Tulisan ini dipost ulang untuk ikut merayakan dirilisnya versi vinyl album Matraman milik The Upstairs, sekaligus memeriahkan ulang tahun ke-10 album yang sangat personal ini. Review ini sedianya akan dipost di webzine saya yang tidak pernah menjadi kenyataan sampai hari ini. Saya ingat menulisnya ketika tinggal di Bandung dan berusia dua puluh satu tahun. Masih sangat muda dan review ini sudah berumur.

Ketika menulis, saya ingat, Matraman ada di liga yang berbeda dengan Antah Berantah, EP pertama The Upstairs. Saya, awalnya, lebih menyukai debut mereka ketimbang album ini. Tapi kemudian, sepanjang perjalanan waktu, dengan berat hati, pilihan itu harus diralat. Matraman berhasil menjadi soundtrack esensial untuk perjalanan hidup saya.

Dan ia menancapkan cengkeraman yang sangat kuat pada penanda jaman Jakarta di era itu. Silakan datang ke pesta peluncuran albumnya hari Selasa besok. Dan selamat membaca review yang sudah berumur ini.

The Upstairs Matraman - Release Party

Reviewnya begini:

Pernah mendengar ada sebuah artis yang namanya Jimi Multhazam? Nah, dari nama yang tidak komersil itu, hadirlah sebuah konspirasi setan yang sangat menjanjikan kenikmatan. Namanya: The Upstairs. Band new wave yang sangat-sangat berbakat. Dan tentunya, representasi sisi kesenian lain dari Jimi. Materi album ini sebenarnya lebih banyak dipenuhi oleh materi lama mereka yang pernah dirilis dalam bentuk mini album dua tahun lalu. Juga materi-materi yang sangat indah. Bariskan saja: Antah Berantah, Modern Bop, Mosque of Love, dan Nilai Nilai Nilai. Tapi, marilah kesampingkan materi-materi lama. Hanya ada 3 lagu baru di rekaman ini. Matraman adalah yang paling menonjol. Jauh lebih bagus ketimbang lagu jagoan Apakah Aku Ada di Mars Ataukah Mereka Mengundang Orang Mars. Jika pernah melihat mereka manggung, bayangkan bagaimana Jimi mengoceh panjang lebar bin sompral untuk mengintroduksi satu demi satu lagu-lagu mereka. Lalu, kali ini yang dapat kita rasakan adalah nuansa bersenandung yang sangat syahdu, bersama lagu-lagu The Upstairs. Hahahaha… Sangat tidak mungkin, bukan? Yang harus disayangkan, adalah kualitas rekaman yang terlalu lembut. Itu menurut saya yang sangat awam teknik bermusik. Bagi saya, dengan rendah hati dan tanpa maksud untuk membanding-bandingkan, saya lebih menyukai suara kasar yang mereka hasilkan di mini album dulu. Lebih absurd, gitu. Tapi, sekali lagi, kalau mengingat ini adalah The Upstairs, suatu kali saya pernah menulis begini: The Upstairs adalah konspirasi tangan setan yang sangat menjanjikan kenikmatan. Dan Jimi? The Messiah, himself! Tapi album ini, sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja. (pelukislangit)

*) Tulisan asli ini ditulis sekitar pertengahan Februari 2004. Saya mengirimkan email tulisan ini ke sejumlah orang pada tanggal 18 Februari 2004. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Untuk Kamerad Wiratmono yang sudah pergi dalam tenang sebagai Josef Wiratno.

Senyap

Sebagian dari diri saya, ingin bersembunyi. Sebagian lagi, ingin berteriak kencang menggugat. Tapi kemudian, cara Senyap berdamai dengan keadaan membuat seluruh gempuran energi itu diam tercekat.

Di akhir cerita Senyap, saya terdiam. Mungkin ada lebih dari semenit. Dua sisi tempat duduk seolah menjadi bantuan tangan ekstra yang tetap membuat diri tersadar. Perasaan acak kadut; ada marah, jijik, takut, heran dan sekaligus damai. Sebuah film, mampu berbicara banyak ketika keseharian kita menyorongkan pilihan untuk bungkam dan cenderung meminggirkan fakta sejarah yang mencengangkan.

Seluruh identitas resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saya pegang, membuat sedikit rasa malu tinggal diam. Ada satu paradoks, benda-benda kesetiaan pada negara itu sebenarnya bisa jadi alasan untuk menumpahkan kemarahan.

Tapi, untuk apa mengikuti kemarahan?

Adi Rukun menjadi sebuah pisau tajam perdamaian lewat kisahnya. Film Senyap, berkisah tentang bagaimana ia mengelola segudang perasaan yang bertempur di dalam diri untuk kemudian mengikuti naluri bersahaja milik manusia; berdamai dengan keadaan.

Ia, bisa jadi memilih cara yang barbar dengan menuntut balas. Ia bisa juga mendera lawan-lawan bicaranya dengan palu godam yang bisa meremukan muka sewaktu-waktu. Tapi ia memilih untuk menghayati ekspresi muka orang-orang yang ia temui di dalam berbagai macam fragmen sepanjang Senyap untuk kemudian mengambil serangkaian tindakan terpuji untuk mempersilakan maaf menguasai nuansa hitam yang menggelayut di peradaban manusia modern ini.

Komunis, di tanah ini, berhasil menjadi sebuah momok berbahaya yang harus ditakuti dan dihindari dalam pembicaraan warung kopi. Padahal, ideologinya sudah usang dan cenderung tidak punya taji untuk hidup bersemayam dalam sendi-sendi keseharian bangsa seperti Indonesia.

Indonesia, bukan Vietnam yang masih mengagungkan jasa Kamerad Ho Chi Minh. Atau Indonesia, juga bukan Kolkata yang berhasil memodifikasi komunisme untuk hidup berdampingan dengan budaya lokal.

Di Indonesia, komunisme adalah cerita usang tentang mimpi-mimpi utopis manusia untuk bisa menciptakan kehidupan sama rata, sama rasa. Dan tentu saja, berbeda dimensi dengan paham “Istrimu, istriku” yang seringkali diungkapkan sebagai sebuah propaganda negatif untuk menangkal mimpi itu.

Tapi paham usang nan kuno itu, berhasil dibungkus dengan sebuah pelemahan kebudayaan yang dirancang dengan sangat hebat oleh sebuah rezim. Perancangnya, siapapun ia secara personal, wajib diganjar oleh penghargaan paling agung yang bisa diciptakan umat manusia; karena ia berhasil mengendalikan kehidupan bangsa dalam sebuah kerangka teror terhadap intelektualitas. Sekaligus juga, berhasil melepaskan sisi paling buas dari sebuah organisme hidup yang sejatinya tidak pernah berani dibayangkan oleh manusia modern.

Kekerasan jadi benang merah yang harus ditelan mentah-mentah sepanjang sembilan puluh menit. Dan itu sangat menyakitkan.

Senyap membuat jantung saya berdegup kencang, beberapa kali kehilangan kata-kata dan cenderung tidak punya nyali untuk melanjutkan napas di detik-detik berikutnya.

“Kok bisa ya manusia bertindak seperti itu?” adalah pertanyaan yang mungkin muncul pertama kali.

Mengikutinya di belakang, “Apa yang bisa membuat mereka tega melakukan itu ya?”.

Pertanyaan-pertanyaan substansial seperti itu, merupakan reaksi wajar. Dan olehnya, kita sebagai Bangsa Indonesia harus merasa resah karena berhasil ditelanjangi bulat-bulat oleh rangkaian gambar gerak yang tidak perlu disanggah keberadaan faktanya.

Karena Senyap, menyadarkan kita semua; tidak ada guna menyangkal, tidak ada guna mencari siapa yang salah dan tidak ada guna menggugat alam raya.

Komunisme dan seluruh ekses di masa lalu sudah berlalu. Yang perlu kita lakukan sebagai bangsa, hanya berbesar hati mengakui sejarah kelam itu. Toh, punya catatan gelap secara kolektif, bukan sebuah dosa hina yang mengubah cerita masa depan.

Sejarah mencatat, rekonsiliasi adalah obat yang super manjur untuk menutupi luka besar yang masih menganga. Tugas manusia Indonesia sekarang, hanya mengobati luka itu perlahan-lahan sekaligus memberikan asuransi natural bahwa kisah-kisah pilu seperti ini tidak bisa diperkenankan lagi hadir di tengah kehidupan kita semua.

Kembali ke film, ada satu titik lemah yang sayangnya harus direkam oleh Joshua Oppenheimer dan kru anominnya. Di bagian terakhir ketika dua laki-laki muda dan seorang ibu tua renta memajang wajah penuh kekagetan mereka yang disikapi dengan berbagai macam bentuk emosi, ia memilih untuk meminggirkan empati dengan menyorongkan rekaman si ayah yang merupakan seorang pembunuh berdarah dingin.

Kalau perlu dicatat, inilah salah satu kekurangan Senyap. Memojokan orang yang sudah terpojok, sejatinya secara prinsip, tidak banyak berbeda dengan apa yang dilakukan si ayah yang berdarah dingin itu kepada korban-korbannya.

Kalau kamu mencari alur cerita film ini, silakan cari review lain yang mungkin lebih punya korelasi kronologis tentang bagaimana film ini dirangkai.

Dan saya, di akhir film ini, berhutang besar pada Adi Rukun atas pelajaran berdamai dengan masa lalu yang ia wariskan secara personal. Saya harus berterima kasih padanya.

Dalam gulungan yang tidak teratur, Senyap pun meninggalkan pesan manis yang mungkin dikirim oleh Kamerad Wiratmono entah dari alam raya sebelah mana; bahwa rekonsiliasi dengan amarah dan diri sendiri adalah hal terbaik yang bisa diteruskan kepada masa depan. (pelukislangit)

11 November 2014
22.17
Kopi Oey Jalan Sabang

Tribute personal untuk kemenangan Persib Bandung, 7 November 2014

Persib - Asean Football

Perdebatan tentang dua puluh dua orang berpeluh dan meregang napas memainkan sepakbola selalu ada mengintai. Terlebih jika setengahnya kemudian menjadi juara dan membuat kehidupan lumpuh dalam kebahagiaan.

Bandung, ketika tulisan ini mulai dikerjakan, sedang padat. Boit, seorang teman yang punya usaha di Ciumbuleuit dan rumah di Ujung Berung, sampai harus memutar ke jalan tol untuk menjangkau rumah yang hitungan kilometernya tidak jauh itu. Ia dan suaminya, bukan penggemar sepakbola. Tapi mereka larut dalam kebahagiaan sebagai warga kota yang tim sepakbolanya baru menjadi juara se-Indonesia.

Putaran jarak yang lebih jauh, tidak menjadi masalah untuk mereka. Ada hal yang lebih besar daripada kesulitan jalanan yang padat di luar jam lazim; kebahagiaan mereka sebagai warga Kota Bandung.

Persib Bandung menjuarai Indonesian Super League (ISL) 2014.

Gelar juara ini, harus diraih setelah penantian yang sangat panjang, sembilan belas tahun. Waktu berlalu tanpa berhenti rasanya sejak gol tunggal Sutiono Lamso mengoyak jala Darryl Sinerine, penjaga gawang Petrokomia Putra, di final tahun 1995. Waktu itu, saya masih duduk di bangku sekolah menengah.

Kemenangan Persib Bandung di tahun itu, rasanya pahit untuk orang yang bukan pendukung seperti saya. Auranya tidak bagus, karena ada sedikit kontroversi di partai final. Persis seperti ketika Andreas Brehme membawa Jerman Barat menjuarai Piala Dunia 1990. Masa lalu, toh tidak perlu digugat. Fakta sejarah mencatat, itulah tahun terakhir Persib Bandung meraih gelar Juara Indonesia.

