sebuah film penuh bintang yang membuat nama-nama legendaris industri film Indonesia mencatatkan namanya di barisan pendukung. Kita harus berterima kasih kepada Evans untuk tidak memasukkan nama Reza Rahardian dan Jajang C. Noer ke dalam film ini. Kalau tidak, super sah, mereka ada di mana-mana. Haha.

Yang paling mengejutkan adalah kemunculan Deddy Sutomo untuk memainkan sebuah peran kecil di film ini. Ada juga barisan orang tua lain seperti Pong Hardjatmo, Roy Marten dan Cok Simbara. Tapi karakter paling keren menurut saya adalah Alicia The Hammer Girl yang diperankan oleh Julie Estelle dan Prakosa yang diperankan oleh Yayan Ruhian.

The Hammer Girl (Large)

Energi dari dua tokoh ini luar biasa besar, kendati kemunculannya hanya beberapa scene; Alicia The Hammer Girl bahkan tidak punya dialog sama sekali –karena digambarkan sebagai gadis bisu— dan hanya muncul di dua scene super penting. Sementara Prakosa dikisahkan sangat berdarah super dingin dan punya pasangan super cantik yang dimainkan oleh Marsha Timothy.

Tio Pakusadewo yang berperan sebagai Bangun juga mainnya luar biasa bagus. Tapi, kalau dia sih, memang sudah seharusnya bagus. Karakternya juga nampaknya sangat cocok untuk menempel di dirinya. Kedinginannya sebagai seorang singa tua yang masih lapar juga meninggalkan kesan mendalam.

The Raid 2: Berandal juga menampilkan kolaborasi lintas negara yang ciamik. Untuk adegan kejar-kejaran mobil yang sudah sempat disinggung di atas, misalnya. Evans menggunakan jasa tim profesional asal Hongkong yang memang sudah biasa menggarap adegan sejenis. Lengkap dengan bagaimana mengelola keamanan pengambilan gambar dan tetek bengeknya.

Soundtrack juga seru, kendati tidak spesial-spesial amat. Film ini menampilkan sejumlah track dari Nine Inch Nails. Gila kan? Walaupun kalau mau dibandingkan, The Land of Living Dead-nya Sigmun di The Raid: Redemption jauh lebih seru kalau dimasukkan ke dalam filmnya.

Secara umum, film ini luar biasa bagus. Sangat layak untuk bikin industri film Indonesia berbangga. Industrinya naik kelas dan bangsa ini berhutang banyak pada Evans. (pelukislangit)

16 Maret 2014
10.10
Rumah Benhil

*) Terima kasih untuk John Badalu yang sudah memberikan invititation pemutaran film ini pada menit-menit terakhir.
*) The Raid 2: Berandal yang saya saksikan rasanya adalah uncut version, tidak dilengkapi keterangan lolos sensor.
*) Film ini menjadi opening film ARTE Festival 2014. Film lainnya bisa dilihat di http://2014.arte.co.id/programs/film-festival/
*) Gambar-gambar dicuri dari internet. Sepanjang pemutaran kemarin, tidak diperkenankan membawa ponsel ke dalam studio. Policy yang bagus!

Invitation

Jalan-Jalan di Kota Jam Malam

Waktu menunjukkan kurang lebih pukul sebelas malam. Saya dan tiga orang teman baik sedang berjalan menuju kendaraan kami yang diparkir di Jalan Purnawarman, Bandung. Tiba-tiba dari arah belakang, suara sirene polisi mengagetkan saya. Mobil polisi yang membunyikan sirene itu berjarak begitu dekat dengan tangan kiri saya.

“Nah, kayak gitu tuh, Lix,” sambar Boit, si teman baik.

Suaminya, Trie, menambahkan, “Kebayang nggak lo? Orang bubar acara jam segini, mau nyari bir buat nangkring, tapi hanya punya waktu satu jam?”

Jam 12, jalanan Bandung harus bersih dari orang yang nongkrong. Polisi, akan meminta orang-orang yang masih ada di jalanan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Dalil yang dipakai katanya meminimalisir angka kriminalitas yang disebabkan mereka yang masih ada di luar rumah di atas pukul 12 malam dan menyaksikan hari berganti.

Secara teknis, satu jam untuk duduk-duduk selepas acara musik, bukanlah waktu yang cukup. Kami, satu lagi teman dekat saya yang ikut adalah Satria Ramadhan, baru saja menyaksikan konser Teenage Death Star yang berlangsung di IFI, lembaga kebudayaan Prancis.

“Jual bir di Bandung daerah kota juga udah nggak ada, Lix,” repet Trie lagi.

“Loh, itu IFI bisa jual?” tanya saya setengah tidak percaya.

“Iyalah, Lix, itu kan aset asing. Mana berani mereka larang-larang,” balas Trie.

Benar juga. Tapi nggak lucu sih jadinya melihat Bandung seperti ini. Jam malam, apapun alasannya, tidak bisa diterapkan di kota yang baik-baik saja kehidupannya. Dan tidak ada marabahaya yang mengancam kehidupan bersama di kota itu.

Saya hidup tujuh tahun di Bandung dalam kurun waktu 2001-2008. Saya tahu persis bagaimana kehidupan di kota ini dijalankan. Saya mengerti karakter orang-orang lokal. Dan saya, bisa mengerti dan ngomong aktif –dengan dialek yang jelek— Bahasa Sunda kasar ala Cicadas yang dilengkapi imbuhan “anying”. Saya paham Bandung itu seperti apa.

Yang kemarin saya alami adalah teror. Kami memutuskan untuk makan di daerah Kebon Kelapa, sekitar 10-15 menit dari kawasan Jalan Purnawarman. Sepanjang perjalanan, setidaknya kami bertemu dengan enam-tujuh mobil polisi yang patroli dan meraungkan sirenenya.

“Itu pemanasan, Lix,” terang Trie.

Jadi, modusnya begini: Sekitar pukul sebelas malam, mobil-mobil patroli itu akan keliling kota dengan trayek tertentu. Lalu, sepanjang jalan, mereka akan membunyikan sirene sporadis. Itu untuk memperingatkan warga untuk menyudahi aktivitas kumpul-kumpul mereka. Ada tindakan lain menunggu.

Yang paling mengejutkan adalah ketika kami selesai makan. Dari Kebon Kelapa, kami melewati tangsi militer di Jalan Sunda/ Daerah Saparua –mungkin saya salah menyebutkan nama jalannya—. Kaget rasanya menemukan sekitar 20-30 polisi sedang bersiap untuk konvoi keliling kota. Formasinya lengkap.

Ada sejumlah truk pengangkut, setidaknya lima mobil patroli, dua mobil sipil dan sekitar tujuh motor berseragam lengkap. Ada yang membawa senapan serbu, ada yang menggunakan seragam coklat.

Di sinilah teror menghajar saya.

Saya kecewa, marah, tapi tahu bahwa orang-orang seperti saya hanya bisa berharap dan teriak lewat tulisan seperti ini. Beban besar seolah menggelayut dan jadinya kepikiran sepanjang malam. Begitu pagi tiba, saya memutuskan untuk melempar sejumlah tweet seperti ini:

Tadi malam, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasakan langsung teror karena jam malam di #Bandung. Padahal lagi #TeenagerTrip.

Saya jadi penduduk #Bandung 7 tahun, tapi tidak pernah merasa takut. Bahkan jalan di Cicadas, misalnya. Semalam beda. #TeenagerTrip

Sepulang dari IFI, saya makan di Kebon Kelapa. Kami pulang lewat pukul 24.00. Kata @itbo, “Lix, #Bandung beda sekarang.” #TeenagerTrip

Bir menghilang dari convenience store di pusat kota #Bandung. Pukul 11, sirene polisi meraung-raung. Jam malam memang ada. #TeenagerTrip

Sirene polisi adalah teror ketika mata dan rasa tidak bisa menyium bahaya. Bahaya paling laten di momen itu adalah suara itu. #TeenagerTrip

Polisi dan pendukung jam malam boleh bilang apa saja, tapi perasaan saya sebagai manusia bebas terteror oleh raungan sirene. #TeenagerTrip

Omong kosong mau bikin #BandungJuara kalau warganya kena teror jam malam. Saya bayangin aja serem, gimana mau menjalaninya? #TeenagerTrip

Hal paling penting yang membuat saya mau pindah ke #Bandung dulu adalah kemerdekaan berpikir & berekspresi. Sekarang? Teuing. #TeenagerTrip

Kemerdekaan selalu ada pada ide-ide kebebasan yang membebaskan. Jam malam adalah indikasi #Bandung mundur 2000 langkah. #TeenagerTrip

Turut bersedih untuk teman-teman di #Bandung yang mengalami teror jam malam secara reguler. Semoga cepat berakhir. #TeenagerTrip

Terakhir: Sirene polisi itu tai kucing! #TeenagerTrip

#TeenagerTrip adalah hashtag yang digunakan untuk mendokumentasikan konser Teenage Death Star yang saya datangi akhir pekan kemarin.

Teenager Trip - Satria Ramadhan

Masih tidak habis pikir kenapa harus menggunakan sirene? Seperti saya tulis di salah satu tweet itu, tidak ada teror yang tertangkap di mata dan rasa nyaman ada di mana-mana. Bandung itu kota yang menyenangkan, di mana rasa nyaman ada di mana-mana. Tidak perlulah ditakut-takuti dengan sirene meraung-raung itu.

Pengalamannya sungguh tidak enak. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Bandung di sebuah hari dan pastikan ada di jalanan ketika pukul sebelas menjelang.

Bandung seharusnya bebas dari teror. Dan sangat ironis rasanya kalau teror itu berasal dari mereka yang seharusnya memberantas terorisme. Semoga keadaan cepat membaik. (pelukislangit)

10 Maret 2014
00.24
*) Tulisan pertama di rumah Benhil

Slank Nggak Ada Matinya (1)

Tahun 2013 yang lalu, Slank menginjak usia 30 tahun. Perjalanan panjang untuk sebuah kelompok musik. Usianya sepantar dengan saya, hanya beda beberapa bulan. Saya bisa membayangkan ada sekian banyak fragmen kehidupan yang mampir berkunjung. Dan itu, sudah cukup untuk membuat sebuah cerita jadi kaya.

Hanya ada satu orang yang masih bersama Slank sejak awal sampai sekarang, Yang Mulia King Bimbim. Sisanya, adalah orang-orang yang datang di pertengahan cerita. Formasi yang sekarang dikenal luas ini, adalah formasi ke-14. Tentu, bukan deretan nomor yang pendek.

Slank, di tahun 2014, adalah band paling populer di tanah Indonesia Raya. Tidak ada yang bisa menyanggahnya. Kalau ia mau mendebat, orang itu gila.

Untuk merayakan ulang tahun ke-30, salah satu monumen yang didirikan untuk orang banyak adalah film Slank Nggak Ada Matinya. Namanya sama seperti judul album terkini milik mereka.

Film Slank Nggak Ada Matinya masih berputar di sejumlah bioskop di Indonesia. Saat tulisan ini dibuat, sudah memasuki pekan ketiga. Film ini dirilis 24 Desember 2013. Ini merupakan cobaan ketiga mendokumentasikan kisah Slank dalam medium film. Yang pertama adalah film super njlimet Garin Nugroho berjudul Generasi Biru dan dokumenter mantap yang kepanjangan berjudul Metamorfoblus milik Dosy Omar.

Cobaan ketiga ini mengambil kerangka publik yang sangat luas, sebuah karya populis yang menampilkan sosok Slank bertahan dari badai yang terjadi setelah era Minoritas di 1995 sampai dengan cerita usang tentang kesembuhan mereka dari narkoba di awal 2000-an.

Lima orang personil Slank tampil sebagai cameo di film ini. Sementara, sosok mereka diperankan oleh lima orang pemuda ganteng yang terlalu manis untuk sosok visual lima anggota Slank yang asli.

Slank Nggak Ada Matinya (5)

Ricky Harun dan Adipati Dolken terlalu ganteng untuk memerankan sosok Kaka dan Bimbim. Pemeran Ivanka tampak begitu putih untuk memainkan Ivanka. Wig pemuda yang jadi Abdee Negara terlalu palsu. Dan yang terakhir, laki-laki yang jadi Ridho Hafiedz terlalu pantas untuk jadi pemain utama Take Me Out Indonesia. Haha.

Maafkan karena saya lupa siapa nama asli tiga orang lain yang jadi anggota Slank selain dua nama selebriti ganteng yang disebut pertama tadi.