Sepanjang era modern sepakbola Indonesia, tepat setelah Liga Super –dan apapun namanya— bergulir, Persib Bandung seolah terpinggirkan dari guratan sejarah. Beragam tim bergantian menjuarai Indonesia, termasuk tim favorit saya, Persipura Jayapura. Tapi Persib Bandung? Nyaris pun tidak.

Ada banyak faktor penghambat yang membuat mereka gagal; manajemen buruk, materi pemain butut, ogah meningkatkan daya saing dengan menggunakan pemain asing ketika banyak tim menggunakan materi impor, kebanyakan partai usiran karena pendukung yang tidak suportif –sampai harus bermain dengan sunyi di kompleks militer—, atau sekedar tidak punya faktor intangible bernama mental juara.

Persib - Wildan Almine

Kurang lebih enam tahun setelah kemenangan terakhir Persib Bandung itu, saya pindah ke Bandung untuk kemudian menjadi warganya selama tujuh tahun berikutnya. Saya tidak pernah jadi pendukung, tapi beberapa kali ada di stadion ketika mereka memainkan pertandingan di rumah sendiri.

Karena sudah disesaki minat pada sepakbola lokal sejak dini, maka saya seringpula terlibat dalam pembicaraan penuh energi dengan sejumlah teman –yang asli Bandung—
yang dari lahir sudah dinapasi oleh kecintaan brutal pada Persib Bandung. Tim sepakbola itu, ada di dalam setiap detik kehidupan kota.

Kondisinya jadi lebih mudah dipahami karena saya adalah seorang pendukung Liverpool FC yang kebetulan sudah lama juga tidak jadi Juara Inggris. Kerinduan akan gelar juara yang diiringi loyalitas besar, membuat kecintaan itu bisa dimengerti.

Membandingkan pendukung Persib Bandung dengan Liverpool FC merupakan sebuah analogi yang paling mudah dicerna; kalah-menang, bagus-butut, tim favorit selalu didukung.

Ketika menuliskan tulisan penghormatan ini, saya juga ingat Tito Santika, seorang juragan kaos di Bandung yang sejak saya mengenalnya, rela membayar ratusan ribu untuk tiket VIP di pertandingan rumah yang dimainkan Persib Bandung. Kalau tidak salah, sekitar 2006-2007, harganya sudah Rp.150.000,00 untuk sekali pertandingan. Di beberapa pertandingan penting, harganya bisa tiga kali lipat. Waktu itu, juga kalau tidak salah, belum ada paket tiket semusim. Angkanya, untuk kehidupan orang Bandung di jaman itu, lumayan besar.

Tito Santika nyaris tidak pernah absen dan di Bandung, ada banyak sekali orang seperti itu. Seolah-olah, dunia mau kiamat besok, kalau hari ini Persib Bandung main, hukumnya wajib ditonton dulu. Perkara persiapan menuju kiamat, itu urusan belakangan.

Level fanatisme mereka seolah tidak berhubungan dengan prestasi tim di lapangan. Stadion tetap penuh sesak, penjaja merchandise bootleg bisa menghidupi keluarganya atau bahkan jargon-jargon bodoh seperti “Wasit Goblog” tetap akan membahana dalam hitungan yang bising ketika pertandingan dimainkan.

Menggambarkan cinta orang Bandung pada Persib Bandung itu susah. Sesusah mencari pengertian yang pas kenapa Persib Bandung tidak pernah bisa menjadi juara nasional beberapa tahun terakhir.

Ada belokan vital yang dilakukan Persib Bandung dengan menggandeng PT. Persib Bandung Bermartabat (PT. PBB) untuk mengelola tim. Ini juga menjadi penanda era baru tim sepakbola ini; jika sebelumnya hanya menjadi alat kebanggaan primordial, maka keberadaan perseroan profesional ini, membuat mereka menjadi mesin bisnis yang bagus.

Sponsor antri masuk karena memang pasar Persib Bandung ini luar biasa besar. Saya pernah ngobrol dengan Muhammad Farhan, salah satu seorang dedengkot perusahaan pengelola ini. “Persib Bandung itu aset terbesarnya adalah bobotoh,” katanya.

Analogi yang sama bisa diterapkan ketika ratusan pemodal asing dengan penuh birahi ingin masuk ke pasar teknologi internet di Indonesia hanya karena melihat potensi penggunanya besar. Disederhanakan: Penduduknya banyak dan bisa jadi duit. Sukses atau gagal, itu soalan berikut.

Level nafsunya segitu, tapi tentu saja sepakbola bukan semata-mata urusan uang. Bobotoh memang berjumlah jutaan –karena Persib Bandung sudah meluas menjadi masyarakat Jawa Barat, bukan hanya Kota Bandung— berdasarkan riset yang dikembangkan oleh PT. PBB. Dan itu merupakan pasar basah. Tapi, sejarah panjang sepakbola di Bandung, tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Prestasi, sudah dirindukan.

Pengelola sadar bahwa prestasi akan membawa banyak efek domino di kemudian hari. Karena itulah, mereka membangun tim yang bertabur bintang beberapa tahun terakhir ini. Atlet-atlet sepakbola kelas satu, digilir untuk masuk Persib Bandung. Yang kurang ok, pada akhirnya terdepak.

Rasanya, bisa sekali dibuat tim baru yang isinya pemain buangan Persib Bandung. Mulai dari kiper Jendry Pitoy, bek tengah Abanda Herman yang berduet dengan Charis Yulianto dan Nova Arianto, pengatur serangan Lorenzo Cabanas yang mungkin akan sangat trengginas jika bersisian dengan Miljan Radovic atau saja pasangan striker idaman di diri Cristian Gonzales dan Sergio van Dijk. Mereka, dengan berbagai alasan, memang sudah tidak lagi bersama Persib Bandung. Tapi kehadirannya selalu dikenang karena memang kualitasnya luar biasa baik.

Orang-orang ini pernah berbaju Persib Bandung karena memang prestasi dituju. Tapi, mereka gagal. Beberapa orang dari ‘generasi modern’ Persib Bandung ini bertahan.

Sebut saja salah satu pemain sepakbola paling bodoh se-Indonesia (menurut saya) yang bernama Hariono. Ia dibawa Jaya Hartono lebih dari lima tahun yang lalu. Setia, tapi mainnya keras cenderung kasar dan suka merugikan tim. Atau poros super kuat di sisi kanan yang dibentuk oleh Muhammad Ridwan dan Supardi Nasir yang membuat keduanya jadi duet atlet sepakbola sisi kanan terbaik di Indonesia beberapa tahun terakhir. Supardi Nasir bahkan kembali masuk tim nasional karena performanya ini.

Persib - Beritasatu

Tidak hanya di situ, ada nama medioker lain di tim ini yang juga tahan lama, Tony Sucipto. Entah menilai bagusnya orang ini dari mana, tapi ia terus menerus masuk tim utama. Firman Utina, di penghujung karirnya, juga sudah bertahan lebih dari setahun.

Upaya jadi lebih indah dan romantis karena elemen masa lalu selalu berputar di jajaran pelatih. Nama-nama legenda lawas model kiper utama 1995, Anwar Sanusi, yang ada di bangku pelatih kiper, Herrie Setiawan di kursi asisten pelatih serta nahkoda Jajang Nurjaman punya tautan kental dengan masa lalu Persib Bandung. Jajang Nurjaman bahkan menggantikan legenda hidup yang seolah tidak pernah salah, Robby Darwis.

Jadi, dari segi konstruksi tim, Persib Bandung selalu punya amunisi komplit. Tapi, mental juara baru melekat musim ini di diri mereka. Materinya masih kalah mentereng dengan tim promosi Persebaya Surabaya atau Arema Indonesia atau bahkan tim favorit saya, Persipura Jayapura yang sudah bermain bertahun-tahun bersama dan sangat mengerti satu sama lain luar dalam.

Mental juara itu, membuat penampilan mereka konsisten dari awal sampai akhir. Juara kompetisi, idealnya memang harus dilihat bobot-bibit-bebetnya. Bukan hanya bergantung pada pertandingan final. Konstruksi kestabilan itulah yang membuat Persib Bandung punya pemahaman yang mantap untuk menjadi juara.

Perkara taktik yang membuat Hariono menginjak tulang kering Robertino Pugliara di awal pertandingan, Ahmad Jufriyanto yang meneror Dede Sulaiman dengan menabrakan badannya hingga kiper lawan ini terkapar menghajar tiang gawangnya sendiri atau trik Medan berulang yang dipraktekan Ferdinand Sinaga demi mendapatkan pelanggaran, sejatinya merupakan sebuah fragmen kecil yang lazim dimainkan dalam sebuah pertandingan. Dalam spektrum yang lebih besar, Persib Bandung tahun ini, adalah tim terbaik.

Persib - Vivanews

Mereka paham harus bermain keras menghadapi Persipura Jayapura yang secara kolektif skill pemainnya jauh lebih baik. Kecerobohan sedikit saja, akibatnya sudah jelas; bisa membuat mereka menderita gol kedua yang dicetak oleh Persipura Jayapura yang hanya tinggal berisi sepuluh orang pemain.

Kalau bicara lawan di final, Persipura Jayapura –kendati saya pendukungnya— tidak punya kestabilan yang dimiliki Persib Bandung. Terlalu banyak drama emosi yang mampir tahun ini. Tim favorit saya itu, kalau sudah emosi, mainnya jadi berantakan dan suka mendramatisir keadaan.

Tim yang saya bela habis itu, kalah dari tim terbaik. Itu bisa dilihat dari betapa hangatnya sambutan antara pemain ketika pertandingan berakhir. Yang berlangsung sepanjang koridor pertandingan, biarlah ada di sana. Ketika alam raya menentukan siapa pemenangnya, sudah selayaknya kondisi itu dihormati.

Alam raya memilih Persib Bandung menjadi pemenang. Sekaligus mengakhiri penantian belasan tahun yang rasanya sudah terlalu panjang itu. Nelson Alom, pengeksekusi penalti Persipura Jayapura yang gagal tadi, tidak pernah salah. Alam raya, tidak berpihak kepadanya dan ia harus menjadi pemenggal harapan.

Persib - Infobandung3

Persib - Infobandung2

Persib Bandung juara karena punya mental juara.

Dan faktor itulah yang membuat kota itu berpesta. Tinggal tujuh tahun di Bandung, membuat saya paham bagaimana harapan digantungkan di tubuh tim Persib Bandung.

Puluhan ribu tangis pecah, ratusan orang memilih untuk mabuk, ratusan ribu turun ke jalan atau bahkan lebih dari dua juta pasang mata menyaksikan siaran langsung pertandingan final tadi. Saya bisa merasakan, semuanya mengirim harapan energi yang sama.

Yang menang, bukan hanya tim, tapi seluruh kota.

Untuk teman-teman yang tinggal di Bandung dan merupakan pendukung Persib Bandung –kendati tidak tinggal di kota itu—, selamat. Nikmati momen yang ada di dalam genggaman. Persis seperti kata Ridwan Kamil, Walikota Bandung, di layar Metro TV, yang besok biarlah jadi urusan hari esok. Gimana nanti, yang penting, yang sekarang dinikmati dulu.

Persib - Infobandung

Kamu semua layak bersuka cita karena telah jadi yang terbaik. Titip pesan, jangan lupa mengingat mendiang Ayi Beutik yang memberi contoh teladan –baik atau buruk— kepada sepakbola Indonesia tentang bagaimana seorang bisa loyal sampai mati pada tim favoritnya.

(Sulit mengatakan ini) Hidup, Persib Bandung! Selamat melumpuhkan kota Minggu besok. (pelukislangit)

8 November 2014
Rumah Benhil – 01.34
Foto diambil dari Vivanews.com, Wildan Almine, Info Bandung dan Berita Satu. Maaf fotonya dicuri. Anyway, tulisan ini tidak lantas membuat saya menjadi pendukung Persib Bandung. Saya masih pendukung Persipura Jayapura.

Mengajar itu tidak pernah mudah. Ini bukan pengalaman pertama, tapi bisa jadi yang paling berharga. Anak kelas satu level sekolah dasar membuat saya keok.

IMG_2062

Saya baru saja menyelesaikan sebuah pencapaian baru: Menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok. Kenapa kata yang dipilih pencapaian? Karena sejatinya, ini merupakan sebuah tantangan besar yang baru saja diselesaikan. Tidak dengan sempurna, tapi saya cukup puas menemukan diri saya di akhiran hari.

Indikator kepuasan, di dalam kasus saya, adalah punya energi banyak untuk bercerita panjang lebar kepada orang-orang dekat tentang apa saja yang baru terjadi di dalam kisah hidup saya. Sebuah tantangan sederhana, harus diselesaikan dengan cara yang juga sederhana. Justru di situ seninya, menciptakan kesederhanaan itu selalu susah.

Salah satu pesan yang keluar yang ponsel saya setelah kegiatan itu selesai, bunyinya begini:

“Cannot be happier than this. I came out from that school as a different person.”

Orang yang saya kirimi gambar-gambar dan pesan dua kalimat itu, sangat mengerti karakter saya. Makanya, balasan yang ia kirim, nadanya menetralisir keadaan yang euforistik (apakah itu kata Bahasa Indonesia yang benar?). Begini bunyinya:

“Huaaaa. Keren-keren. Dasar Virgo.”

Setelah mengambil jarak beberapa saat dengan pesan balasan itu, saya sadar bahwa indikator kepuasan telah menguasai diri saya. Dua kalimat dalam pesan yang saya kirim keluar itu benar adanya, sebuah hari penuh harga baru saja mampir ke dalam hidup saya.

Sedikit ke belakang, sewaktu sesi briefing dilangsungkan dua minggu sebelum acara berlangsung, ada sebuah kalimat pemateri yang saya ingat dengan jelas.

“Ini bukan tentang siapa Anda, tapi tentang bagaimana Anda memberikan inspirasi ke anak-anak itu.”

Jadilah, kalimat itu melandasi kelas-kelas yang saya isi. Ada banyak cara yang bisa dipilih untuk bercerita kepada anak-anak yang menunggu relawan di sekolah-sekolah. Semuanya tidak bisa dibilang benar atau salah, semuanya relativitas. Saya, tentu saja, memilih menyampaikan materi dengan cara saya sendiri. Termasuk di dalamnya pilihan sadar menjadi diri sendiri, lengkap dengan berbagai sisi karakter yang menempel.

Karena bukan tentang seorang Felix Dass yang penulis, maka saya sama sekali tidak punya rencana memamerkan hasil pekerjaan dan pencapaian di dunia tulis-menulis yang sudah kejadian. Kelas-kelas yang saya isi temanya jelas, bagaimana menulis itu bisa menyenangkan dan jadi satu pilihan yang bisa diambil ketika dewasa nanti.

Yang saya sampaikan adalah materi tentang seorang penulis.

IMG_2066

Jadwal membawa saya mengajar kelas satu dan lima. Giliran kelas satu datang pertama dan kelas lima mengikuti beberapa jam kemudian.

Sehari sebelumnya, saya memilih untuk pulang ke rumah ibu di Depok. Supaya lebih dekat dengan lokasi SDN Depok Dua, tempat saya menjadi relawan. Lokasi sekolah dasar itu ada di dekat Stasiun Depok Lama, lokasi yang sebenarnya tidak sulit untuk ditemukan.

Ketika briefing dengan seorang guru dari sekolah itu, sembari bercanda, saya berceloteh, “Tapi ada tukang bubur enak dekat sekolah kan, bu?”

Sekolah itu dilengkapi dengan berbagai macam pilihan sarapan yang bisa disantap. Itu modal bagus untuk mengawali hari. Hari saya dimulai pukul lima pagi, waktu janjian pukul enam tiga puluh. Saya harus berangkat lebih awal karena ada keperluan mencetak materi presentasi untuk anak kelas satu.

“Felix, elo nggak bisa presentasi sama anak kelas satu pakai cetakan hitam-putih,” kata seorang kolega di kantor yang saya temui sehari sebelumnya. Kebetulan, anak paling kecilnya ada di kelas satu sekolah dasar.

Fakta itu mendorong saya untuk berangkat lebih awal dan mencetak ulang materi presentasi dalam format full color.

Karena mengajar di dua level yang berbeda, maka saya menyiapkan format yang juga beda. Untuk anak kelas satu, saya mencoba mengajak mereka menebak profesi-profesi yang ada. Jadi, saya mencetak gambar polisi, fotografer, penulis, pelukis, Bambang Pamungkas serta Joko Widodo.

Sementara untuk anak kelas lima, saya menyiapkan kertas kosong saja untuk mengajak mereka bermain dengan tulis-menulis. Saya membagi mereka ke kelompok-kelompok kecil lalu mengajak mereka menulis secara kolektif. Saya menulis kalimat pertama lalu mereka akan melanjutkan dengan satu kalimat, masing-masing anak. Sehingga, akan tercipta sebuah cerita di akhir.

Ada kejadian lucu sewaktu upacara, seluruh relawan diperkenalkan di hadapan anak-anak yang ikut upacara. Jadi, kami mengikuti upacara bendera di sekolah dasar itu. Termasuk bonus dijemur. Awalnya, saya membiarkan kemeja tangan panjang saya berfungsi sesuai dengan tugasnya sampai ujung tangan. Tapi rasa panas yang merongrong, membuat saya menggulungnya.

Itulah awal sebuah hari yang menyenangkan. Rombongan anak kelas lima yang berdiri di dekat saya, langsung tertarik kepada tato yang ada di lengan kiri saya. Tato itu memang dibuat dengan aksara Hindi dan berarti Dass, nama keluarga saya. Bentuknya yang Hindi, mmebuat sejumlah anak berpikir bahwa saya bisa diasosiasikan dengan pemeran serial Mahabarata yang tayang stripping di ANTV.

“Kak, yang main Mahabarata ya?” celoteh seorang anak.

Saya membalasnya dengan senyum, kendati belum mengerti bahwa ini adalah pintu masuk besar ke komunitas mereka.

Seringai saya yang kepanasan rupanya juga membuat mereka tambah bersemangat. Tensi sedikit naik ketika tiba giliran saya memperkenalkan diri. Dasar punya otak jail, maka perkenalannya berbunyi kurang lebih seperti ini:

“Halo. Saya Felix Dass. Kata teman-teman di sebelah kanan saya ini, saya pemain Mahabarata. Tapi tidak, saya sehari-hari merupakan seorang penulis. Seperti apa penulis itu? Sampai ketemu di kelas nanti ya.”

Begitu saya mengucapkan kata Mahabarata, tawa memecah dengan kencang di seantero peserta upacara. Mereka membeli candaan yang saya lemparkan. Saya pikir keadaan akan lebih mudah, tapi ternyata tidak.

Beberapa belas menit kemudian, saya masuk ke ruangan kelas 1B, giliran pertama. Menurut jadwal, saya diberi waktu dua jam untuk memberikan materi. Beberapa orang yang saya ajak ngobrol tentang tantangan ini bilang, bahwa saya harus mengajak mereka bermain. Tidak perlu serius, karena toh yang saya hadapi adalah anak-anak yang usianya enam atau tujuh tahun. Bagaimana mau serius?

Sesi dimulai dengan pertanyaan mau bernyanyi atau tidak. Mereka menyanggupi dengan memilih sejumlah lagu, beberapa anak mulai menunjukkan bahwa mereka adalah jagoan lokal kelas itu. Beberapa mencuri perhatian dan beberapa juga tidak acuh pada kehadiran saya. Persis seperti bicara pada massa yang besarlah, ada yang vokal, dominan, tapi ada juga yang tidak peduli pada keadaan.

IMG_2128

Lalu, saya mulai membagikan gambar. Begitu satu kelas sudah dapat gambar, saya mengajak mereka keluar kelas, ke lapangan. Sejak awal, salah satu niatan yang ingin saya sampaikan kepada mereka adalah ketersediaan berbagai macam cara untuk melakukan sesuatu.

Nilai-nilai kebebasan yang bertanggung jawab yang ditanamkan oleh Ordo Jesuit, menempel dengan erat di dalam diri saya. Bukan berarti memaksakan, tapi sampai di level bahwa ada opsi lain selain keteraturan yang ditanamkan oleh standarisasi sekolah sudah cukup untuk saya. Itu kenapa cara yang saya pilih adalah mengajak anak-anak ini ke lapangan, tempat mereka bisa menghirup udara yang lebih segar.

Untuk setengah jam pertama, ini adalah ide bagus. Tapi tidak untuk setelahnya. Anak-anak itu mulai menemukan kesenangan lain. Misalnya saja, menggoda teman yang lain dan mulai bertindak vandal. Yang bosan, juga mulai membuat klub sendiri di pinggir lapangan. Sulit untuk bisa mengendalikan empat puluh anak sekaligus.

Keadaan ini membuat saya panik dan mulai kehilangan konsentrasi. Ada anak-anak yang masih memberi perhatian, lebih banyak yang mulai merasa bosan dengan materi yang saya bawakan.

Lima menit kemudian, saya mulai berpikir untuk melempar handuk tanda menyerah. Ketika waktu menunjukan bahwa saya telah mengajar satu jam, saya segera keluar dari ruangan kelas sembari mengucapkan salam perpisahan dengan anak-anak. Saya kalah.

Begitu keluar, fasilitator yang mengawasi kelompok saya bertanya kenapa saya meninggalkan anak-anak itu. Saya bilang bahwa menyerah adalah sebuah pilihan yang bijak karena memang keadaannya sudah tidak kondusif. Ia berjasa mengisi kekosongan dan mengambil peran saya yang memilih untuk kalah.

Sesungguhnya, pilihan untuk kalah tidak pernah menjadi sebuah opsi yang eksis apabila memang saya punya nyali untuk menghadapi anak-anak kelas satu itu. Apa yang saya bilang kepada Mela, teman saya, di tulisan tentang Kelas Inspirasi sebelumnya, ternyata benar-benar kejadian; lebih mudah membuat sebuah presentasi untuk presiden ketimbang anak-anak kelas satu sekolah dasar.

Tulisannya bisa dicek di sini: http://pelukislangit.wordpress.com/inspirasi

Tapi, jangan khawatir. Saya orang yang percaya bahwa kesempatan kedua itu akan selalu datang. Ternyata juga, ada beberapa relawan yang mengalami kesulitan seperti saya; waktu dua jam terasa begitu lama. Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama, waktu mengajar dipotong menjadi satu jam saja.

Inilah uniknya Kelas Inspirasi. Masing-masing kelompok dibebaskan untuk menentukan aturan mereka sendiri mengenai alokasi waktu. Spirit kebebasan dan independennya lumayan besar.