Slank yang ditampilkan di sini, benar-benar terlalu manis. Padahal, sosok Slank itu adalah representasi laki-laki Indonesia yang sesungguhnya; ia tidak manis, tapi kuat karena tempaan banyak elemen waktu yang menguji secara konstan.

Slank Nggak Ada Matinya (4)

Rasanya, hanya Slank yang bisa menebas batasan sosial, mulai dari kaum marjinal, kelas menengah ngehe sampai eksekutif muda di bawah 40 tahun. Tapi secara visual, sosok mereka yang ada di film ini, tidak menggambarkan fakta itu.

Itu kekurangan mendasar film ini. Bahkan untuk sebuah kemasan hiburan pun nampaknya tidak begitu appealing. Karena tidak bisa mendekati hal yang real.

Coba bandingkan misalnya dengan cara Cameron Crowe memotret kehidupan band di dalam Almost Famous. Tidak perlu bicara eksekusi yang sudah jelas kalah kelas, tapi bagaimana sebuah band hidup saja rasanya tidak kena.

Misalnya, kisah si groupie yang terus menerus mengejar sosok Kaka dengan agresif. Keagresifannya itu –terlepas dari cantiknya minta ampun—, tentu saja membuat lawan jenis tidak tertarik. Saya saja yang 1000x kalah menarik ketimbang Kaka, tidak mau didekati perempuan seperti itu. Bagaimana dengan Kaka yang biasa ada di pusaran magnet ketertarikan perempuan? Sosok itu, tidak natural.

Itu kelemahannya.

Slank Nggak Ada Matinya (2)

Persoalan untuk tidak menjadi senatural mungkin dengan kisah aslinya, memang jadi momok yang tidak mudah ditaklukkan. Itulah yang tidak nyambung dengan kenyataan. Tampak jelas, ada banyak titik kompromi yang dilakukan dan penambahan drama yang membuat kening mengernyit karena tampak terlalu dramatis.

Kisah Slank ini bicara tentang sejarah soalnya, jadi selalu akan ada orang-orang seperti saya yang bersedia menggugat kalau ia nampak butut. Saya membela sosok Slank, band yang menyertai saya tumbuh sampai ada di titik ini. Tidak rela rasanya digambarkan seperti ini.

Kalau boleh memilih, lebih baik perlakuan Garin Nugroho yang njlimet di Generasi Biru ketimbang si sutradara ini pada kisah Slank di film ini. Pilihan paling juara kelas, tentu saja Metamorfoblus yang lebih mudah dinikmati 1000x karena merupakan film dokumenter.

Bagian paling bodoh dari film ini adalah ketika lima personil Slank digambarkan lari di pinggir pantai dengan kecepatan dan koreografi yang sama. Tanya sama semua laki-laki normal yang sosoknya mirip seperti Slank, apakah mungkin adegan itu mereka lakukan?

Slank Nggak Ada Matinya (3)

Jawabannya 99,9% pasti tidak. Kalau pun ada yang jawab ya, pasti itu juga sampling error. Haha. Berlebihannya parah.

Film Slank Nggak Ada Matinya ini tidak ok. Tapi, saya sudah menunaikan kewajiban saya sebagai seorang Slankers. Anggap saja ini seperti album Too Sweet Too Forget yang butut dan saya harap dihapus dari katalog Slank. Toh, dengan tidak sempurnanya Slank, itu membuat saya dan jutaan Slankers di luar sana tetap waras; bahwa Slank tetaplah manusia yang bisa punya momen jelek dalam kisahnya. (pelukislangit)<a

7 Januari 2014
16.48
Kantor Dharmawangsa

*) Terima kasih kepada Yelika yang sudah mau menemani suaminya dan saya –yang penggemar berat Slank— untuk nonton.

Slank Nggak Ada Matinya (6)

Sarasvati

Nyaris satu dekade, rasanya, nama Risa Saraswati ada di dalam kehidupan saya. Saya beruntung bisa melihat beberapa sosok dirinya; tidak melulu dari sisi panggung pertunjukkan di mana ia selalu menjadi pemenang perhatian orang.

Sepanjang perjalanan yang lumayan jauh itu, saya juga menemukan kekaguman permanen pada beberapa hal yang ia miliki. Terutama berkaitan dengan talenta berkarya yang ia miliki dan bagaimana cara ia mengelolanya.

Salah satu wujud paling penting dari berkah itu adalah berkenalan dengan kemampuannya berkarya di dunia musik. Risa punya talenta yang luar biasa besar dalam bentuk suara. Tidak berlebihan kalau sampai sekarang, ia merupakan salah satu penyanyi perempuan yang saya sukai. Suaranya khas, hampir tidak mungkin –untuk tidak takabur dengan menyebut kata tidak mungkin— ditiru.

Berangkat dari suara yang khas itu, kemudian terciptalah turunan karya yang mencatatkan namanya di buku sejarah scene musik lokal. Kita tidak perlu bahas masa lalunya yang sekarang sudah usang untuk diceritakan kembali, tapi mari bicara tentang hari ini.

Kalau saya diperkenankan mundur ke belakang, tingkahnya dengan sosok Sarasvati ini, bisa dibilang luar biasa. Kata kuncinya adalah keberanian dan eksplorasi. Muncul dengan sosok baru yang segar dan lepas dari bayang-bayang masa lalu, adalah keberhasilan Risa bersama sosok Sarasvati.

Keberanian menurut saya sangatlah penting karena yang ia lakukan merupakan sebuah titik pijakan baru yang mungkin belum ia akrabi sebelumnya. Risa menjadi seorang penulis lagu yang buah karyanya –selain suara yang sudah disebutkan di atas tadi— sangatlah khas.

Ia menulis lirik Bahasa Indonesia berdasarkan kebiasaannya mengikuti scene musik populer Indonesia –maafkan, karena saya harus membongkar rahasia itu—. Dan, jadinya sangatlah bagus. Unsur ke-Indonesiaannya tinggi dan dia tidak berpura-pura atau sedang mengenakan topeng. Ia tampil apa adanya.

Pemilihan tema pun seolah berjalan beriringan. Risa mencoba berkonsentrasi pada apa yang dekat dengan hidupnya. Tidak heran bagi saya ketika kemudian dia menjadi penulis lagu dan memanfaatkan topik-topik yang ia akrabi sebagai penjaga jalur karyanya.