Giliran kedua saya adalah mengajar anak kelas lima. Ketika istirahat panjang, beberapa anak yang sudah bertegur sapa dengan saya ketika upacara beberapa jam sebelumnya, menyambangi ruang tunggu kami di ruangan kepala sekolah. Dasar memang hobi ngobrol, saya akhirnya ngeriung bersama mereka. Topiknya tetap berkisar pada Mahabarata. Itu adalah ice breaker yang jitu. Sekaligus saya jadi tahu bahwa serial yang tampak lame itu, ternyata populer di anak kecil.

Tato saya menarik perhatian. Beberapa bahkan memberanikan diri menyentuhnya, ingin merasakan bagaimana gugusan tinta yang menempel di tubuh manusia. Saya membiarkan mereka, karena bisa jadi ini merupakan persentuhan pertama mereka dengan tato. Sekaligus mengikis pesan standar (kalau ada) bahwa tato itu tidak baik untuk kehidupan manusia.

Pertanyaan standar yang mengikuti adalah:

“Kak, itu artinya apa?”

Kalau dalam ruang personal satu lawan satu, biasanya saya akan iseng dengan menjawab sekenanya dengan nama lawan bicara saya. Misalnya saya berbicara dengan seseorang bernama Laurena.

“Eh, Felix, itu tato artinya apa ya?

“Laurena,” jawab saya. Biasanya, trik seperti ini lumayan mencairkan suasana karena level gombaliongnya luar biasa besar. Di beberapa kalimat berikutnya, baru saya bilang ke dia arti sebenarnya.

Tapi, karena berhadapan dengan belasan anak sekaligus, tidak mungkin trik gombaliong itu dimainkan. Haha.

Saya menjelaskan bahwa tato itu adalah nama keluarga saya, Dass. Mereka kemudian bisa mengerti –atau tampak pura-pura mengerti— dan memegang-megang tato saya. Menyenangkan rasanya bisa membuka pembicaraan dengan mereka yang usianya jauh di bawah saya.

IMG_2085

Saya juga membiasakan diri untuk memanggil mereka dengan “Elo-Gue”, sebuah panggilan yang sebenarnya biasa di level mereka tapi seolah dianggap tidak ada oleh orang yang lebih tua. Dulu waktu masih di sekolah dasar, saya pernah dipanggil oleh kepala sekolah karena ngomong “Tai” ke teman sekelas. Karena dilakukan tepat di depan si kepala sekolah, maka hal itu jadi salah. Padahal, yang lain juga melakukan hal itu. Cara si kepala sekolah itu, menurut saya tidak efektif.

Anak-anak itu akrab dengan kata-kata makian, tapi dibiasakan bahwa cara bertutur pergaulan seperti itu dianggap tidak sopan. Dalam beberapa hal, bukankah itu mengajarkan manusia untuk jadi munafik?

Jadi, “Elo-Gue” adalah upaya saya untuk berkontribusi mengurangi kadar kemunafikan di dalam pendidikan sehari-hari yang didapatkan anak-anak ini. Memang sih, tidak akan berarti banyak, tapi setidaknya membuat mereka punya pandangan lain bahwa berbicara dengan gaya yang seperti itu sah-sah saja.

Poin pentingnya adalah memperlakukan mereka sebagai sesame manusia, tidak lebih muda dan tidak lebih tua. Kesetaraan membuat saya bisa memandang banyak manusia dengan level umur yang beragam sebagai teman. Landasannya sederhana: sama-sama manusia.

IMG_2084

Ok, maaf sedikit ngelantur. Kembali ke proses mengajar anak kelas lima. Kali ini, rencana saya berjalan sesuai dengan rencana.

Idenya sederhana, seperti sudah dijelaskan di depan tadi. Saya akan membagi mereka ke kelompok-kelompok kecil lalu meminta mereka membuat cerita yang harus sambung dengan kontribusi masing-masing orang. Untuk membuatnya lebih menarik, saya membebaskan mereka memilih tempat bekerja. Malah, saya menggoda mereka untuk keluar dari kelas yang ruangannya membosankan.

“Silakan pilih tempat, boleh di kelas, boleh di luar. Tapi masa di dalam kelas sih?” ucap saya.

Kebanyakan anak-anak itu sumringah, mungkin karena diijinkan untuk keluar kelas. Pilihan lokasi kerjanya pun jadi macam-macam; ada yang memilih di depan kelas, ada yang di musholla bahkan ada yang di halaman depan luar sekolah.

Tugas yang saya berikan pun penuh keisengan. Ada beberapa kalimat jahil, karena memang saya tidak mengonsep kalimatnya sejak dari rumah. Jadi, semuanya spontanitas. Rasanya cukup adil untuk membiarkan proses itu dinapasi oleh faktor spontanitas yang besar.

Misalnya saja, saya memulai tulisan dengan kalimat, “Saya belum mandi tiga hari” atau “Semalam saya makan pecel ayam”. Imajinasi mutlak diperlukan untuk membuat hasil yang beragam dan ide itu tersampaikan dengan baik.

IMG_2129

Tidak semuanya punya hasil menarik, tapi kebanyakan dari mereka punya imajinasi bagus dan menemukan bahwa proses tulis-menulis itu menyenangkan. Asumsi ini saya dapatkan dari setiap tawa dan tepukan tangan yang muncul begitu masing-masing kelompok selesai membacakan cerita mereka. Dari delapan kelompok setiap kelasnya, biasanya lima mendapatkan sambutan meriah. Bolehlah hitungannya.

Metode ini saya ulangi sekali lagi di kelas lima dan sekali di kelas tiga. Dua kelas ini muncul tanpa rencana karena memang semuanya melihat kondisi di lapangan yang memerlukan improvisasi besar.

Senang bahwa ide yang sama bisa dikonsumsi dengan baik oleh anak-anak itu. Itulah yang membuat sunggingan senyum lama bercokol di wajah saya. Di sesi kelas lima kedua, bahkan saya berhasil membuat lebih dari lima orang mengacungkan tangan ketika ditanya siapa yang ingin menjadi penulis. Sebelum sesi dimulai, saya memberikan pertanyaan yang sama dan tidak ada yang mengacungkan tangan mereka.

Di kelas tiga sesi terakhir, juga ada sebuah kejadian lucu di mana sedari awal mulai kelas, saya memilih untuk duduk di meja guru, mengambil posisi yang santai. Pelan-pelan, anak-anak di kelas itu mengikuti cara saya dengan memanjat meja belajar mereka untuk kemudian duduk di atasnya. Guru mereka melihat dari luar sambil tersenyum dan itu adalah sebuah kemenangan untuk niat saya membuat mereka punya pilihan yang tidak seragam dengan tindak-tanduk saya yang apa adanya.

Untuk hal ini, saya berhutang pada John Keating dari Dead Poets Society yang dimainkan dengan sempurna oleh mendiang Robin Williams.

IMG_2119
Kalau dari hitungan pribadi, saya gagal di satu sesi tapi berhasil di tiga sesi lainnya. Skor 1-3. Bolehlah ya?

Tapi, souvenir paling mengesankan hari itu adalah dikejar-kejar anak sekolah dasar yang meminta tandatangan. Entah apa alasannya. Tapi ketika lebih dari dua ratus anak memburu tandatanganmu, ada masalah di situ. Haha: Pegel.

Awalnya, ada beberapa anak meminta memorabilia tandatangan berikut dengan pesan untuk mereka. Tapi pelan-pelan efeknya menjalar dan anak-anak yang sadar belakangan juga meminta tandatangan tanpa alasan yang jelas, mungkin tidak mau kalah dari teman sekitarnya.

Atau, mungkin juga ada dari mereka yang masih menyangka bahwa saya adalah pemain dari serial Mahabarata? Haha.

Kelas Inspirasi Depok yang saya ikuti hari Senin kemarin mengajarkan sebuah hal penting: Bahwa tugas orang dewasa adalah membagi pengalaman dan menanamkan sejumlah nilai penting hidup kepada anak-anak yang jadi masa depan alam raya. Kemasannya bisa masing-masing, tapi kalau dilakukan dengan kadar yang apa adanya, pasti lebih bisa masuk. Manusia lebih bisa menerima sesuatu yang sifatnya asli dan natural ketimbang segudang hal-hal palsu yang dibuat-buat.

Saya berhutang sama anak-anak yang saya temui di SDN Depok Dua kemarin Senin. Dan, saya juga membuka diri terhadap mereka yang ingin berteman setelah sesi kemarin. Saya menyebarluaskan akun Facebook dan Instagram saya untuk mereka follow. Kalau kamu mengikuti saya di dua akun itu, pasti menemukan bahwa ada beberapa anak kecil yang minta difollow back atau mengajak saya ngobrol. Selama masih bisa, kenapa tidak diladeni?

Toh, jauh di palung kehidupan paling dalam, ada satu esensi penting kehidupan: Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk hidup. Terima kasih banyak, Kelas Inspirasi! Tidak sabar untuk ikut serta di kali berikut. (pelukislangit)

Selasa, 21 Oktober 2014
Kopi Tiam Oey, Sabang

*) Tidak banyak foto yang saya ambil, beberapa foto di halaman ini didapatkan dari fasilitator kelompok saya, Bayu.

Kelas Inspirasi - Warm Up

Semua orang pernah kecil. Dan semua orang pernah (dan semoga selalu) ada di dalam fase mengawali mimpi dan menghidupinya. Kadang bisa berhasil, kadang jadi angan-angan kosong di siang bolong. Tapi kalau proses itu tidak pernah dimulai, maka jangan pernah berharap bagian mimpi itu akan terjadi.

Idenya klasik. Tapi sama sekali tidak sederhana. Sebuah tweet dari seorang teman, Wendi Putranto, di sebuah malam benar-benar menggugah saya untuk mencoba sebuah hal yang sebenarnya tidak baru-baru amat; mengajar.

Wendi membagi kisahnya menjadi seorang relawan pengajar di Kelas Inspirasi, sebuah inisiatif yang digagas oleh gerakan Indonesia Mengajar. Idenya adalah membawa profesional kembali ke bangku sekolah dasar dan membagi kisah mereka kepada anak-anak. Tujuannya untuk menyebarkan inspirasi tentang berbagai macam tipe pekerjaan yang mungkin dihadapi di masa depan.

Mungkin, masa depan jaraknya jauh untuk mereka, tapi pengenalan dini akan membantu jaringan-jaringan impian terbangun. Wendi dan pengalamannya menggoda saya untuk mencoba tantangan ini.

Kenapa saya menyebutnya tantangan?

Di dalam sesi briefing yang dilakukan sebagai perkenalan sekaligus pembekalan minggu lalu (11 Oktober 2014), seorang pemateri bilang kurang lebih begini:

“Ini sebenarnya bukan tentang bagaimana kita mengajarkan anak-anak itu, tapi yang berlaku adalah hal sebaliknya; bagaimana kita belajar tentang hidup dari anak-anak itu.”

Saya sepakat dengan si pemateri itu.

Sebelumnya saya sudah punya beberapa pengalaman mengajar. Kebanyakan bicara pada anak kuliah yang memang pola pikirnya relatif sudah terbentuk. Sesi jadi tamu pengajar itu setidaknya membuat saya paham bagaimana dimensi perasaan ketika ada di depan orang-orang banyak yang punya beberapa ekspresi ketika menyimak seluruh omongan yang keluar dari mulut ini.

Tapi bagaimana kalau faktor non teknis jadi bicara lebih banyak ketimbang teknis? Itu yang jadi tantangan.

Dari jadwal yang sudah diberikan, saya kebagian mengajar anak kelas satu dan lima. Yang akan diberikan adalah ide dasar tentang profesi penulis, sesuatu yang lekat dengan diri saya. Di sinilah tantangan dimulai.

Yang kelas lima, mungkin tidak begitu bikin takut. Yang kelas satu yang bikin takut. Proses bikin takut itu levelnya lumayan dalam. Saya sempat sedikit hilang akal karena ada banyak faktor non teknis yang melekat pada sosok saya.

Pertama, wajah saya tidak begitu ramah bagi anak kecil. Saya memelihara jenggot dan berambut sedikit panjang plus karakternya agak seram bin tua. Kelemahan pertama.

Kedua, saya belum punya pengalaman mengasuh anak kecil secara konstan. Selama ini, kalaupun ada kisah interaksi dengan anak-anak di usia kecil, itu pasti sifatnya sporadis dan biasanya ditemani oleh orang dewasa yang sudah mereka kenal.

Ketiga, ada pertanyaan besar di dalam kepala yang sedikit bernada ketakutan itu tadi; apa ya kira-kira yang bisa menempel di diri anak-anak yang celakanya harus bertemu dengan saya nanti?

Yang akan dibagi bukan tentang kisah seorang Felix Dass. Tapi kisah seorang penulis yang merupakan sebuah profesi yang mungkin bisa menjadi pilihan ketika mereka dewasa nanti. Jadi, ini bukan perkenalan tentang sudah sejauh mana saya melangkah, tapi tentang profesinya.

Itu juga sulitnya minta ampun kalau dipikir-pikir. Ok, mungkin saya sedikit overthinking tentang tantangan ini. Tapi, ini benar-benar berat.

Kalau mau berpikir sedikit positif, saya akhirnya menggunakan jasa seorang teman yang kebetulan merupakan guru sekolah dasar. Saya memutuskan untuk menelepon Aprimela Prawidyanti, si guru itu. Beberapa tahun terakhir ini, ia memang berkarya sebagai seorang guru. Saya menceritakan tantangan ini kepadanya.

Awalnya, dari koneksi telepon di seberang sana, ia semacam menyiratkan kebingungan tentang kenapa saya mau melakukan hal ini. Setelah diceritakan, barulah ia sedikit paham. Saya mengorek seluruh informasi yang mungkin berguna dari pengalamannya berurusan dengan anak-anak sekolah dasar itu, terutama tips dan trik untuk mengurus anak kelas satu.

“Gila, Mel, ini sih mendingan gue bikin presentasi buat presiden deh,” ujar saya di tengah-tengah obrolan itu. Karena memang sesungguhnya keadaannya seperti itu; lebih mudah menyusun presentasi untuk orang-orang dewasa ketimbang menyederhanakan kehidupan untuk anak-anak yang belum tahu banyak hal.

Obrolan dengan Mela, lumayan memberi sedikit kisi-kisi tentang kehidupan anak sekolah dasar.

“Elo harus cari sesuatu untuk jadi media komunikasi lo, Lix,” ujarnya. “Mereka nggak bisa dikasih tahu langsung, harus lewat sesuatu yang sifatnya main.”

Kegiatan Kelas Inspirasi yang saya ikuti akan berlangsung di Depok, kota tempat saya bertumbuh besar. Saya kebagian sekolah dasar yang lokasinya tidak begitu sulit untuk dijangkau. Aksinya akan terjadi hari Senin, 20 Oktober 2014, persis di hari Indonesia punya presiden baru.

Sekarang, ada banyak ide sedang bermain di kepala saya. Termasuk di dalamnya ide-ide bermain tentang dunia tulis-menulis. Masalahnya, ide-ide itu harus diuji dalam waktu yang singkat, punya guna tidak untuk anak-anak yang akan saya temui nanti?

Semoga saya punya guna untuk mereka. Fingers crossed. (pelukislangit)

Kedai Tjikini
18 Oktober 2014
20.10
Terima kasih untuk Wendi Putranto untuk inspirasinya
Terima kasih untuk Aprimela Prawidyanti untuk tips dan triknya

Salah satu tempat favorit di muka bumi, pembahasan maraton tentang tulis menulis. Kunjungan ke Ubud kali ini, memulai sebuah tradisi tahunan dalam hidup saya.

IMG_1329

Di blog ini, ada satu tulisan tentang Ubud. Di situ, saya bilang bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat paling indah di dunia bagi saya. Paketnya komplit, karena seolah-olah daya magis yang ada itu muncul dari perpaduan seluruh elemen yang ada di sekitar.

Tulisannya bisa dicek di sini: http://pelukislangit.wordpress.com/ubud2013

Maksudnya, tanpa harus melakukan pencarian yang cukup dalam, Ubud sudah mampu menghadirkan sebuah pengalaman baru yang memberikan kedamaian untuk pengunjungnya. Itu kenapa saya menyukainya.

Misalnya saja, di Ubud, kehidupan berhenti pukul sebelas malam. Usianya tidak tua, tapi ia bisa berkata cukup untuk sebuah hari. Tanpa perlu perpanjangan waktu atau kegiatan tambahan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

Kota besar –kendati saya cinta mati sama Jakarta— terkadang membuat mesin manusia model kita semua soak lebih cepat. Jadi, tidak salah untuk melakukan sedikit penyegaran dengan hidup beberapa hari di suasana yang berbeda. Itu lumrah.

IMG_1355

Saya baru saja menghabiskan waktu nyaris seminggu di tanah Ubud dan mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2014, festival literasi tahunan yang sudah memasuki tahun kesebelas. Festival ini menghadirkan banyak sekali diskusi simultan yang punya topik macam-macam. Ada berbagai tipe ketertarikan yang difasilitasi di festival ini.

Dalam kasus saya, beberapa topik yang menarik dan menarik perhatian ketika program resmi dirilis adalah surfing, adiksi pada substansi tertentu, bahasan tentang Indonesia, makanan atau romantika menjadi travel writer. Membayangkannya saja, sudah lumayan menyenangkan. Apalagi menjalani kenyataan di dalamnya?

IMG_1388

Duduk dan menyimak diskusi maraton itu luar biasa serunya. Apalagi kalau kemudian terjadi pertukaran pikiran yang konstruktif setelahnya. Mungkin termin yang cocok bernama masturbasi pikiran di mana banyak orang dengan berbagai macam latar belakang mengutarakan pandangan mereka terhadap sebuah isu. Ada yang cocok dan banyak yang tidak.

Yang dituntut ada di semua orang adalah kemampuan untuk menerima kenyataan bahwa tidak ada keseragaman dalam proses berpikir dan menyikapi sebuah keadaan.

IMG_1418

Itu adalah oleh-oleh paling bagus yang bisa saya bawa pulang ke Jakarta. Bersama sebuah pertanyaan besar yang bunyinya, “Kalau acara seperti ini terjadi di langit Jakarta, apakah mungkin mendapatkan respon yang kurang lebih sama?”

Pengalaman saya bernama, “First cut is the deepest.”

Selain mengalami berbagai proses diskusi yang efeknya juga macam-macam, saya juga pulang membawa sejumlah buku yang harus dibaca setelah menghadiri diskusi dengan si penulis. Yang paling menonjol adalah pengalaman simultan mendengarkan seorang penulis asal New York bernama Rayya Elias.

Ia punya buku berjudul Harley Loco: A Memoir of Hard Living, Hair, and Post-Punk, from the Middle East to the Lower East Side. Ini adalah buku biografi, genre favorit saya. Ia bercerita tentang jalan hidupnya yang penuh liku dan sejumput usaha keras untuk membuat kisah itu berjalan teguh dalam koridor hidup yang disukai oleh seseorang.

IMG_1455

Kalau membaca sekilas judulnya, ini memang cerita hidup orang yang tidak sederhana. Caranya bertutur penuh dengan kejujuran dan memang selalu sulit untuk bisa berkata jujur tanpa filter terhadap sebuah kejadian, bukan? Rayya adalah seorang junkie yang hidupnya terlalu penuh dengan warna; petualangan seks sesama jenis, scene punk rock, kehidupan pribadi semi arab, narkoba dan tentu saja keberanian untuk mengarungi bahtera hidup.

Inilah inti yang juga penting dari festival model begini; mendapatkan insipirasi dari orang lain untuk kemudian bisa menjalani hidup dengan bahagia.

IMG_1311

Ketika diingat, senang rasanya menemukan diri saya ada dalam kecepatan hidup ala liburan tapi setiap satu jam sekali mengganti ekspektasi di dalam kepala. Kadang juga diwarnai dengan jalan kaki santai yang mencerahkan, jarak tempuhnya bisa dua atau bahkan sampai empat kilometer setiap harinya. Berpapasan lalu melempar senyum pada orang lain yang kebetulan ada di kotak waktu yang sama juga menyenangkan.

Ubud selalu punya ruang untuk itu.

Tidak ketinggalan sejumlah obrolan penuh warna dengan sejumlah orang yang saya temui di perjalanan ini.

Saya menghabiskan beberapa jam di sebuah sore bersama teman lama dari Bandung, Tarlen Handayani dan teman baru yang baru saya kenal hari itu, Catur Ratna. Kami duduk bertiga di sebuah kedai kopi yang lumayan hangat dan tidak mahal-mahal amat kendati berada di poros utama Ubud, mencoba Kopi Bali yang lumayan keras untuk perut saya. Obrolannya mengalir membawa beberapa topik, mulai dari cara apresiasi orang Indonesia yang kikuk sampai ke Partai Komunis Indonesia yang meninggalkan drama besar untuk bangsa ini.

IMG_1445

Lalu, saya juga duduk dalam sebuah “Havana Dinner Date” bersama Liyana Fizi, teman lain yang kebetulan punya poros astrologi yang sama. Sehingga, kami tidak perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri masuk dalam pembicaraan, karena gayanya relatif sama. Obrolan panjang itu membuka persepsi kami tentang bagaimana kehilangan bisa menjadi guru yang baik jika dirayakan dengan tepat.

Anyway, kenapa namanya “Havana Dinner Date”, karena kami melakukannya di sebuah restoran Kuba yang rasanya agak sedikit Melayu. Mereka juga memainkan musik salsa lengkap dengan sejumlah pegawai yang bisa menemani pengunjung untuk turun ke lantai dansa.

IMG_1567

Dengan Liyana juga, kami menutup malam lainnya berbincang bersama Rio Augusta, teman lama saya, dan pasangannya yang tidak sengaja bertemu selepas pertunjukkan Tribute to Lempad yang epic. Epic karena diakhiri dengan hujan deras yang menguji ketabahan untuk tetap tinggal menyaksikan pertunjukkan yang pada akhirnya harus diakhiri karena kehendak alam.

Obrolan-obrolan tanpa ekspektasi ini membuat serangkaian hari menjadi lebih berkualitas. Saya ingat sebuah kalimat milik Yang Mulia Pramoedya Ananta Toer di Bukan Pasar Malam:

“Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan dan biasanya panjang-panjang.”

Nah, hari-hari saya di Ubud pekan kemarin, diisi oleh hal-hal seperti ini. Tiada kata lain yang bisa menggambarkan seluruh kejadian ini selain menyenangkan.

Sekali lagi, Ubud selalu punya ruang untuk itu. (pelukislangit)

Kantor Cengkareng, Kedai Tjikini, Rumah Benhil
9-12 Oktober 2014

Vague - Footsteps (Large)

Ide-ide negatif tentang hidup bisa muncul kapan dan untuk siapa saja. Kemasan-kemasan duniawi ternyata tidak bisa mengendalikan arah perjalanan ke depan dengan absolut. Negativitas –kalau itu merupakan sebuah kata Bahasa Indonesia yang sah— ada di ranah personal.