Mencampuradukkan sesuatu yang disukai dan melakukannya dengan level fokus yang sangat tinggi, sudah barang tentu akan menghasilkan energi baik yang tercermin otomatis lewat karya. Itulah Risa.

Saya harus mengakui bahwa saya memilih untuk tidak membaca buku-bukunya karena tidak suka dengan topik-topik yang ia pilih. Saya penakut dan tidak suka membiarkan cerita-cerita pelanggar teresterial seperti itu hadir dalam hidup saya. Tapi, dari informasi penjualan yang katanya baik, saya yakin bahwa banyak orang yang menyukai karyanya dalam bentuk buku.

Setelah punya keberanian, ia juga melengkapinya dengan kemauan untuk mengeksplorasi ruang berkesenian yang ia punya. Tidak percaya? Coba dengarkan lagi Story of Peter yang terkesan cukup misterius atau Mirror yang tampak lebih dalam kadar misterinya.

Risa dikelilingi banyak orang hebat yang kalau bersinergi akan jadi kolektif dengan energi besar. Karena alasan pemilihan topik pula saya harus mengakui bahwa saya tidak mau terlalu sering mendengarkan Mirror. Risa, dengan pilihan kata-katanya, mampu menakut-nakuti saya lewat musiknya. Dan saya memilih untuk tidak bersentuhan sering-sering dengan mereka.

Yang sekarang ada, Sunyaruri, masih misterius juga. Tapi tidak dengan singlenya.

Ketika Boit –ia perempuan, ibu beranak satu, pengusaha sukses dan manajer baru Sarasvati— meminta saya menulis untuk proyek baru ini, saya tidak langsung mengiyakan. Saya ingin mendengar dulu lagunya. Kalau memang efek sampingnya masih sama seperti Mirror, mungkin saya tidak ingin melakukan apa yang ia minta.

Saya ingat, kalau berurusan dengan Risa, harus berani mencoba. Dia saja mencoba banyak hal baru, masa saya tidak mau mendengarkan karya barunya?

Single Cerita Kertas dan Pena mengembalikan seketika keberanian saya. Kali ini, Risa bermain-main dengan gaya yang beda. Aransemennya sedikit melanggar pakem yang sudah ia perkenalkan di karya-karya sebelumnya. Pendekatannya baru untuk cerita Sarasvati.

Saya suka Cerita Kertas dan Pena. Dan saya menantikan Sunyaruri dirilis. Dan saya yakin, banyak yang sepakat dengan saya. Risa tidak pernah kehilangan kadar spesialnya.

3 November 2013
20.11
Kedai Tjikini, Cikini, Jakarta Pusat

*) Foto diambil dari era album Mirror. Sumber: http://www.sarasvatimusic.com.

Tentang Laskar Pelangi 2: Edensor yang tidak bagus

Edensor (5)

Hidup setelah Mira Lesmana dan Riri Riza itu benar-benar menyulitkan. Ada di bawah bayang-bayang besar untuk melanjutkan dua buah box office bernama Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, adalah sebuah misi mustahil. Komentator bola biasa bilang, ini misi yang sifatnya “Thundering the storm”.

Film Laskar Pelangi 2: Edensor bukanlah film yang bagus kalau mau dibandingkan dengan dua sekuel pendahulunya yang dikerjakan oleh Miles Films lewat duet maut Mira Lesmana dan Riri Riza.

Miles Films punya reputasi kelas wahid yang memang melekat erat dengan mereka. Kualitas super baik dalam eksekusi film –bahkan ketika menggarap Eliana, Eliana atau Atambua 39 Derajat yang budget produksinya lebih rendah dari film sukses secara komersial mereka— tidak perlu diragukan lagi. Sulit untuk bisa sepadan dengan mereka. Bukannya tidak bisa. Tapi memang sulit.

Jadi, ketika kisah cerita ini terus bergulir ketika Miles Films melepas tanggung jawab penggarapan filmnya, tanda tanya besar sudah barang tentu segera mengikuti.

Pemilihan judul pun sudah memberi isyarat kuat bahwa si produser dan pemilik cerita tidak punya nyali yang cukup besar untuk membiarkan judul aslinya berdiri sendiri.

Aneh menamai film ini Laskar Pelangi 2 ketika fakta bilang bahwa ini sekuel nomor tiga dari serial buku laris manis tanjung kimpul ini. Memangnya kenapa kalau hanya menyebut film ini dengan judul singkat Edensor, persis seperti judul bukunya?

Sebagai pagar tinggi pembatas, saya tidak ingin membahas buku, korelasi cerita atau bagaimana kedua faktor itu kawin. Yang ingin saya bahas adalah filmnya, tentu saja berhak dibandingkan dengan dua seri sukses sebelumnya.

Edensor (1)

Di dalamnya masih ada Lukman Sardi si Ikal, Mathias Muchus si ayah dan penampilan spesial anak-anak yang muncul di dua film pertama. Jadi, bahan racikannya relatif sama.

Yang tidak ada –padahal pentingnya luar biasa— adalah kehadiran Nazril Irham si Arai di Sang Pemimpi. Padahal, penampilannya di Sang Pemimpi jadi salah satu hook penting yang membuat film itu diingat cukup lama oleh orang banyak.

Abimana, pemeran Arai di Edensor, tidak bermain jelek. Sama sekali tidak jelek, tapi dia tidak punya pesona yang sudah dibangun susah payah oleh Nazril Irham. Karena penokohannya adalah kelanjutan, sangatlah wajar jika kemudian perbandingan muncul.

Edensor (4)

Orang-orang seperti saya sudah terpatri pada sosok Nazril Irham yang meninggalkan kesan dalam. Abimana sudah melakukan yang terbaik, kesalahan tidak ada pada dirinya. Tapi ada di keputusan untuk menggantikan sosok pemeran sebelumnya dengan dirinya. Okelah, mungkin ada sekian banyak faktor yang menyebabkan sosok awal itu tidak bisa dibawa ke layar lebar kali ini –bisa jadi jadwal tidak cocok, honor tidak masuk budget, artisnya tidak punya minat main film lagi, atau apalah—. Ini kegagalan pertama.

Dari segi penyutradaraan, si sutradara –yang saya sudah lupa namanya— tidak ada di level yang sama dengan Riri Riza. Ia tidak detail; misalnya saja pemilihan plot waktu yang kehilangan identitas. Contohnya, dandanan Ikal terlihat sangat 2013 tapi komputer belajar yang ia pakai ketinggalan jaman sekitar lima atau enam tahun. Musim dingin-panas yang loncat-loncat. Atau baju-baju bermerk yang dipakai Ikal dan Ara yang sama sekali tidak mengesankan bahwa mereka adalah dua orang pengembara susah di Paris. Ini kegagalan kedua.

Caranya memotret Paris juga tidak bagus. Ia menggunakan kacamata turis yang sudah tertebak pilihannya; akan menampilkan Montmartre, Menara Eiffel dan Museum Louvre. Padahal, ceritanya dua orang pengembara susah ini punya tugas utama sekolah di Universitas Sorbonne dan menjalani kehidupan normal sebagai penduduk temporer Paris. Bukan turis.

Bisa dimengerti bahwa sayang untuk tidak menampilkan tiga tempat indah tersebut. Tapi, ada sudut-sudut Paris lain yang lebih humanis dan cocok untuk film ini dan kisah penduduk temporer yang sedang dijalani Ikal dan Arai. Misalnya adegan di stasiun metro yang seksi itu. Masih untung Champ Ellyses tidak ditampilkan –atau ditampilkan tapi saya kelewatan karena kehilangan fokus menonton?—.

Sekedar catatan, saya pernah jadi turis di Paris untuk 36 jam. Empat tempat (ditambah Champ Ellyses) yang disebutkan di atas waktu itu jadi menu wajib untuk orang yang ikut tur privat nan padat di Paris. Kalau bicara Jakarta, itu seperti menampilkan kehidupan di Kawasan Monas. Padahal, orang Jakarta, tidak ada yang hidup di Monas. Ini kegagalan ketiga.

Risetnya mungkin tidak matang. Atau si sutradara terlalu takjub sama kawasan turis Paris jadi lumayan dibuang sayang tempat-tempat wajib kunjung itu. Khusus Kuburan Jim Morrison, masih masuklah ceritanya.

Pemilihan scenenya juga lemah. Jaringan metro Paris yang seksi itu, ditampilkan sepotong saja. Itu juga adegan di mana Ikal dan Ara masuk ke dalamnya. Tidak ada adegan lanjutan. Beberapa potongan kamera hand held yang goyang juga merusak kesan eksekusi anggun yang sudah dilakukan oleh Miles Films di dua edisi sebelumnya. Seolah-olah, perijinan pengambilan gambar tidak megah; sehingga menyebabkan mereka harus colongan mengambil gambar dengan segala keterbatasan teknis. Jadinya, kesan tidak total muncul tanpa diundang. Ini kegagalan keempat.

Edensor (3)

Sekali lagi, kalau dibandingkan dengan dengan dua sekuel pertama, kelemahannya sudah terjembreng dengan kasat mata.

Yang juga lemah kalau dibandingkan dengan dua sekuel pertama adalah musik. Film ini dilengkapi oleh Andika Triyadi, bintang bersinar di dunia scoring film lokal. Sama kasusnya seperti Abimana, ia tidak melakukan sesuatu yang di luar standar kerjanya. Scoringnya baik-baik saja. Tapi keputusan produser menjadikan Coboy Jr. sebagai lagu tema film ini adalah sebuah kesalahan fatal. Bandingan Laskar Pelangi yang punya Nidji atau Sang Pemimpi yang punya Gigi, tentu saja Coboy Jr. tidak ada apa-apanya. Lagunya pun tidak bagus.

Penggarapan musik di dua sekuel pertama lumayan detail dan mengadopsi sisi dunia hiburan yang komplit; ada artis-artis papan atas yang tentunya dengan suka hati mau ikut serta dalam proyek Miles Films. Tapi sekarang? Waduh. Ini kegagalan kelima.

Sudah cukuplah rasanya lima alasan untuk bilang film ini merupakan yang terburuk dari tiga sekuel novel Andrea Hirata yang sudah dirilis. Laskar Pelangi 2: Edensor ini seolah kurang budget, kurang riset, kurang ok secara teknis dan masih punya potensi mencari beberapa kurang lainnya kalau ada waktu lebih. Sayang.

Edensor (2)

Oh, rasanya saya harus mengangkat kegagalan keenam; kemunculan Andrea Hirata di akhir film. Seolah-olah dia sedang menuliskan kisah ini, lengkap dengan Macbook Pronya. Orang sudah tahu siapa itu Andrea Hirata. Dia sudah terhormat karena seri buku inspiratif ini. Tapi, kenapa harus muncul? Kenapa tidak membiarkan film ini jadi cerita utuh tanpa perlu tahu ditulis oleh siapa? Waduh. Waduh. Waduh.

Kesimpulan: Film ini tidak bagus dan jomplang kalau dibandingkan dengan dua sekuel pertamanya. Dari angka penjualan tiket pun, si produser pasti tahu persis bahwa produknya kalah ciamik dengan yang sebelumnya.

Hidup setelah Mira Lesmana dan Riri Riza memang tidak pernah mudah. Ini pelajaran penting untuk scene film lokal kita, jangan pernah coba menghidupi kisah yang ada di dalam bayang-bayang pasangan pembuat film terbaik di negeri ini.

Film ini terlihat amatir kalau dibandingkan dengan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. (pelukislangit)

2 Januari 2014
23.05
Rumah Kalibata

*) Terima kasih kepada Berry Muchtar yang sudah coba memperingati saya sebelum menonton film ini. Filmnya memang tidak bagus, Ber!

Obituari untuk Aquarius Mahakam

Aquarius Mahakam (16)

Jakarta berduka. Satu simbol kota ini roboh dihajar waktu. Aquarius Mahakam, salah satu toko cd tertua di Jakarta menutup bisnis mereka. Kenangan, dengan sendirinya, juga ikut dikubur dalam-dalam.

31 Desember 2013 jadi hari bersejarah ketika untuk terakhir kalinya toko ini bernapas dengan sisa-sisa tenaga. Seluruh barang diberi label sale dan semuanya harus terjual habis. Sebagai retail, Aquarius Mahakam kehabisan energi.