Vague dengan debut albumnya, Footsteps, merupakan penegasan akan penemuan alam raya tentang betapa indahnya sisi negatif hidup. Profil fisik tiga orang personil band ini, pada awalnya, membuat orang-orang penuh judgement semacam saya beranggapan bahwa mereka adalah anak muda kota besar yang sepertinya baik-baik saja, berkecukupan dan berdiri jauh dari permasalahan hidup. Tapi ternyata tidak.

Lirik-lirik di album Footsteps ini jauh lebih seru ketimbang musik rock penuh amarah yang mereka mainkan.

Dan masalah-masalah pencarian jati diri yang kental tertuang di semua –ya, semua— lirik lagu di album ini, merupakan pertanyaan besar yang terus menerus menarik untuk dibahas. Amarah itu merupakan sekumpulan energi yang terbuncah keluar dan diprovokasi oleh berbagai macam musabab. Penulis lirik sekaligus pemain gitar, Yudhistira, berhasil mengantarkan sebuah kesatuan utuh energi amarah yang mentah ke telinga orang yang mendengarkan album ini.

Coba simak potongan lirik lagu favorit saya di album ini, Inadequate:

I have opened all the doors that lead me through years of questioning
Of reasoning
Of questioning
Of reasoning

But I’ve yet to find a reason to leave it behind
A reason to let it unwind
Unrequited, undefined

Sometimes, I feel inadequate
At times, I feel inadequate

Lagunya menghujam dengan beat cepat dan cara bernyanyi penuh amarah yang kadang terdengar tidak beda dengan orang yang sedang memaki-maki. Dan itu diulangi berulang-ulang di sepanjang album Footsteps ini.

Formula ini ada di setiap jengkal melodi yang dikandung oleh Footsteps. Rock tiga jurus yang bagus ini juga menimbulkan rasa ketagihan bagi mereka yang mendengarkannya. Untuk saya, yang besar di era 90-an, perjalanan mendengarkan Footsteps ini seolah membawa saya kembali ke masa-masa indah itu dan menemukan fakta penting bahwa hidup adalah pertarungan menjadi manusia berlabel baik dengan segala macam dramanya.

Banyak band sejenis hadir di 90-an dan mereka masing-masing berlatar belakang amarah yang sumbernya juga macam-macam. Ada yang emosi setengah mati pada penguasa, perceraian orang tua, diskriminasi di tengah masyarakat majemuk, putus cinta atau bahkan sesederhana karena mereka punya karakter yang penuh amarah saja. Vague seolah tersesat dalam petualangan waktu untuk menjadi salah satu eksponen era itu. Mereka, seolah dilahirkan terlalu lambat sehingga baru menghasilkan album seperti ini di tahun 2014.

Sehubungan dengan negativitas yang ada di ranah personal, perasaan kembali ke masa lalu untuk menikmati napas negatif hidup yang dihadirkan oleh Footsteps itulah yang kadang menjadi pengalaman yang menarik untuk diulang bagi manusia awal 30-an seperti saya. Memori seolah memanggil untuk dikunjungi. Ya, memori lengkap dengan berbagai macam kesulitan yang hadir di era itu. Setiap larik kata dari seluruh komposisi berlirik mereka seolah menjalin romantisme yang indah dalam perjalanan pulang ke teman lama yang mungkin sudah terlalu lama diabaikan.

Vague from Blogspot

Footsteps di bagian lain, juga menjadi pengingat bahwa manusia memang ditakdirkan untuk bernapas dalam berbagai keresahan. Keresahan itu membawa bumbu dalam kehidupan yang mungkin berjalan monoton. Keresahan juga memberi warna segar dalam kehidupan yang mungkin ada di sisi lain yang dinamis. Intinya, keresahan ada di mana-mana.

Baca lirik lagu Dissonance di bawah ini:

We love our mistakes
But we despise regrets
Ideas are unspoken
Fragile faith gets broken

Sometimes, I think the only way to get out is to get inside ourselves and tear it apart

Negatif dan penuh keresahan kan?

Apapun latar belakang ideologi, kelas sosial, sistem hidup dan berbagai macam faktor penentu lainnya, keresahan selalu ada mengintai. Dan ia siap menikam untuk kemudian meninggalkan jejak di dalam kisah seseorang. Itulah arti Footsteps untuk saya.

Trio rock ibu kota ini, selain diperkuat oleh Yudhistira, juga beranggotakan Januar Kristianto di drum dan Gary Hostage pada bas. Dan tiga pemuda ini punya album yang sangat bagus. Footsteps dirilis dalam format kaset oleh Ruangkecil Records dan cd oleh Sonic Funerals Records.

Saya tidak bisa berhenti memutar album ini. (pelukislangit)

Tangerang, 23 September 2014
16.17
Foto Vague diambil dari http://vagueband.blogspot.com

Dead Poet's Society 3

Robin Williams pergi. Semua orang pasti pergi. Yang penting, apa yang ia tinggalkan untuk orang banyak, bukan? Salah satu warisannya berbunyi begini, “I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way.”

Saya berhutang padanya. Dan Dead Poet’s Society. Film itu serta permainan jenius Robin Williams membentuk saya yang hidup pada hari ini.

Secara kolektif cerita John Keating memperkuat karakter saya yang memang dibangun dari sejumlah inspirasi semodel yang seliweran dan menempel seiring waktu berjalan. Disclaimer: Buat saya inspirasi itu dipilih dan ditindaklanjuti dalam ranah personal. Oh ya, satu lagi, Dead Poet’s Society diangkat dari novel karya NH. Kleinbaum.

John Keating dan Dead Poet’s Society menggambarkan interaksi murid dan guru yang membebaskan. Guru dan murid berpadu-padan menjadi partner dan tidak punya hierarki yang lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Di sistem pendidikan Indonesia, hal model begini, bukanlah sebuah kejadian yang lazim ditemui. Yang biasa terjadi, guru hadir untuk ditakuti. Padahal seharusnya tidak begitu. Mungkin lebih ke saling menghargai kali ya?

Membebaskan dalam kisah mereka adalah kemerdekaan untuk mengejar sesuatu yang diminati dan disukai; puisi, seni akting dan teman-temannya yang tidak biasa untuk orang banyak di masa itu. Lingkungan sekolah tempat cerita ini terjadi sangat konvensional. Tingkat kecerdasan dinilai dari angka dan hal-hal monumental yang bisa dijadikan rekor. Persis seperti kondisi pendidikan Indonesia di mana menjadi anak IPS atau Bahasa itu merupakan sebuah cacat nista yang harus ditutupi. Padahal, orang-orang dengan minat murni ke sana layak mendapat tempat yang sama.

LE CERCLE DES POETES DISPARUS

Sosok John Keating adalah antitesis dari sisi konvensional pendidikan yang menurut saya sangat membosankan dan cenderung menciptakan manusia yang tidak terbuka pada ruang perbedaan yang jelas-jelas terbentang lebar di kehidupan sebenarnya. Untuk proses pembukaan mata inilah saya berhutang pada film ini.

Kesetaraan dan pembebasan adalah kunci. Dead Poet’s Society seolah menjadi salah satu pendorong saya untuk berani menerapkan kredo paling tebal dari film itu; “Carpe diem, seize the day, make your lives extraordinary.”

Filmnya sendiri berakhir anti klimaks. Melawan harapan dan selera orang banyak. Tapi, itu memberi sinyal yang tidak kalah kuat, bahwa life is a journey, not a destination.

Dead Poet’s Society dan (dan Kolese Gonzaga pada fragmen cerita yang lain) mengajarkan saya untuk bisa jujur dengan diri sendiri di dalam sebuah perjalanan panjang pencarian jati diri. Termasuk untuk bisa keras pada diri sendiri dengan memaksanya berkata tidak pada hal-hal yang tidak disukai. Berpikir merdeka dan melakukan hal yang disukai dengan tanggung jawab besar adalah warisan yang diberikan oleh hidup pada saya, salah satunya, lewat Dead Poet’s Society.

Romantisme itu, tidak akan hilang dan akan saya ulang di masa yang akan datang dengan membaginya kepada orang-orang baru yang mungkin akan dikenal sepanjang perjalanan. Robin Williams dan John Keating akan selalu hidup dan bersuara di dalam kisah saya.

5.0.2

Semoga sosok itu di manapun ia berada, bisa melihat saya satu hari nanti kembali ke Kolese Gonzaga dan mengajar beberapa jam reguler per minggu. Topiknya tentang profesi menulis yang bisa dikejar dengan konsekuensi berat sekalipun; pergi meninggalkan bangku sekolah yang dianggap tidak memberi guna. Terima kasih, Robin Williams. Have a safe trip. (pelukislangit)

12 Agustus 2014
11.52
Buat Robin Williams.
Gambar dicuri dari internet.

Setelah enam bulan absen, saya mulai berlari lagi. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa saya sudah berhenti berolahraga berbulan-bulan. Padahal, di dalam sejarah hidup saya, ini merupakan sebuah kebutuhan.

Di bangku sekolah, olahraga membuat saya ketagihan. Tapi, jadi manusia dewasa itu selalu sulit, ada banyak kepentingan yang beradu dan membuat segala sesuatu yang sifatnya sekunder cenderung terlupakan. Termasuk olahraga.

Nah, libur lebaran kali ini, saya tidak pergi kemana-mana dengan berbagai alasan. Ini kejadian pertama dalam tujuh tahun terakhir. Biasanya, saya sudah punya rencana banyak; mau ke sana, mau ke situ. Tapi kali ini tidak. Jadi, agendanya memang menikmati Jakarta.

Saya sedang punya sebuah proyek menyenangkan yang harus diselesaikan. Dan pilihan lokasi untuk menyelesaikannya ada di Jakarta; lebih tenang, hemat ongkos dan karena kotanya sedang sepi, maka unsur kesunyian bisa didapatkan dengan mudah.

Jadi, selama libur panjang ini, agenda saya tetap lumayan terstruktur; bangun pagi, mengerjakan proyek dan menyudahinya di sore hari. Rasanya tetap mirip dengan agenda kantoran tapi kali ini untuk proyek pribadi. Kedisplinan untuk mengerjakan proyek ini tetap terjaga.

Nah, di tengah proses mengerjakannya, saya tiba-tiba mendapatkan link untuk menyaksikan video brengsek ini:

Video ini lumayan bikin mikir dan memprovokasi. Jadilah, coba diterapkan. Hitung-hitung mencoba hal baru yang lucu juga kalau dipraktekan. Intinya adalah membangun interaksi dengan banyak orang.

Hari Minggu kemarin, atau pas malam takbiran, saya makan malam dengan Lucia Nancy, seorang teman yang karakternya lumayan unik; dia merupakan seorang guru renang, aktivis social media dan perempuan yang mau menukar tatapan mata ketika berbicara panjang lebar. Unik karena punya dua jendela kehidupan; satu di social media dan satu di dunia nyata.

Perempuan ini sangat energik. Salah satu bagian yang menyenangkan adalah ketika kami berbicara tentang olahraga. Saya bilang betapa merindu akan kehadiran olahraga di dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga cerita bahwa olahraga sendiri di gym kantor, rasanya kurang ok. Pernah dicoba lalu kemudian kehilangan selera.

Dia lalu, menceritakan interaksi dengan sejumlah murid kecil yang ia asuh sehari-hari. Membagi kisah tentang cara mereka berlatih renang, ribetnya mengasuh anak yang tiba-tiba grumpy karena urusan rumah dan beberapa hal lain.

Dan tiba-tiba tercetuslah sebuah kalimat penting, “Apa besok kita lari aja, Cy?”

Kami tertawa. Tidak menganggap kalimat itu serius. Kami kebetulan tidak merayakan Idul Fitri, tapi kebagian libur panjangnya. Oleh karena itu, tidak ada agenda silaturahmi ke rumah saudara atau berkunjung ke rumah teman-teman. Dengan sendirinya, ada banyak waktu harus dihabiskan.

Malam berakhir dan kami pulang. Kalimat tadi masih tidak dianggap serius sampai kemudian keesokan harinya ia meninggalkan pesan di ponsel saya.

“Lix, jadi kepikiran. Apa kita lari aja sore ini?” begitu ucapnya.

Karena membacanya sebangun tidur, saya perlu waktu untuk sedikit mencernanya. Beberapa waktu kemudian, saya membalasnya, “Ayok. Sore aja ya. GBK?”

Akhirnya kami sepakat berjanji untuk bertemu sore harinya. Dengan catatan, ia tidak boleh menggunakan standar atletnya. Harus mengikuti cara saya berlari dan santai. “Supaya tidak terintimidasi,” pikir saya dalam hati.

Perempuan ini sudah pernah ikut lari yang serius berkilo-kilometer itu. Plus, pekerjaannya di bidang olahraga. Jadi, sudah pasti kondisi fisiknya jauh lebih baik ketimbang saya. Saya harus memastikan bahwa ia tidak akan mengintimidasi saya dengan target pribadinya. Haha. Dan ia menyanggupi.

“Udah lama nggak lari gini sih. Ada kali sebulan,” ujarnya. Buset! Sebulan dibilang lama. Apa kabar dengan saya yang sudah lebih dari enam bulan?

Akhirnya, kami siap berdiri di salah satu pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Menu pertamanya jalan santai keliling di perimeter luar. Sembari jalan, kami ngobrol ngalor-ngidul.

Tiba-tiba, saya menemukan sebuah adegan yang seru. Adegan di mana pembicaraan dengan seseorang sama menariknya dengan jalan santai yang dilakukan. Ketika kami berlari pun, kami masih sembari ngobrol. Memang, lebih menguras energi, tapi kok larinya jadi menyenangkan ya?

Tanpa terasa, saya mencatat sebuah pencapaian penting: Lari satu kilometer tanpa berhenti. Gila! Ini belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir kayaknya. Biasanya paling hanya beberapa ratus meter lalu break. Lalu kemudian lari lagi. Begitu seterusnya berulang.

Poin pentingnya terekam: Ngobrol jadi menu utama. Namanya, ngobrol sambil lari. Bukan lari sambil ngobrol.

Lari sama Sesa

Ini sebenarnya bergantung pada obyektifnya apa. Kalau saya kan hanya cari napas panjang dan gerak, harusnya tidak menjadi masalah. Tapi beda obyektifnya kalau misalnya mau mencatat rekor personal tentang kecepatan dan jarak tempuh. Cara ini tentunya tidak obyektif. Jadi, harus tanya sama diri sendiri dulu, mau yang mana? Toh, olahraga efeknya selalu personal. Sudah tidak lagi untuk dibanding-bandingkan untuk saya.

Sesi kami malam itu dibubarkan oleh hujan deras yang tiba-tiba muncul. Hanya dapat tiga putaran –dua jalan santai, satu lari santai—. Ada suatu yang tinggal di dalam diri saya dan menanti untuk diseriusi lebih dalam lagi di hari-hari berikutnya: Lari itu ternyata lebih penting ‘dengan siapanya’ ketimbang ‘bisa semananya’.

Eksperimen berlanjut. Selang sehari setelah recovery, saya mengontak dua orang teman saya yang lain, Berry Muchtar dan Kurniawan Bambang.

“Eh, lari yuks sore-sore. GBK aja,” ajak saya kepada mereka.

Setelah beberapa jam, bertemulah kami di rumah saya sekitar pukul enam sore lalu kemudian bertolak ke GBK lagi. Nah, geng ini obyektifnya agak beda. Wawan sedang menyiapkan diri untuk ikut maraton beberapa bulan lagi. Jadi, dia agak ambisius karena punya target sendiri.

Sementara Berry, mirip sama saya, yang penting gerak. Dia tapi lebih reguler ketimbang saya dalam hal frekuensi berlari. Akhirnya, kami memulai skenario yang sama dengan jalan kaki santai dulu sembari membiarkan Wawan berlari lebih kencang mengejar targetnya.

Lagi, saya dan Berry malah lebih asyik mengobrol. Semacam catch up tentang hidup masing-masing dan bercerita tentang banyak hal yang kalau diingat-ingat jadi susah untuk diceritakan kembali –maklum, tipe pembicaraan dengan teman-teman baik yang selalu berakhir dengan keadaan seperti ini—.

Setelah lari satu kilometer, saya berhenti. Sementara Berry lanjut. Wawan, entah sudah ada di mana. Anyway, saya lebih suka berlari melawan arah. Jadi, akan berpapasan dengan banyak orang.

Tanpa sengaja, saya bertemu dengan Mya Santosa. Ia juga merupakan seorang teman lama yang kalau ngobrol seru. Saya sedikit memaksanya untuk balik arah dan jalan mengikuti pola saya. Kami kemudian ngobrol ngalor-ngidul tentang kebutuhan untuk olahraga dan berlari. Tidak berapa lama, teman berolahraganya –yang memilih untuk bersepeda— datang dan kami malah sempat ngobrol lagi. Sayang, mereka harus segera beranjak pergi. Maklum, sudah cukup dan mungkin punya agenda lain. Saya jalan lagi.

Tidak berapa lama di depan, Berry dan Wawan sudah menepi sambil jalan santai. Saya menghampiri mereka. Dan kami bertiga jalan santai lagi.

Ngobrol lagi. Kali ini lumayan lucu karena ada Wawan, salah satu teman kami yang paling humoris. Di putaran kedua, kami menghajar lagi satu kilometer lari santai dan kemudian berjalan. Total, kalau mau dihitung, kami jalan lebih dari tujuh kilometer hari itu.

Dua sesi lari yang saya jalani, mirip tapi sedikit beda. Yang menjadi pembeda adalah orang yang ditemui di dalam sesi itu. Rasanya seperti ngobrol paralel dengan beberapa orang. Kali ini sama si situ, besok sama si itu, lusanya sama si itu. Benang merahnya adalah ngobrol dan berinteraksi dengan orang.

Dulu, ketika masih aktif berolahraga dengan dosis yang tinggi, saya selalu melakukan olahraga tim. Main sepakbola, basket, pingpong atau apalah yang sifatnya permainan. Itu perlu teman untuk berbagi. Dan setelah dipikir-pikir, itu yang dirindukan.

Kota besar, dalam suatu masa, bisa membuat saya tersesat. Interaksi langsung dengan orang, seperti yang disajikan dalam video yang saya sebut di atas sebenarnya menjadi inti dari kegiatan itu. Sembari mendayung, dua tiga pulau tercapai. Akhirnya jadi seperti itu.

Saya paham, apa yang ternyata hilang; saya memutuskan untuk malas lari sendiri. Padahal, dulu waktu kerja di SCBD, agenda lari lumayan rutin. Bahkan sempat beberapa kali lari sendiri bertemankan musik. Angle olahraga dan obyektif yang ingin dicapai itu yang selalu harus dipertanyakan. Setelah mendapatkan ide dan diseriusi, barulah ketahuan enaknya gimana.

Dan saya memasuki fase baru yang bernama ketagihan ketika saya mengajak seorang teman lain, Sesarina Puspita, untuk berlari sore-sore di Taman Suropati. Lokasinya beda dengan dua sesi sebelumnya.

Sesa ini karakternya berbeda dengan Ucy, Berry, Wawan dan Mya. Jadi, obrolan dengannya juga punya variasi yang lain. Yang satu ini, lumayan kompetitif. Jadi, ketika saya memulai lari dengan kecepatan yang sangat rendah, dia terprovokasi untuk melebihinya.

“Ah, elo tuh kalau lari gigi satu, Lix. Naik kek ke gigi dua,” katanya. Padahal trek yang kami pilih lebih kecil ketimbang GBK. Jauh lebih kecil. Jadi, kalau di Taman Suropati, setidaknya saya bisa dua-tiga putaran nonstop. Sementara, kalau di GBK, baru bisa sekali putar nonstop.

Lari di Taman Suropati juga lumayan seru untuk people watching. Sesa ini, orangnya lumayan seru kalau diajak untuk menjudge orang yang kita temui di sepanjang perjalanan. Hanya untuk sekedar bergunjing lalu tertawa. Jadi, lumayan menyegarkan.

Tiga sesi pengalaman lari saya kok jadinya menyenangkan ya? Semacam menimbulkan sebuah efek baru dari olahraga yang sudah lama tidak saya rasakan.

Benar-benar satu-dua-tiga pulau terlampaui kalau gitu; ketemu dengan teman, catch up dan berolahraga. Karena waktu, tidak pernah bisa diulang dan mungkin kita bisa kelewatan banyak hal kalau hanya menunggu sesuatu datang.

Yang juga seru kalau lari malam, seselesainya pasti letih. Jadi, sampai rumah tinggal mandi dan tidur. Besoknya bisa bangun pagi. Ritme hidup juga bisa lebih menarik. Ada alternatif cara menjalaninya. Dan itu menyegarkan.

Misi berikutnya untuk saya pribadi, adalah mempertahankan kebiasaan ini di hari kerja. Sudah ada beberapa ide, misalnya saja lari malam sepulang kerja dengan orang-orang berbeda atau lari pagi-pagi untuk mengejar fitness diri sendiri. Kita lihat, saya kalah sama kota besar atau tidak. Seperti yang sudah pernah saya bilang, Jakarta ada untuk ditaklukan, bukan untuk dikeluhkan.

Jadi, yang mau lari sambil ngobrol-ngobrol sepulang kerja, kabari saja ya. (pelukislangit)

1 Agustus 2014
Rumah Benhil

Apa yang membuat potret seorang pemimpin layak dipajang di dinding rumah?

Foto Foto Tanda Tangan

Dua orang penting dalam hidup saya di masa lampau, kakek kandung dan seorang nenek sepupu, memasang potret Soekarno di rumah mereka. Ketika ditanya kenapa, jawabannya relatif sama; Soekarno, menurut mereka, memberikan inspirasi dan layak diabadikan. Sumbangsihnya kepada bangsa ini luar biasa besar dan ia ada di dinding-dingding mereka karena sosoknya bersemayam di hati.

Dari alasan sederhana itu saya jadi paham, kenapa potret seorang pemimpin harus terpajang di dinding di rumah orang-orang berstatus rakyat biasa.

Keluarga saya bukanlah teman dekat pemerintah. Alkisah yang sedang saya raba dengan samar, mungkin membawa kami secara turun-temurun ada di posisi yang berseberangan dengan penguasa. Lebih dari sepuluh tahun setelah kedua sosok di atas meninggal dunia, saya terjebak dalam sebuah pemikiran baru untuk memasang potret seorang pemimpin di dinding rumah saya.