Bisnis musik, memang terjun bebas beberapa tahun terakhir. Orang kebanyakan tidak lagi percaya pada bentuk fisik ketika file-file digital berkuasa. Sleeve dan cerita yang menarik di balik penggarapan sebuah album, jadi omong kosong kalau dibandingkan dengan upaya keras membuat bisnis tetap berputar. Hal yang seksi untuk segelintir orang –tenyata memang hanya segelintir— ternyata tidak membuat uang datang dan napas menjadi semakin panjang.

Aquarius Mahakam (19)

Aquarius Mahakam (20)

Aquarius Mahakam memang tidak lagi kompetitif beberapa tahun belakangan. Ada di kawasan berpajak tinggi dan ongkos perawatan yang mahal membuat beban biaya operasional jadi lebih besar. Sementara, rantai supply dan demand tidak berjalan sesuai dengan keinginan.

Ketika mereka akhirnya mati, ada satu hal yang secara personal saya sesali: Kenangan.

Aquarius Mahakam (6)

Saya, seperti layaknya banyak pencinta musik yang tinggal di Jakarta, pernah menjadikan toko cd ini sebagai tempat berziarah. Minimal, sebulan sekali, saya berkunjung ke tempat ini. Ketika kemudian beberapa tahun lalu kerja di kawasan yang sama, saya malah seminggu dua kali mampir ke sana. Menu makan siang, kadang diisi dengan kunjungan ke tempat ini.

Itu membuat saya kenal muka dengan sejumlah orang yang kerja dan tumbuh tua bersama tempat ini. Itu juga yang memprovokasi airmata saya untuk keluar selepas melakukan kunjungan terakhir ke sana tanggal 30 Desember 2013 yang lalu, sehari sebelum ia mati.

Aquarius Mahakam (17)

“Yah, bos, mau gimana lagi? Sudah harus tutup kata manajemen. Kita kan hanya kerja di sini,” ujar seorang laki-laki paruh baya yang sangat familiar.

“Elo pake tutup sih,” timpal saya setengah bercanda.

“Maaf deh, nggak bisa lebih lama lagi. Kalau ada salah, saya dan teman-teman minta maaf ya,” balasnya. Ini yang bikin sedih.

Di tengah keterpurukan, mereka masih bisa menempatkan pelanggan sebagai pihak yang paling kehilangan. Padahal, orang-orang di toko ini sudah pasti jadi orang yang paling merugi. Kalau orang-orang seperti saya sifatnya hanya mencari hiburan dengan datang ke toko ini, mereka mencari makan. Ada banyak nyawa yang digantungkan nasibnya di dalam bisnis ini. Dan ketika harus mati, sudah barang tentu ada banyak yang lebih terluka ketimbang pelanggan lama seperti saya. Pakai bonus minta maaf lagi si bapak ini.

Luar biasa.

Dua orang perempuan yang biasa beraksi di balik kasir juga tidak kalah sedihnya. Dulu, saya selalu mengejek mesin EDC ATM BCA mereka yang usang.

Aquarius Mahakam (1)

“Mas, kalau kita ada kurang berkesan, maaf ya. Nggak tahu mau ngapain abis ini,” kata salah satu dari mereka.

“Foto dong untuk terakhir kali,” goda saya.

“Ah, nggak usahlah. Kita hilang kerjaan nih. Belum tahu mau ngapain lagi. Malu. Udahlah, jangan diinget-inget lagi,” kata mereka. Wah, ini jadi serius.

Sehabis berinteraksi dengan mereka, saya seperti anak hilang, bolak-balik melihat apa yang bisa dilihat untuk terakhir kalinya. Beberapa orang lain, masih sibuk memberesi sekaligus memindahkan cd yang masih tersisa ke sebuah rak yang lebih kecil.

“Supaya lebih fokus belinya. Udah tinggal dikit soalnya,” kata pegawai lain yang saya tanya dengan penuh basa-basi kenapa cd-cd itu harus dipindahkan.

Diskon 70% di dua hari terakhir mereka, masih memberikan saya deal yang bagus. Pembelian terakhir itu, rasanya jadi kontribusi terakhir yang sangat penting untuk mereka. Hasil penjualan itu, bisa jadi adalah tambahan untuk hitungan akhir kompensasi yang harus dibayar perusahaan untuk masing-masing pegawai yang akan segera kehilangan pekerjaan itu.

Aquarius Mahakam (18)

Saya kemudian, sibuk mengambil gambar. Rak-rak kosong ada dalam rekaman. Sudut-sudut penting di mana saya memburu rekaman yang pernah jadi terkini atau menjawab rasa penasaran, kini jadi sudut kosong tanpa penghuni. Tidak lagi punya nyawa.

Saya memandang ke sudut kosong yang sudah dihalangi tali di bagian kaset. Di tempat itu, saya membeli kaset Puppen MKII sekitar tahun 1997. Album itu, mengubah masa remaja saya, Aquarius Mahakam mengambil peran penting.

Atau juga, saya ingat sejumlah titik di mana hobi saya bercerita tentang musik dikonsumsi oleh sejumlah perempuan yang pernah saya ajak kencan dan mengunjungi toko musik ini. Memori-memori itu jalan seliweran.

Aquarius Mahakam (14)

Aquarius Mahakam (15)

Dulu, ketika Aquarius Pondok Indah tutup, saya tidak segini berdukanya. Maklum, tidak banyak kenangan yang dijalin. Tapi kalau Aquarius Mahakam, fiuh, saya benar-benar berantakan dibuatnya.

Tapi ya, apa sih yang bisa saya kasih secara finansial untuk menyambung asa hidup mereka? Rasanya, jaman menggilas teknologi yang masuk kategori usang. Orang-orang yang mengagungkan sisi romantis membeli musik dalam bentuk rekaman fisik seperti saya mungkin hanya perlu terus menerus mensiasati keadaan. Aquarius Mahakam pun, menutup cerita.

Terima kasih banyak atas seluruh kenangan yang pernah ada di tempat ini. Semoga nyawa toko ini, di manapun ia berada, tenang beristirahat dan bangga; karena ia pernah memberi darah kental untuk musik negara ini.

Aquarius Mahakam (21)

Satu yang pasti: Memori akan Aquarius Mahakam tidak pernah mati. Minimal di dalam diri saya. (pelukislangit)

2 Januari 2014
Kantor Dharmawangsa
16.34
Ketika Writer’s Block
Untuk Aquarius Mahakam dan seluruh isinya

Saya, terakhir kali di ruang Aquarius Mahakam:

Aquarius Mahakam (5)

Jadi editor majalah

01

Sampai kurang lebih dua bulan yang lalu, tanya-jawab idealisme akan pertanyaan itu masih sama.

Tanya: Mau nggak jadi penulis full time?
Jawab: Nggak.
Tanya: Kenapa?
Jawab: Karena takut nggak merdeka ketika nulis kalau harus terus menerus.

Tapi kemudian, sebuah peluang emas mampir ke dalam hidup saya. Kantor punya majalah inflight sendiri, khusus untuk pasar Indonesia. Dua layer bos di kantor memanggil saya, memberi penugasan baru untuk berkubang di dalam tantangan ini.

Saya dianggap punya bekal paling mantap di kantor untuk urusan tulis-menulis. Mungkin karena orang-orang di kantor tahu pekerjaan sampingan saya menulis di mana-mana. Tapi, posisi yang ditawarkan adalah editor. Tugasnya mengelola majalah yang akan lahir itu. Whoa!

“Waduh, ini tantangan besar,” ucap saya di dalam hati. Bukan apa, saya memang punya latar belakang dunia tulis-menulis, tapi jadi editor? Belum pernah sebelumnya dan sekarang ditawari kepercayaan untuk mengelola majalah inflight kantor.

NewAdventures (7)

Majalah ini, akan dicetak 10,000 kopi untuk awalan. Karena akan ada di tiga puluh pesawat yang dimiliki oleh kantor saat ini. Sebulan, akan naik dua kali; biasanya di tengah bulan akan dimasukkan lagi yang baru karena yang lama rusak dibaca orang atau dicorat-coret atau dijadikan suvenir untuk dibawa pulang. Di akhir tahun, proyeksi pesawat kantor akan jadi tiga puluh enam. Berarti tiras majalah ini akan naik 20%.

Gila!

Itu bukan main-main. Yang bikin sedikit lebih mudah adalah fakta bahwa majalah ini tidak dijual untuk umum. Jadi, saya tidak bermain dengan target jualan yang kadang menghantui dan jadi momok untuk sebuah bisnis penerbitan.

NewAdventures (6)

Majalah ini akan hidup dari pengiklan yang pasarnya sudah pasti; orang-orang yang terbang bersama kantor dengan kapasitas maksimal. Jadi, hitungan bisnis ini lumayan menarik dan resiko agak minimal ketimbang bisnis penerbitan biasanya.

Dari situ, mulailah saya bergerilya. Coba ngobrol dengan beberapa teman yang memang lebih punya pengalaman untuk jadi editor dan mengelola sebuah sirkulasi penerbitan. Tidak mudah, karena ini ibaratnya mengurai jaringan informasi; saya sudah tahu bisnisnya seperti apa, flownya gimana, tapi bagaimana menjadikannya satu jaringan besar yang punya sinergi tinggi.

Kami memilih vendor untuk melakukan penulisan. Fungsi saya, hanya mengawasi beberapa faktor yang harus berjalan sembari menulis sekitar 15% konten di dalamnya. Maklum, kadang-kadang mental penulisnya masih ingin ambil bagian langsung.

Misalnya saja, saya memilih untuk mewawancarai langsung Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk edisi ini. Sisanya, mengedit seluruh tulisan yang ada. Ini, sesungguhnya lebih melelahkan ternyata ketimbang menulis yang bisa mengalir begitu saja.

NewAdventures (4)

Kenapa? Karena ada banyak faktor yang harus diperhatikan. Misalnya saja, majalah ini harus bisa masuk ke mereka yang gila traveling sekaligus juga ibu-ibu yang tidak pernah membaca. Kebetulan, di kantor karakter model gini ada. Jadi, mereka bisa jadi teman diskusi yang enak untuk menentukan arah majalah ini mau jalan kemana.

Menentukan jiwa majalah ini jadi tantangan sendiri. Bagaimana ia bisa senapas dengan apa yang kami semua inginkan di kantor dan bisa jadi sebuah bacaan yang bermanfaat. Harus diingat bahwa orang tidak punya niat khusus majalah ini, jadi memang sifat informasinya harus dikirim dengan level yang sangat sederhana.

NewAdventures (5)

Membuat sesuatu yang sederhana itu lebih susah ketimbang membuat sesuatu yang rumit.

Saya perlu waktu sekitar dua minggu untuk bolak-balik mencari contoh tulisan yang dianggap cocok dengan majalah ini. Ada sekitar tiga-empat kali proses penolakan yang mewarnai proses ini. Tapi, ya memang harus jungkir-balik. Kebetulan, bos di kantor itu tipenya perfeksionis yang agak realistis. Jadi, memang harus menghasilkan kualitas kerja yang sangat baik untuk bisa memuaskannya. Masuk akal, dan memang itu harus dilakukan untuk membuat produk yang keluar nantinya bagus. Lebih baik, gontok-gontokan di dalam dan bisa memuaskan sebanyak mungkin orang ketika mereka membacanya.

Tentu saja, mustahil untuk bisa memuaskan semua orang. Itu kenapa begitu ketika barangnya keluar, yang saya nantikan pertama kali adalah kritik.

NewAdventures (10)

Setelah itu, gaya penulisan didapat, mulailah pada eksekusi produknya. Saya dan tim vendor yang ada, mulai melakukan pekerjaan dasar; menulis.

Ada dua artikel yang saya tolak dan harus dikerjakan ulang untuk edisi perdana majalah ini. Karena memang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Selebihnya, puji Tuhan dikasih kesempatan untuk mengurangi drama di proses kreatif ini.

Saya juga tetap memberikan warna personal yang khas pada majalah ini. Saya memastikan bahwa sentuhan saya tetap kental di sejumlah titiknya. Biasalah, ego penulis.

NewAdventures (8)

Yang paling makan energi adalah proses cetaknya. Karena harus berlarian dengan waktu. Obyektif kami di kantor jelas: Majalah ini harus tersedia di pesawat tanggal 1 Januari 2014. Waktu tidak mau menunggu.

Jadilah, prosesnya dikebut. Termasuk di dalamnya terjadi drama warna turun dan beberapa typo yang katanya lazim terjadi di penerbitan perdana. Tapi, karena kami tidak bisa menerimanya, jadilah semuanya diperbaiki sesuai dengan keinginan.