Fotografer Poriaman Sitanggang mungkin bisa dimintai pertanggung jawaban akan ide ini. Sebuah malam larut di FX beberapa tahun yang lalu, menjadi awalan, saya datang ke sebuah galeri dan menemukan sebuah sisa undangan pameran yang sudah selesai. Pameran berjudul Magnet of Jokowi-Ahok itu menampilkan foto-foto yang diambil Sitanggang ketika mengikuti Joko Widodo dan Ahok berkampanye untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Foto-foto Sitanggang menggambarkan sebuah sosok yang intim dengan konstituennya. Imaji akan politisi yang luar biasa tidak menarik –karena penuh dengan kebohongan dan omong kosong—, seolah bisa diubah oleh gambar-gambar yang saya lihat di ruang pamernya itu. Walau tidak lengkap, karena hanya tinggal sisa-sisa, serangkaian gambar itu menempel. Joko Widodo memulai sebuah karir politik di pentas yang lebih besar dengan kemasan sederhana; bisa diterima oleh orang banyak lewat sebuah kesederhanaan itu sendiri.

Cerita selanjutnya, tentang Joko Widodo, rasanya sudah kita ketahui semua. Basi jadinya kalau diulang lagi.

Tapi, cerita selanjutnya yang kita ketahui bersama itulah yang membuat saya memutuskan untuk memburu tanda tangan Joko Widodo untuk dibubuhi di gambar undangan itu. Posenya luar biasa hebat. Gambarnya bisa bicara dan mengajak orang membayangkan ada di dalamnya. Seperti ini kurang lebih:

Jokowi Felix Yaw (8)

Saya pernah bekerja dengan beliau dari dekat di Kuala Lumpur dalam sebuah kerja sama bisnis. Tapi, saya gagal untuk menyetopnya ketika ia sedang bekerja melakukan studi banding pengelolaan air dan kereta monorail. Tujuannya kerja dan saya tidak punya nyali untuk mencuri waktunya.

Undangan itu masih terpajang rapi di rumah saya. Bentuknya tidak besar, mungkin hanya seukuran A4 dibagi empat. Tapi, saya sudah mengulangi apa yang dilakukan oleh dua pendahulu di atas; menyimpan potret pemimpin di rumah.

Hari Jumat, 25 Juli 2014 yang lalu, kesempatan datang lagi. Saya tiba lebih pagi di kantor karena memang punya janji dengan sejumlah kolega pada pukul sembilan pagi. Belum lengkap kaki melangkah memasuki gedung kantor, telepon bordering. Karena fotografer kantor yang sekarang sering beraksi sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, saya diminta untuk mengambil gambar sebuah peristiwa penting: Joko Widodo beserta rombongannya akan menggunakan jasa perusahaan tempat saya bekerja.

Jokowi Felix Yaw (1)

Tentu saja saya tidak menolak. Begitu mengetahui jadwal dan mengurus segala tetek bengek untuk bisa masuk ke dalam rombongan yang bekerja melayani penerbangan hari itu, saya langsung bersiap. Ide paling dasarnya sudah ketebak: Mencetak fotonya yang saya jepret di Gelora Bung Karno (GBK) beberapa hari sebelum pemilihan umum awal bulan ini.

Karena tidak ada mesin cetak berwarna di sekitar saya, sebuah kertas A4 kosong jadi pilihan. Foto dibikin hitam putih dan langsung dicetak. Skenario yang dibangun adalah meminta tanda tangan Joko Widodo untuk kemudian dibingkai dan dipajang di rumah.

Foto yang saya hasilkan di GBK beberapa minggu yang lalu itu merupakan salah satu foto favorit pribadi. Saya berhasil merekam ekspresi tenang yang jadi salah satu benang merah paling tebal dari sosok Joko Widodo.

Ok, amunisi sudah disiapkan. Tapi, fokus utama adalah mendokumentasikan momen berharga ini. Karena memang tugas yang diberikan oleh orang kantor adalah itu. Sekitar pukul satu siang, rombongan bertolak dari kantor menuju Bandara Soekarno-Hatta. Saya turut serta sejak positioning flight dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdanakusuma.

Jokowi Felix Yaw (3)

Rombongan Joko Widodo merapat beberapa jam kemudian. Sekitar dua puluh menit sebelumnya, Iriana Widodo tiba di ruang tunggu. Pembawaannya begitu sederhana, terlepas dari tas dan sepatu mahal yang ia kenakan. Ia tampak sangat apa adanya; dandan tidak berlebihan dan jadi dirinya sendiri.

Ada satu kejadian lucu, ketika melangkah masuk ke dalam ruangan, Joko Widodo langsung disambut oleh orang banyak yang ingin bersalaman dengannya. Jangan bayangkan sebuah scene lapangan di mana ia dikerubuti orang banyak. Ini hanya sederhana karena memang ruang tunggu itu tidak terlalu besar. Setelah meladeni semua orang yang ingin bersalaman dengannya –Joko Widodo yang bergerak, bukan orang yang ingin bersalaman dengannya yang bergerak— ia tiba-tiba sudah melewati posisi Iriana Widodo menunggu.

Jokowi Felix Yaw (2)

Seorang ajudan menyadarkannya. “Pak, itu ibu ada di belakang,” ujar ajudan itu. Sontak, ia langsung berbalik badan dan sedikit menggerutu lucu kepada si ibu. Scene ini menarik sekali, bagaimana seorang suami seperti menemukan istrinya yang ketelisut. Hubungannya nampak sangat cair dan tidak diselimuti protokoler yang ribet.

Sekedar informasi, rombongan Joko Widodo ini punya standar pengamanan yang lumayan ok. Setidaknya ada lebih dari sepuluh pengawal yang ditugasi oleh negara –bukan swasta, tapi mereka merupakan anggota TNI/ Polri— di sekitarnya. Bentuknya kesaru. Begitu juga senjata pengamanan yang dibawa. Standarisasi pengamanannya sangat bisa diterima, tapi yang lebih bikin kagum adalah sifat mereka mengamankan si presiden terpilih. Tidak tampak cara pengamanan super kaku yang biasanya didapati menempel di sosok seorang pejabat publik. Dari awal sampai akhir, rasanya si Joko Widodo ini memang benar-benar menjalankan prinsip yang sering ia gembar-gemborkan; ingin dekat dengan rakyat dan memosisikan diri sebagai pelayan publik yang bisa dijangkau oleh masyarakatnya. Ia pelayan, bukan pemerintah.

Anyway, setelah diperhatikan baik-baik, ia nampak lelah. Raut wajahnya seperti ada di dalam indikator energi yang rendah. Setelah acara seremonial foto bersama dan salaman yang tidak henti, akhirnya ia tiba di tangga pesawat yang telah menunggu. Adegannya standar, termasuk ditunggu wartawan yang sudah dipersilakan masuk lebih dulu untuk selfie sejenak di depan tangga pesawat. Itu juga masih dilayani.

Jokowi Felix Yaw (4)

Ini level selebritinya bukan main. Semua nampak ingin bersalaman dengan Joko Widodo, menunjukkan bahwa ia memang dicintai orang.

Semua prosedur keselamatan dijalankan, tapi si orang yang jadi pusat perhatian ini langsung terlelap. Mungkin, saat-saat di dalam perjalanan seperti ini benar-benar harus dimanfaatkan. Maklum, waktu jadinya terbatas kalau harus melayani perhatian banyak orang.

Di sisi lain, seluruh kebutuhan pekerjaan saya sudah selesai dilakukan. Tugas profesional saya bisa dipinggirkan berarti. Setidaknya dua kali saya mondar-mandir ke toilet depan untuk memastikan apakah Joko Widodo sudah terbangun dari tidurnya atau belum. Saya mulai resah.

Resah karena tahu dengan pasti bahwa waktu untuk meminta tanda tangan itu semakin sempit. Ada di dalam pesawat dan duduk dekatnya adalah kesempatan paling baik untuk menunaikan niat ini. Di sebelah saya, salah seorang pengawalnya duduk, ia juga ingin istirahat.

Jokowi Felix Yaw (5)

Saya menyempatkan diri untuk menyolong waktunya mencuri trik bagaimana agar bisa meminta tanda tangan si bapak.

“Pak, ini saya mau minta tanda tangan di atas foto saya ke bapak. Enaknya kapan ya?” tanya saya sembari menunjukkan hasil foto saya yang sudah dicetak sebelumnya.

“Ah, kalau dia bangun, samperin aja, mas. Orangnya enak kok buat gini-gini. Nggak masalah dia pasti,” jawabnya santai seolah hal-hal seperti ini memang sudah biasa terjadi.

“Bener, pak?” saya mencoba memastikan walaupun sudah yakin bahwa si bapak pasti tidak akan menolak permintaan saya.

“Iya, dia kayak gitu emang, bisa stop kapan aja buat ngobrol sama orang. Kita juga harus lihai mengawalnya. Tapi nggak masalah kok kalau gitu, silakan aja,” jawabnya lagi mengulang hal yang sama.

Akhirnya, setelah menunggu lumayan lama, pesawat menunjukkan tanda-tanda akan mendarat. Ia terbangun. Teman saya yang bertugas menjadi flight attendant di penerbangan itu memberi kode bahwa ia sudah bangun. “Ok, begitu landing, langsung saya buru,” pikir saya dalam hati.

Benar saja, begitu pesawat sudah stabil dan makin memelan mendekati terminal, saya bangkit berdiri dari kursi saya. Langsung menyambangi kursi tempat ia duduk.

Tanpa basa-basi, saya langsung menodongnya.

“Selamat sore, pak. Saya mau minta tolong, kemarin saya ambil gambar bapak di GBK. Boleh ditandatangani nggak, pak? Buat dipajang di rumah. Itu bersejarah sekali konsernya,” cerocos saya padanya. Ia menyimak kata-kata saya.

“Iya,” balasnya singkat kemudian.

Iriana Widodo yang duduk di sebelahnya ikut berbicara, “Fotonya bagus.”

Saya tersenyum ke arah mereka sambil melihat Joko Widodo yang nampak kebingungan meletakkan tanda tangannya di mana.

“Buat Felix ya, pak. Bisa di mana saja tekennya. Bebas. Tulisan Felixnya kayak gini ya,” kata saya sembari menunjukkan ID Card yang memuat nama lengkap saya.

Ia membalas singkat lagi, “Iya.”

Saat ia membubuhkan tanda tangannya, saya menjepret beberapa foto. Buat saya, itu lebih penting ketimbang bisa berfoto bersama.

Jokowi Felix Yaw (7)

Adegan itu berlangsung cepat. Yang paling gila, adalah ketika selesai dan menyerahkan kertas itu kepada saya.

Sambil menjabat tangan saya, ia berbicara singkat, jelas dan padat, “Terima kasih ya, mas.”

Saya mendadak gila. Seorang presiden terpilih bilang terima kasih kepada kamu? Apakah ini nyata? Atau tidak nyata? Saya tidak percaya kalimat itu mengalir darinya. Catat: Inisiatifnya datang dari dia!

Gestur itu luar biasa keren dan mungkin tidak akan saya lupakan sepanjang usia. Itu semakin menunjukkan kalau ia memang orang biasa yang kebetulan perannya memimpin Indonesia. Tidak lebih. Saya tidak sedang bertemu dengan seorang pejabat, tapi saya sedang bertemu dengan seorang rakyat Indonesia yang posisinya sama tinggi dengan saya.

Makin sah bahwa tanda tangan itu harus dipajang di rumah saya. Hal-hal kecil model begini yang buat ia bisa diterima orang banyak. Sekaligus secara instan membuat saya paham, kenapa harus memasang potret seorang presiden di rumah.

Terima kasih, Joko Widodo. Selamat memimpin Indonesia. Tuhan berkati. (pelukislangit)

27 Juli 2014 – Rumah Benhil
29 Juli 2014 – Rumah Benhil

Jokowi Felix Yaw (6)

Hello!

My name is Felix Dass. I'm building surprises on someone else's tales.

Pembagian Cerita

Felix Dass on Twitter

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 55 other followers