Kami jadi klien yang sangat cerewet untuk vendor. Tapi, semuanya dimaksudkan untuk hasil yang bagus. Dan, kami tahu apa yang kami mau.

NewAdventures (3)

“Gila, ini paling ribet sih prosesnya. Paling deg-degan,” kata salah satu dari mereka yang kemudian tersenyum lebar sembari memegang majalah edisi perdananya.

Tanggal 30 Desember 2013 kemarin, majalahnya keluar dari percetakkan dan mulai didistribusikan ke sejumlah titik. Tanggal 1 Januari 2014 majalah ini akan mulai tersedia di seluruh pesawat kantor. Bertahap.

Saya menikmati peran ini. Walaupun harus membatalkan liburan akhir tahun. Tadinya, punya pikiran untuk pergi ke Melbourne, mengunjungi Obi Gordon-Smith yang tinggal di sana. Tapi, Melbourne selalu bisa menunggu. Tantangan dan kesempatan tidak datang dua kali.

Kembali ke pertanyaan di atas, mungkin saya harus meralatnya sekarang ini. Mungkin. Coba dipikirin lagi deh.

Oh iya, kalau kalian terbang bersama pesawat kantor dan membaca majalah ini, ditunggu feedbacknya ya. (pelukislangit)

Rumah Kalibata
31 Desember 2013
09.59

*) Sebelum ngalong dan memastikan seluruh proses berjalan dengan lancar nanti malam.
*) Untuk MB, AC, AD, JC, YR, AA dan AB yang memberi warna kental pada cerita perdana ini.

*) Judul diambil dari salah satu album R.E.M. yang dirilis tahun 1996. Mereka melakukan petualangan baru dengan elemen sampling dan musik elektronik di album ini. Idenya, kurang lebih sama dengan cerita saya ini.

NewAdventures (2)

Tats 1

“Buatlah hari ini, jangan kau tunda-tunda lagi..”
(Shaggydog – Ditato)

Tahun 2013 ini, saya pertama kali punya tato. Buat saya, punya tato itu berarti menang melawan sebuah pertandingan besar yang sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun; pertandingan melawan rasa takut akan jarum.

Saya takut jarum. Ambil darah saja, takutnya minta ampun. Joke standarnya, “Ah, badan gede kok takut sama jarum?”

Padahal, jarum itu jahanamnya luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan benda itu masuk ke dalam tubuh saya lama dan benci sekali akan rasa sakit yang ditimbulkan olehnya. Tapi, saya selalu ingin punya tato. Gimana dong?

Untuk punya tato, tentu saja harus memberanikan diri untuk dirajah secara konstan oleh si jarum. Nah, persoalan itu yang terus menerus menggelayut beberapa tahun terakhir ini. Saya ingin punya sebuah tato, tapi saya harus berani mengalahkan rasa takut ini terlebih dulu.

Akhirnya, seminggu setelah ulang tahun yang ke-30, saya memberanikan diri untuk membuat tato pertama saya.

Sejak beberapa tahun terakhir, saya selalu ingin menuliskan nama keluarga saya dalam aksara hindi di tangan kiri saja. Penjelasannya kurang lebih seperti ini:

Nama Keluarga – Di keluarga ayah saya, pewaris nama keluarga Dass hanya ada dua orang; saya dan Dylan, si adik kecil. Saudara ayah, tidak ada yang memiliki keturunan laki-laki. Jadi, kamilah yang bisa meneruskan nama itu. Celakanya, di akta kelahiran kami, tidak ada nama Dass terpampang di sana karena berbagai macam alasan. Saya ingin mengabadikan nama itu di badan saya, ide dasarnya seperti itu. Tadinya sempat berbincang dengan sepupu saya yang tinggal di Kolkata untuk menggunakan aksara bengali, suku asal kakek kami. Tapi dari segi estetika, aksara hindi lebih baik visualisasinya ketimbang aksara bengali.

Tats 2

Posisi di Lengan Kiri – Saya selalu merasa bahwa saya lebih suka sisi kiri ketimbang kanan. Semua pilihan sejak kecil, selalu berbeda dengan kebanyakan orang; saya memilih bermain bola dengan kaki kiri ketimbang kaki kanan, saya lebih suka menghabiskan waktu ke toko cd ketimbang nangkring buang-buang duit di mall ketika kecil, meninggalkan kuliah karena merasa ia tidak cocok ketimbang melanjutkannya dan membohongi diri sendiri atau membiarkan rambut gondrong terurai di dalam beberapa periode. Saya berani untuk jadi orang yang berbeda. Dan di budaya Indonesia, tempat saya dibesarkan, kiri adalah simbol minoritas kalau dibandingkan dengan sisi kanan yang seringkali dianggap lebih baik dan sopan. Pilihan lengan kiri adalah manifestasi keinginan ini.

Tentunya, karena sudah tahu mau seperti apa, segala sesuatunya jadi lebih mudah. Saya memberanikan diri untuk membuat janji dengan Unboundkill dari Lawless Tattoo untuk membuat tato.

Keringat dingin muncul ketika Unboundkill memanaskan mesin tatonya. Di seberang, ada seorang yang badannya lebih besar ketimbang saya dan nampaknya dia santai saja. Pandangan itu membuat saya bisa lebih santai ternyata.

Benar saja, ketika jarumnya mulai masuk ke tangan saya, ternyata rasanya tidak sesakit yang dibayangkan. Mungkin karena memang secara nyata, jarum itu tidak masuk ke dalam daging, hanya main-main di permukaan saja.

Lalu, saya jadi orang paling sombong sedunia dengan berpikir, “Ah, cuma segini doang nih?”

Seperti yang bisa dilihat di gambar-gambar halaman ini, saya tidak punya tato yang njlimet desainnya. Karena memang ingin sebuah kesederhanaan untuk awalan. Tato pertama ini adalah simbol perlawanan terhadap diri sendiri. Dan saya menang.

Mungkin, di masa yang akan datang, akan ada tato-tato yang lain. Tapi menggambar nama keluarga di badan sebagai titik kick off adalah sebuah pilihan terbaik yang bisa diambil.

Kemenangan ini, adalah salah satu sedikit hal baik yang terjadi tahun ini. (pelukislangit)

Rumah Kalibata
30 Desember 2013
10.54

Tats 3

Hello!

My name is Felix Dass. I'm building surprises on someone else's tales.

Pembagian Cerita

Felix Dass on Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers